Muasal Datang Orang Katolik di Muna Selatan

Sunday, 3 March 2013 0 komentar


DAVID Salmon Pella, seorang penebang pohon dari pulau Rote, Flores Nusa Tenggara Timur datang di Muna. Ia adalah seorang mandor para pekerja lokal yang bekerja untuk perusahaan kayu Vejahoma.  Tahun 1912, seorang pastor bernama P. J. Onel S. J. diundang untuk membaptis puteranya, Salomon Pella. Sejak pembaptisan itu anak David Salmon Pella tercatat dalam buku baptisan sebagai yang pertama merengkuh damai kasih Kristus di Raha.

Ketika perusahaan kayu Vejahoma pindah ke Departemen Perhutanan Negara pada akhir tahun 1920, David Salmon Pella memperoleh tanah luas di Raha sebagai hasil masa transisi itu. Dialah yang mengatur sehingga  gedung-gedung perusahaan yang sudah tua itu dijual kepada orang-orang Katolik. Di wilayah itulah kemudian menjadi cikal bakal dibangunnya gereja untuk menampung para misionaris Katolik. Misionaris pertama tercatat datang di Raha pada bulan April 1930.  

Sejak datangnya misionaris itu gerak peluasan Katolik bergeliat menyasar ke desa-desa di pedalaman pulau Muna. Beberapa sekolah dasar dibuka di desa-desa pedalaman itu, tetapi pengakuan sendiri datang dari para misionaris itu bahwa Islam masih sangat kuat di sana. Beberapa dari misionaris itu bahkan mendapat penolakan dari warga. Mereka pulang kembali ke Raha, daerah sentrum tempat peluasan ajaran Kristus itu berpusat.

Sampai pada suatu waktu, tanggal 15 Februari 1932, seorang kepala adat dari Rumbia di daerah Moronene Sulawesi daratan bernama Simon Badaru dibaptis bersama 20 keluarga dari sukunya. Imigran dari Rumbia ini tinggal di Lamanu, 15 kilometer dari pos baru di Lasehao, daerah di Muna Tengah. Inilah yang menjadi orang lokal pertama yang menerima Katolik dan mengimani Kristus dalam apa yang dinamai doktrin teologia Trinitas. Mengikut di belakan Simon Badaru adalah orang-orang dari Wale-Ale dan Lolibu, dua daerah di selatan Muna.

Karena kemurtadannya itu, Simon Badaru dipanggil menghadap Sultan Buton La Ode Muhammad Hamidi. Di muka Sultan, ia bersumpah bahwa yang diperbuatnya itu samasekali tidak akan mengurangi penghormatannya kepada sultan. Ia juga mengatakan kesetiaanya dan bahwa pilihannya memasuki Katolik itu tak akan membuatnya tidak patuh terhadap kesultanan. Sepertinya sultan Hamidi adalah seorang yang toleran, ia menerima alasan itu dan memahaminya bahwa agama adalah soal yang privasi dan menjadi hak urusan setiap orang . Pada kenyataannya peluasan Katolik memang berjalan lambat dan terpusat hanya di daerah-daerah tengah dan selatan Muna.

***

Bulan Oktober 1940 sebuah peristiwa ajaib terjadi di Wale-Ale, sebuah desa kecil di Selatan Muna. La Dee, seorang tokoh adat mengalami luka parah karena diseruduk seekor kerbau. Puteranya yang seorang Pastori di Raha kemudian pulang ke Wale-Ale menjenguknya, membawakannya dokter dan seorang pastor. Mereka kemudian membawa La Dee ke rumah sakit Raha.

Di Raha, La Dee dirawat seorang biarawati. Melihat tanda kematian yang makin dekat, si biarawati kemudian menanyai La Dee yang tengah sekarat, apakah ia mau dibaptis? La Dee mengangguk sebagai tanda setuju. Maka tepat tanggal 15 Oktober 1940 dibaptislah ia dan seketika bergantilah namanya menjadi Lambertus La Dee. Ketika meninggal, ia dikremasi dalam ritual sakramen Katolik.

Saat pemakamannya, tiba-tiba muncul seekor kerbau, orang-orang berlarian karena takut. Hal aneh terjadi, kerbau itu malah mendatangi kuburan La Dee dan menundukkan kepalanya di sana. Sejak itu banyak warga berbondong masuk memeluk Katolik. Antara 1 Juli 1941 sampai masa pendudukan Jepang pada bulan April 1942, sudah ada 120 orang yang dibaptis di Wale-Ale. (Steenbrink, 463: 2006)

Seorang tokoh Katolik paling terkenal adalah Gerardus La Mbaki. Ia lahir di Lolibu tahun 1922. Ia mendapatkan pendidikan gerejawi di Wale Ale. Meskipun ia berasal dari keluarga Muslim ortodoks, ia kukuh masuk memeluk Katolik dan mengimani Kristus. Sesudah menyelesaikan sekolah dasar, ia ke Raha  dan naik menjadi calon pastor sebelum kemudian dengan cepat menjadi Pastor di sana.

Tahun 1942, ketika dalam masa pendudukan Jepang. Bersama David Salmon Pella Ia terus aktif mengurusi organisasi kesatuan orang-orang Katolik. Hingga kemudian tahun 1949 dicatat telah ada 413 orang pemeluk Katolik dengan rincian 32 orang dari Eropa dan China, 215 orang dari Toraja, sisanya adalah orang-orang lokal.

Doktrin ajaran Katolik berhasil diluaskan mereka hingga mencapai daerah di Selatan Muna. Dua desa di sana yakni Lakapera dan Lolibu disebut sebagai dua desa sangat berhasil dalam proyek peluasan itu, mereka dengan tangan terbuka lapang menerima ajaran Kristus. Bahkan hingga sekarang dua desa itu dikenal sebagai desa yang dihuni komunitas Katolik, sebuah gereja berdiri disana sebagai bukti eksistensi dan keberhasilan mereka itu.

Tahun 1953, La Mbaki pulang kembali ke Lolibu dan memulai intens membangun komunitas Katolik. Ia rajin berkeling dalam misi yang dinamai mereka “Menyebar Damai Kasih Kristus” terutama di dua desa Lolibu dan Wale Ale. Tahun 1965 anggota jemaat mereka naik meningkat dengan signifikan menjadi 1695 orang. Dalam tahun itu pula seorang Misionaris dari Belgia bernama M. Mingneau datang di sana dan memulai proyek pertanian di Lakapera dimana tanah rawa berair dikeringkan dan setiap keluarga diberi dua hektar tanah untuk bertani kacang mede.

Misi katolik yang dibungkus dalam proyek tani itu kemudian disebut sangat berhasil. Sampai tahun 2001 pemeluk Katolik di Muna telah menukik naik menjadi sekira 4000 orang. Sebuah organiasasi kemudian didirikan di Makasaar dan dinamai Celebes Missie Steunfords. Dari organisasi inilah dana finansial dialirkan sebagai bantuan kepada para misionaris dan pemeluk Katolik di Muna.

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB