Kami Mencintaimu Hugo

Saturday, 9 March 2013 0 komentar


KARENA kau menantang badai kiriman kapitalis borjuasi bermodal, maka kami kaum miskin proletar yang papa mencintaimu. Ketika tangan yang lain menampik dan enggan untuk kami gamit minta diselamatkan hanya karena jemari kami penuh berlumpur kotor karena gelutan kemiskinan, tanganmu malah kau julurkan sebelum kami bermohon memintanya. Kau telah seperti dewa bagi kami. Maka kami mencintaimu Hugo.

Kami mencintaimu Hugo, seperti cinta rakyat India pada Gandhi, seperti cinta rakyat Kuba pada Castro, seperti cinta rakyat Argentina pada Guevara, seperti cinta kami pada Bung Karno. Berpuluh tahun dalam kuasa, tak membuat kalian silau menimbun harta dan memelaratkan rakyatmu. Berpuluh tahun dalam kuasa dan masih saja kau begitu sangat sederhana.

Ketika di negara lain rakyatnya sibuk memaki pempimpinnya dan mereka bersorak mengharapkan kejatuhan kematiannya, di negaramu, rakyatmu malah larut dalam bersedih kehilanganmu. Mereka menepuk-nepuk dada sendiri sebagai terpukul kehilangan. Saya tidak pernah melihat di negara demokrasi yang maju dan mapan bagaimanapun berlaku sebagaimana laku rakyatmu itu. Sungguh benar-benar mereka mencintaimu Hugo.


Sehingga begitu pergimu datang, kami seperti tak siap menerima, perasaan dipukul kehilangan memenuhi seluruh rongga dada kami, menyesakkan. Kami semua terkesiap, luruh, runtuh terkulai jatuh dalam duka teramat dalam. Kau sebenarnya sangat kami butuh inginkan, dan itu baru terasa dalamnya setelah kau pergi meninggalkan kami selamanya, menghadap-Nya

Kami mencintaimu Hugo, seperti cinta panas pada api, dekat tak bersekat. seperti cinta kapas pada kain melekat lebur meluruh satu. Ketika yang lainnya tiarap tunduk, merangkak memohon-mohon meminta diberi belas kasih pada sebuah lembaga moneter yang kau sebut sebagai kaki tangan imperialis, malah kau menendang keluar lembaga lintah itu.

Kau lantang menyuruh mereka pergi, dan mata mereka membelalak karena geram marahnya mereka itu pada kau. Tapi telunjukmu tak surut kau tarik, kau malah tuding mereka tepat di muka hidung sebagai ketegasan menolak. Dan mereka melongos pergi membawa malu kau usir itu.


Kami mencintaimu Hugo, kami mencintaimu. Sayang Tuhan memanggilmu terlampau cepat. Maut datang mengambilmu dilimapuluh delapan tahun usia umurmu. Tetapi bukankah memang selalu orang baik cepat berpulang dipanggil-Nya?. Damailah Hugo, damailah di sana.

Damailah Hugo, damailah. Bidadari langit akan menggapai tanganmu untuk digamit mereka, membawamu melanglangi langit, muasal datangmu. Kau digamit oleh mereka sebagaimana juga biasa kau lakukan, menggamit tangan-tangan kaum miskin proletar yang papa. Apa yang sudah kau tanam lakukan di bumi selama umur hidupmu akan kau dapat buah balasnya di alam kekal.

Kami mencintaimu Hugo, bahkan sebelum pernah melihatmu dan bertemu. Hanya mendengar saja bagaimana kukuhmu memunggungi Kapitalis. Kau tak keder ciut nyali sekalipun negara adidaya itu berkali menudingmu dengan telunjuk, menghardik agar kau tunduk merangkaki kaki mereka. Dan kau yang berjiwa tangguh memilih bangkit melawan daripada dipaksa-paksa merangkaki tunduk kaki-kaki pemraktek neoimperialis itu. Kau kuat nyali juga rupanya, itulah kami mencintaimu.


Kami mencintaimu Hugo, karena kukuhnya kau dalam berani. Mungkin dan pasti telah kau tahu bahwa keberanian itu samahalnya keberimanan, begitu kata guru ideologimu, Guevara. Jika kau peroleh keberanian, maka kau memiliki harga diri karena hanya selalu dalam keberanianlah harga diri mengikut ada. Tidak mungkin berharga diri seseorang jika ia tidak ada sifat keberaniannya.

Dimana-mana, semua pengecut itu tak berharga diri karena mereka tak ada keberanian pada hatinya. Lihat si tikus sebagai contoh, ia hanya lihai dalam gelap, gesit lincah dalam gulita, mengambil dalam sembunyi diam-diam. Ia larung bergelut sampah, betah beralam di comberan. Dan kau bukan tikus itu, kau adalah singa di belantara rimba gulat ideologi. Kau terus mengaum melihatkan taring, terus mengakas melihatkan cakar.

Kami mencintaimu Hugo, mencintaimu!

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB