Bahasa Wolio Menuju Punah?

Monday, 18 March 2013 0 komentar


SESEORANG menertawai saya ketika dengan tegas saya katakan bahwa dalam limapuluh tahun mendatang bahasa Wolio akan menemui kepunahan dan saat ini ia sedang di jalan menujui punah itu. Jika seluruh penutur bahasa ini bercuek tak peduli dan berlaku pasif tanpa mengambil langkah antisipasi menyelamatkan maka estimasi waktu kepunahan itu bisa datang lebih cepat.

Seseorang yang tertawa itu kemudian sontak berubah muka dengan mulut ternganga kaget ketika bukti-bukti temuan para linguis saya bentangkan se detailnya. Ia rasai semua bukti bentangan itu sebagai hal yang masuk akal dan berterima. Paling tidak sebuah bahasa disebut dalam ancaman kepunahan jika ia telah melihatkan tanda-tanda tertentu.  Dan tanda-tanda tertentu itu telah kini dilihat sangat jelas oleh para linguis.

Jika hipotesis Sosiolinguistik kita rujuk sebagai dasar melihat maka tanda itu telah amat terang sekali. Jika suatu bahasa hanya digunakan oleh penutur yang berusia 25 tahun ke atas dan usia di bawahnya tidak lagi menggunakannya, maka 75 tahun ke depan atau tiga generasi bahasa itu akan punah. 

Jika suatu bahasa hanya digunakan secara aktif oleh penutur berusia 50 tahun ke atas dan penutur di bawahnya tidak lagi secara cakap menggunakannya terutama dalam ranah keluarga maka dua generasi ke depan bahasa itu akan punah. Jika suatu bahasa hanya digunakan secara aktif oleh penutur berusia 75 tahun ke atas dan penutur di bawahnya tidak lagi secara cakap menggunakannya terutama dalam ranah keluarga maka kemungkinan 25 tahun ke depan atau 1 generasi bahasa itu akan (terancam) punah.

Dengan rumus lain, hipotesisnya adalah semakin mudah usia penutur setiap bahasa tidak cakap lagi menggunakan bahasa daerah dalam pergaualan sehari-hari, maka semakin cepat bahasa tersebut mengalami kepunahan. Gerak ke arah kepunahan semakin lebih cepat lagi bila disertai dengan semakin berkurangnya cakupan dan jumlah ranah penggunaan bahasa dalam komunikasi sehari-hari atau semakin meluasnya ketiadaan penggunaan bahasa dalam sejumlah ranah, terutama ranah keluarga.

Ketika saya beberapa kali ke Baadia bertemu Pak Mujazi, perihal ini saya konfirmasi ke beliau. Telah seperti amatan saya, beliau juga miris bahwa telah  terjadi pergeseran amat tajam dalam bahasa Wolio. Banyak dari kaum muda tak lagi memahami beberapa kosakata Wolio. Maka bukankah ini memang adalah salah satu tanda menuju punah itu? Tanda mula-mula bahasa menuju kepunahan adalah ‘perginya’ beberapa kosakata tertentu dalam bahasa itu.



Mari kita bentangkan fakta mengenai kian tergerusnya kini pemakaian bahasa Wolio. Tapi sebelum itu kita akan kembali melihat jauh kebelakang bagaimana bahasa ini begitu kuat daya bertahannya dahulu itu. Sudah seperti sering didiskusikan bahwa bagaimana berprestisenya bahasa ini pada masa lalu—di masa ketika Buton dalam Kesultanan. Bahasa Wolio adalah bahasa negara sekaligus juga adalah bahasa penghubung antarsuku yang berlainan bahasa. Ia adalah Lingua Franca.

Sebagaimana kita mengetahui bahwa Kesultanan Buton adalah sebuah kerajaan unifikasi dari banyak suku yang masing-masing suku itu memiliki bahasa sendiri-sendiri. Maka para Founders kerajaan mengambil bahasa Wolio sebagai bahasa berprestise, menempatkannya sebagai bahasa negara kerajaan.

Seluruh suku yang majemuk bahasanya itu diharuskan memakai bahasa Wolio setiap kali membangun komunikasi dengan suku selainnya. Maka dalam suasana seperti itu, posisi dan kedudukan bahasa Wolio sangatlah kuat. Ia bahasa kuasa. Jauh dari bisa disebut menuju punah waktu itu.

Tetapi nasib menggaris lain. Takdir jatuh tak bisa dielak. Tahun 1960 Kesultanan tumbang oleh sebab dari dalam badan sendiri. Runtuhlah pula segala fungsi yang melekat pada bahasa Wolio. Ia seperti berjalan kisut meriut mundur mengikut hilang perginya kesultanan. Jika di masa kesultanan Bahasa Wolio wajib dipakai dan bahkan mengetahuinya adalah sebuah keharusan bagi suku selainnya, kini fungsi itu tak lagi kita temui diemban. Fungsinya itu kini dialih digantikan oleh bahasa Indonesia. Banyak dari anak-anak bahkan kaum tua kini di luar komunitas Wolio sama sekali buta tak bisa bertutur dalam bahasa Wolio.

Komunitas penuturnya pun bergeser menciut menjadi hanya dalam lingkup benteng keraton saja. Sebagian ada di luar keraton seperti di daerah Tolandona, sebagian Puma, sebagian di Talaga, bahkan ada beberapa di Laiyolo Selayar Sulawesi Selatan. tetapi kesemua daerah yang di luar itu benasib setali tiga uang, sama memiriskannya dengan yang di dalam keraton, ia hanya fasih dituturkan kaum tua, kaum mudanya memble, melek banyak tak tahu kosakata.

Kita melihat paling tidak bagaimana komunikasi di pasar-pasar dalam kota Baubau. Pasar adalah sentrum tempat bertemunya banyak orang dari berbagai suku di seluruh Buton. Jika dulu yang dipakai sebagai alat penghubung bertransaksi adalah bahasa Wolio, kini bahasa Indonesialah yang menggantikannya.

Bahkan yang lebih memiriskan ada beberapa keluarga di dalam rumah sendiri yang juga adalah orang Wolio enggan memakai bahasa Wolio dan lebih memilih bahasa Indonesia untuk dipakai berkomunikasi dalam rumah keluarga mereka sendiri. Ketika beberapa dari mereka saya tanyai, alasanya tak lain bahwa soal berprestise. Mereka lebih memilih bahasa Indonesia karena menganggap kuatnya pengaruh bahasa ini.

Maka kemudian tak sedikit anak-anak, remaja dan kaum muda yang adalah orang Wolio sendiri melek buta tak bisa bertutur dalam bahasa Wolio. Ini tentu memiriskan, dan kita tak bisa hanya mengurut dada. Ada pengesanan bahwa seakan-akan memakai bahasa lokal daerah sebagai kolot, kuno, dan segala hal buruk sebagai ketinggalan zaman ikut dilekatkan. 


Jika telah ada rasa malu pada budaya bahasa daerah sendiri ini tak lain, ini tak bukan, bahwa bahasa ini memang telah dijalan lurus menuju jurang kepunahannya. Adakah yang lebih memiriskan dari kehilangan identitas kedirian? Adakah yang lebih memerihkan dari melihat dengan mata kepala sendiri matinya sebuah pencapaian moyang leluhur dalam melahirkan bahasa yang dengan itu kita kemudian disebut bangsa beradab berbudaya? Bahasa adalah lambang berbudaya, tanda beradab.

Menjadikan bahasa Wolio sebagai muatan lokal di sekolah-sekolah, adalah hal baik dan langkah tanggap pemerintah daerah dalam upaya pemertahanan bahasa itu. Tetapi tentu tak hanya cukup menjadikan saja dan berhenti di situ, pemerintah daerah juga harus mengambil langkah tindak lanjut dengan melakukan evaluasi sejauh mana efektifitas tingkat berhasilnya dan bagaimana para pebelajar (guru-guru), sarana, media belajarnya telah memadaikah?

Maka itu, ketimbang sibuk ‘memesrai’ Korea dengan Hanggeulnya yang relasi secara linguisnya bablas diada-adakan akan lebih baik konsenlah dan seriusi itu selamatkan bahasa Wolio. Itu lambang kebanggan dan jati diri, itu identitas kehormatan kita seluruhnya orang Buton.

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB