Orang Bajau, Laut, dan Perubahan Iklim

Saturday, 2 March 2013 0 komentar



JAUH sebelum Columbus melarungi laut dan membawanya menemukan benua Amerika, telah ada manusia-manusia yang mengambil laut sebagai alam hidup mereka. Mereka ini hidup tinggal di laut. Mereka seperti para pengelana di darat, melanglangi laut dengan hanya memakai perahu yang dinamai oleh mereka Soppe. Mereka ini adalah orang-orang Bajau, ada juga yang menyebut mereka Bajo, tetapi mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai orang Sama.

Sulit memisahkan Bajau dari laut, sama sulitnya seperti menjauhkan api dengan panasnya. Laut adalah Bajau, Bajau adalah laut. Jika Romawi dan Mongol tersohor digdaya di darat, maka tak ada kalah digdaya berjayanya suku Bajau di laut. Tak ada satu komunitas manusia yang bisa bertahan larung terapung-apung di lautan dalam tahunan lamanya selain hanya orang-orang Bajau. Mereka lahir dan bertumbuh, hidup bahkan mati pula di laut. Tak ada komunitas manusia yang digelari sebagai manusia laut, hanyalah mereka saja—orang-orang Bajau.

Bagi orang Bajau, laut adalah segalanya. Laut merupakan cermin kehidupan masa lalu, kekinian, dan harapan masa depan. Laut juga dianggap sebagai kawan, jalan, dan persemayaman para leluhur. Begitu dekat akrabnya dengan laut, seorang Bajau telah dikenalkan kepada laut sejak dari bayinya, bahkan sejak masih dalam kandungan. Tuhan telah memberikan dunia ini dengan segala isinya, manusialah yang memikirkan bagaimana cara memperoleh dan mempergunakan pemberian-Nya itu. Begitu cara pandang hidup mereka.


***

Dalam kehidupan manusia tumbuh tradisi, perilaku atau pengetahuan tentang suatu objek yang berkembang sesuai kedekatan manusia dengan alam sekitar dan tantangan yang dihadapinya. Pemahaman manusia terhadap alam serta bentuk perilaku manusia akibat kedekatan dengan elemen ekologisnya itu membentuk kearifan lokal masayarakatnya.

Nilai-nilai tradisi, sikap dan perilaku berwawasan ekologis dalam tatanan kehidupan masyarakat lokal membentuk kecerdasan ekologis suatu masyarakat. Nilai lokal ini dapat kita lihat hidup tumbuh pada masyarkat pesisir. Orang-orang Bajau tampaknya masih begitu memegang tradisi menjaga normalisasi hubungan alam dengan manusia. Ini tentu memberi pengaruh yang baik dalam pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian ekosistemnya.

Ada banyak dari mereka, terutama para kalangan tua meyakini bahwa kebaikan alam hanya bisa didapatkan dengan memperlakukan alam juga itu dengan baik. Maka kemudian mereka membikin ritual-ritual dan segala yang menjamin berlangsungnya kehidupan seimbang saling membaikan antara alam dan manusia.

Segala pantangan yang mencemari laut dihampar sebagai ritual yang itu kemudian rutin dilakukan dalam masyarakat Bajau. Banyak dari generasi mereka menjadikan ritual itu sebagai media menggumuli laut, mengintiminya, menunjukan kecintaannya. Di dalam kehidupan manusia bermasyarakat telah tumbuh tradisi yang diwarisi turun temurun, misalnya yang berlaku bagi msyarakat pesisir dan ternyata cukup efektif dalam mengelola sumber daya alam, serta upaya pelestarian ekosistem laut dari aktifitas yang bersifat destruktif dan merusak

Tradisi, kebiasaan atau perilaku ini tumbuh dan berkembang sesuai kedekatan manusia dengan alam di sekitarnya dan tantangan yang dihadapinya. Ini merupakan kearifan lokal yang mewarnai kehidupan masyarakat. Kearifan lokal dipandang sebagai tindakan dan sikap manusia terhadap sesuatu objek atau peristiwa yang terjadi dalam ruang tertentu. Substansi kearifan lokal adalah berlakunya nilai-nilai yang diyakini kebenarannya oleh suatu masyarakat dan mewarnai perilaku hidup masyarakat tersebut. Tindakan nyata, sikap dan perilaku manusia terhadap lingkungan yang mengandung nilai-nilai pelestarian ekosistem adalah bagian dari kecerdasan ekologis suatu masyarakat.


Di Mola, sebuah desa kecil di Selatan Wanci, Wakatobi Sulawesi Tenggara, hidup bertinggal komunitas Bajau. Mereka tinggal di rumah-rumah apung atas laut, beberapa diantaranya bahkan jauh dari pesisir. Saya melihat dari dekat bagaimana mereka memuja laut sebagai alam tinggal mereka. Laut bagi mereka adalah alam tinggal dan sekaligus sumber hidup. Maka kemudian memperlakukan alam laut itu dengan baik adalah sebuah kewajiban bagi mereka.

Kita tidak akan menemukan kotoran akan dilempar dilayangkan serampangan ke laut. Mereka sangat menjaga agar laut terus bersih, jauh dari kerusakan. Maka jangan heran di bawah kolong rumah-rumah suku Bajau, ikan-ikan bergerombol girang, bercericit saling mengejari. Sepertinya mereka tak terganggu dan merasa manusia-manusia di atas kepala mereka itu adalah sahabat.

Kedekatan emosional masyarakat Bajau dengan laut memunculkan adanya tradisi yang mereka namai Mamia Kadialo. Tradisi ini adalah pengelompokkan orang ketika ikut melaut dalam jangka waktu tertentu serta sarana/perahu yang dipakai. Paling tidak ada tiga kelompok dalam tradisi ini, yaitu (1) Palilibu, (2) Bapongka, dan (3) Sasakai. Palilibu adalah kebiasaan melaut yang menggunakan perahu dayung jenis kecil yang mereka namai Soppe. Kegiatan melaut jenis ini hanya dalam satu atau dua hari kemudian kembali pulang. Bapongka adalah kegiatan melaut selama beberapa minggu bahkan bulanan dengan menggunakan perahu besar yang dinamai Leppa atau Sopek. Mereka biasa membawa keluarga ikut serta, bahkan ada yang hingga melahirkan anak di atas perahu. Sasakai adalah melaut dengan menggunakan beberapa perahu selama beberapa bulan dengan wilayah jelajah antarpulau.

Selama melaut itu beberapa pantangan baik bagi yang ditinggal maupun yang sedang melaut diharuskan patuh ditaati. Pantangan itu mengenai hal-hal yang tak boleh dilakukan selama dalam pelayaran melaut itu. Seperti dilarang membuang ke laut air cucian teripang, arang kayu atau abu dapur, puntung dan abu rokok, air cabe, jahe dan air perasan jeruk. Dilarang pula mencuci alat memasak/wajan memakai air laut.


Segala kotoran itu hendaknya ditampung untuk nanti dibuang ke daratan. Selama dalam melaut itu, orang-orang Bajau tak pula memakan daging Penyu. Mereka meyakini jika itu dilanggar maka petaka akan datang mengenai mereka dalam wujud angin badai, gangguan roh jahat dan segala musibah lainnya.

Pada kaum tua mereka bahkan jauh sebih kukuh percaya. Mereka meyakini gugusan karang tertentu sebagai tempat bersemayam arwah para leluhur. Oleh karena itu mereka melarang anggota keluarganya menangkap ikan dan biota lainnya di sekitar gugusan karang itu kecuali terlebih dahulu harus melalui ritual larung sesajen sebagai penghormatan kepada para arwah leluhur itu.

Ritual dan segala pantangan itu adalah kearifan lokal (Lokal Wisdom) yang juga bisa disebut sebagai kecerdasan lokal (Inteligentia Wisdom). Ada kesadaran dari komunitas mereka untuk terus menjaga alam laut tempat tinggal hidup mereka itu tidak tercemari. Segala kotoran yang dipantangi adalah limbah yang bisa merusak dan membuat laut tercemari sehingga mengancam ekosistem dan pelestarian biota laut.

Kedekatan masyarakat Bajau dengan laut dan pesisir, menjadikan mereka memiliki berbagai pengetahuan lokal tentang gejala-gejala alam. Pengetahuan itu diketahui dan telah diterapkan sejak mereka masih dalam kanak-kanak. Mereka belajar alami otodidak dari generasi pendahulu mereka. Di tengah terjadinya kerusakan atmosfir bumi yang memicu terjadinya perubahan cuaca dan memacu gerak anomali iklim, suhu yang menaik panas melewati kadar wajar seharusnya menjadikan segalanya sulit diprediksi.

Apa yang selama ini diketahui sebagai kearifan lokal itu telah tak selalu tepat prediksi. Pengaruh perubahan iklim yang melanda bumi karena pemakaian energi berlebih, efek dampaknya jatuh mengenai seluruh warga bumi, tak terkecuali orang-orang Bajau. Diperlukan upaya dari lembaga yang berkompeten untuk meluaskan pengaruh akan dampak perubahan iklim bagi masyarakat awam.

Salah satu lembaga yang mengambil peran pada upaya itu adalah Oxfam. Oxfam adalah sebuah lembaga konfederasi internasional dari tujuh belas organisasi yang bekerja bersama di 92 negara sebagai bagian dari sebuah gerakan global untuk perubahan, membangun masa depan yang bebas dari ketidakadilan akibat kemiskinan. Oxfam ikut berkontribusi pada upaya meciptakan kualitas hidup lebih baik dengan mengambil peran pada upaya memberangus ketidakadilan yang disebabkan oleh kemiskinan, membangun masa depan lebih baik bagi seluruh penghuni bumi.

Selamatkan bumi, Selamatkan kearifan lokal.

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB