Muasal Datang Orang Katolik di Lakapera dan Lolibu

Wednesday, 13 December 2017 0 komentar


DAVID Salmon Pella, seorang penebang pohon dari pulau Rote, Flores, Nusa Tenggara Timur datang di Muna. Ia adalah seorang mandor para pekerja lokal yang bekerja untuk perusahaan kayu Vejahoma.  Tahun 1912, seorang pastor bernama P. J. Onel S. J. diundang untuk membaptis puteranya: Salomon Pella. Sejak pembaptisan itu anak David Salmon Pella tercatat dalam buku baptisan sebagai yang pertama merengkuh damai kasih Kristus di Raha.

Ketika perusahaan kayu Vejahoma pindah ke Departemen Perhutanan Negara pada akhir tahun 1920, David Salmon Pella memperoleh tanah yang luas di Raha sebagai hasil masa transisi itu. Dialah yang mengatur sehingga  gedung-gedung perusahaan yang sudah tua itu dijual kepada orang-orang Katolik yang seiman dengannya.

Di wilayah itulah kemudian menjadi cikal bakal dibangunnya gereja untuk menampung para misionaris Katolik yang mereka sebut sebagai datang membawa "Damai dan Kasih Tuhan". Misionaris pertama tercatat datang di Raha pada bulan April 1930.  

Sejak para misionaris itu datang di Raha, gerak peluasan agama Katolik bergeliat massif menyasar sampai ke desa-desa terpencil di pedalaman pulau Muna. Beberapa sekolah dasar dibuka di desa-desa pedalaman itu dengan disertai memberi bantuan pengobatan dan bahkan materi, tetapi pengakuan sendiri datang dari para misionaris itu bahwa Islam masih sangat kuat di sana. beberapa desa bergeming, tak menerima imannya diusik.

Beberapa dari misionaris itu bahkan dengan keras mendapat penolakan dari warga. Dengan memendam kecewa, mereka pulang kembali ke Raha, daerah sentrum tempat peluasan ajaran Kristus itu berpusat. gerak menyebar ajaran Kristus tak berhenti, sekalipun ditolak dibeberapa desa

Sampai pada suatu waktu, tanggal 15 Februari 1932, seorang kepala adat dari Rumbia di daerah Moronene Sulawesi daratan bernama Simon Badaru dibaptis bersama 20 keluarga dari sukunya. Imigran dari suku Moronene di Rumbia ini tinggal di Lamanu, 15 kilometer dari pos baru di Lasehao, daerah di Muna Tengah.

Kelompok imigran inilah yang menjadi orang lokal pertama menerima ajaran agama Katolik dan mengimani Kristus dalam apa yang dinamai doktrin teologia Trinitas. Beberapa kelompok kemudian mengikut di belakang Simon Badaru masuk Katolik, yaitu orang-orang dari Wale-Ale dan Lolibu, dua daerah di selatan Muna.

Karena kemurtadannya itu, Simon Badaru dipanggil menghadap Sultan Buton La Ode Muhammad Hamidi. Di hadapan Sultan, ia bersumpah bahwa yang diperbuatnya itu samasekali tidak akan mengurangi penghormatannya kepada sultan. Ia juga mengatakan kesetiaanya itu dalam sumpah dan bahwa pilihannya memasuki agama Katolik itu tak akan membuatnya tidak patuh terhadap kesultanan.

Tampaknya sultan Hamidi adalah seorang yang toleran, dan mempunyai jiwa yang lapang, ia mafum menerima alasan itu dan memahaminya bahwa agama adalah soal yang privasi dan menjadi hak urusan setiap orang. Pada kenyataannya peluasan agama Katolik memang berjalan lambat dan terpusat hanya di daerah-daerah tengah dan dan beberapa desa di selatan Muna.

***

Bulan Oktober 1940, peristiwa yang dianggap ajaib terjadi di Wale-Ale, sebuah desa kecil di Selatan Muna. La Dee, seorang tokoh adat terkemuka di sana mengalami luka parah karena diseruduk seekor kerbau. Puteranya yang seorang Pastori di Raha kemudian pulang ke Wale-Ale menjenguknya, membawakannya dokter dan seorang pastor. Karena lukanya yang parah, mereka kemudian membawa La Dee ke rumah sakit Raha untuk mendapat perawatan yang lebih baik.

Di Raha, La Dee dirawat seorang biarawati. Melihat tanda kematian yang makin dekat, si biarawati kemudian menanyai La Dee yang tengah sekarat, apakah ia mau dibaptis? La Dee mengangguk sebagai tanda setuju. Maka tepat tanggal 15 Oktober 1940 dibaptislah ia dan seketika bergantilah namanya menjadi Lambertus La Dee. Ketika meninggal, ia dikremasi dalam ritual sakramen Katolik dalam iringan ratap lagu religi khas Katolik.

Saat pemakamannya, tiba-tiba muncul seekor kerbau penanduk La Dee, orang-orang berlarian karena takut. Hal aneh terjadi, kerbau itu malah mendatangi kuburan La Dee dan menundukkan kepalanya di pusara bernisan salib itu. Sejak itu banyak warga berbondong masuk memeluk Katolik. Antara 1 Juli 1941 sampai masa pendudukan Jepang pada bulan April 1942, sudah ada 120 orang yang dibaptis di Wale-Ale, 55 orang di Lolibu, dan 32 orang di Lakapera. (Steenbrink, 463: 2006)

Seorang tokoh Katolik paling terkenal adalah Gerardus La Mbaki. Ia lahir di Lolibu tahun 1922. Ia mendapatkan pendidikan gerejawi di Wale Ale. Meskipun ia berasal dari keluarga Muslim ortodoks yang taat, ia kukuh masuk memeluk Katolik dan mengimani Kristus. Sesudah menyelesaikan sekolah dasar, ia berangkat ke Raha  dan mengikuti pendidikan pastori sebelum kemudian dengan cepat menjadi Pastor di sana.

Tahun 1942, ketika dalam masa pendudukan Jepang. Bersama David Salmon Pella Ia terus aktif mengurusi organisasi kesatuan orang-orang Katolik. Hingga kemudian tahun 1949, dicatat telah ada 413 orang pemeluk Katolik dengan rincian 32 orang dari Eropa dan China, 215 orang dari Toraja, sisanya sejumlah 166 orang adalah orang-orang lokal.

Doktrin "Kasih" dan "Damai" dalam ajaran Katolik berhasil diluaskan mereka hingga mencapai daerah di Selatan Muna. Dua desa di sana yakni Lakapera dan Lolibu disebut sebagai yang sangat berhasil dalam proyek peluasan itu, mereka dengan tangan terbuka lapang menerima ajaran "Kasih" Kristus. Bahkan hingga sekarang dua desa itu dikenal sebagai desa yang dihuni komunitas Katolik, sebuah gereja yang megah  berdiri didua desa itu sebagai bukti eksistensi dan keberhasilan proyek misionaris itu.

Tahun 1953, Gerardus La Mbaki pulang kembali ke Lolibu dan memulai intens membangun komunitas Katolik dengan serius. Ia rajin berkeling dalam misi yang dinamainya “Menyebar Damai Kasih Kristus” terutama di tiga desa bertetangga: Lolibu, Wale-Ale, dan Lakapera.

Tahun 1965 anggota jemaat mereka naik meningkat dengan signifikan menjadi 1695 orang. Dalam tahun itu pula seorang Misionaris dari Belgia bernama M. Mingneau datang di sana dan memulai proyek pertanian di Lakapera dimana tanah rawa berair dikeringkan dan setiap keluarga diberi dua hektar tanah untuk diolah dan bertani kacang mede.

Misi katolik yang dibungkus dalam proyek tani itu kemudian disebut sangat berhasil. Sampai tahun 2010 pemeluk Katolik di Lakapera dan Lolibu telah menukik naik menjadi sekira lebih 5000 orang. Sebuah organiasasi kemudian didirikan di Makassar dan dinamai Celebes Missie Steunfords. Dari organisasi inilah dana finansial dari Eropa dialirkan ke desa-desa sasaran sebagai "bantuan" kepada para misionaris dan pemeluk Katolik di tiga desa selatan Muna: Lakapera, Lolibu, dan Wale-Ale.

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB