Tarian Mangaru di Buton, Tarian Mistis Para Lelaki Kebal

Tuesday, 12 February 2013 0 komentar



Matahari turun condong ke barat mendekati terbenamnya. Orang-orang berlalu lalang dengan bersongkok dan sajadah disampirkan meliliti leher. Ini baru usai salat Asar di sebuah masjid kampung desa Nepa Mekar. Sore ini di halaman samping masjid akan ada pagelaran tari yang telah puluhan tahun tari ini tidak ditarikan—Tari Mangaru

Sejak seorang peserta tari terburai keluar usus perutnya karena tikaman lawan tarinya, tari ini memang kemudian dihentikan. Setelah puluhan tahun lamanya bunyi gendang tari mangaru tak terdengar di tabuh, tari budaya itu sepertinya terus hidup dalam ingatan kolektif mereka. Dua puluh tahun berlalu, kini kaum muda desa itu kemudian menginisiasi dihidupkannya lagi kembali tari tradisi budaya mereka itu.

Maka bunyi gendang tari mangaru bertalulah lagi dalam irama cepat beratur yang memancing nyali. Orang-orang kemudian datang merubungi muasal datang suara gendang itu. Hanya ada tiga orang pemukul gendang di sana, tak ada penari. Ini gendang ditabuhkan untuk siapa, kemana para penari?

“Kami ini hanya memukulkan gendang, mungkin mereka sedang Makanu, sebentar lagi akan keluar mereka itu” Begitu kata La Mbia seorang tua penabuh gendang ketika saya tanyai kemana para penari. Rupanya karena tari ini bukan tari biasa, maka para penari memerlukan pula persiapan yang luarbiasa, persiapan lahir batin yang memerlukan ritual rapal mantera yang sakral, ritual samadi meminta berkah agar dilindungi. Persiapan inilah yang oleh orang Buton dinamai Makanu

Tak lama berselang, ketika Makanu telah dirasai sempurna, tiba-tiba saja seseorang berjingrak dengan sebelah kaki ditekuknya agak menaik.  Setengah berlari ia memutari lingkaran yang dibuat penonton. Ia memakai sarung dengan peci menenggeri kepalanya. Tampak sebilah pisau badik  berlekuk yang oleh orang-orang di sana dinamai Lolabi, gagah ia selipkan di dadanya. Ia terus berjingkrak mengeluarkan suara-suara aneh yang tak saya mengerti. Ia tampaknya sedang mengundang lawan.

Tak berselang lama seorang tua bersongkok peci pula, telah bongkok badannya melompat turun dalam arena meladeni. Ia seperti kesurupan. Mereka berdua itu lalu saling unjuk gemulai dan lentur gerak badan. Dalam posisi saling berhadapan salah seorang menarik keluar pisau badik Lolabi dari sarung nya. Ia hunus telanjangkan badik Lolabi itu dan menuding-nudingkannya pada seseorang lainnya di mukanya sebagai menantang beradu kuat ilmu kebal.

Seseorang di muka yang lawannya menyambut tudingan itu dengan erangan mistis. Ia menghunus pula badik Lolabi nya. Ia keluarkan badik Lolabi nya itu dari sarungnya sehingga tampak telanjang. Ia ayun-ayunkan badik Lolabi itu di udara sebagai isyarat menerima tantangan. Ia berjalan menyusur lingkar arena sembari berjingkrak-jingkrak memutari lawannya. Mereka berdua kemudian tampak seperti ayam yang dijerembab disabungkan, mereka bergumul  adu kuat saling serang menikam.

Mereka bergantian memberi badan untuk ditikami. Jika yang seorang menarik tangan hendak menikam, pasangan tarinya membaca gerak itu dengan segera menadahkan badannya. Bergantian mereka seperti itu sebelum kemudian irama gendang yang dipukul bertalu memberi isyarat pada mereka untuk saling menghujamkan tikaman. Maka masing-masing dari mereka saling berganti menikami badan lawan. Mata pisau Lolabi  ditusukan memutar seperti diborkan di badan para penari itu tetapi tak ada darah yang tumpah, tak ada kulit yang sobek, kebal mereka semua penari itu.

Banyak penonton menutup mata, atau membuang pandangnya ke tempat lain. tak kuat nyali melihat mata badik Lolabi yang datang hendak menusuk badan para penari itu. Tetapi pisau badik Lolabi itu malah mental mengenai badan para penari itu. Badan para penari tak tertembusi badik besi itu, ia lantak seperti terpental dan majal segan mendekati kulit daging para penari. Kulit mereka keras menembaga, alot sebagai baja. Baru sekali ini saya melihat di muka mata kepala sendiri pisau besi takut melempem, kalah melawan kulit daging manusia.



Inilah tari Mangaru, tari bukan sembarang tari. Tari yang ditarikan oleh para lelaki kesatria. tari adu uji nyali dan ilmu kebal badan. Ini tarinya kaum lelaki sebagai pelambang jantannya. Adat tradisi melihat tari ini sebagai ungkapan tanda syukur dan kemakmuran juga tentu kejantanan. Dahulu tari ini rutin diadakan setiap kali usai musim panen dalam ritual yang dinamai Bongka a Ta U atau usai lebaran Idul Fitri.

Tari ini adalah tari persembahan terima kasih kepada Tuhan Maha Kuasa atas karunia rahmat dan rezeki-Nya. Orang-orang Buton meyakini jika dalam ritual tari ini ada peserta tak terlukai itu pertanda panen akan meningkat baik dan berhasil, tetapi jika sebaliknya ada  terluka ditembusi badik badannya maka itu pertanda hal buruk bakal terjadi, benih tak berubah buah, panen bisa gagal.

Silahkan datang di desa Lolibu atau di Wanepa-nepa (sekarang Nepa Mekar) kecamatan Lakudo kabupaten Buton. Pada setiap kali ritual Bongka a Ta U atau usai Lebaran Idul Fitri tarian ini rutin dilaksanakan. Hanya saja gerak saling menikamnya tidak lagi sevulgar dan seagresif dahulu, tetapi bagi yang tidak biasa melihat ayunan pisau badik Lolabi dihunus telanjang tanpa sarung, kulit dagingnya masih akan bergidik merasai ngeri.


Belakangan oleh Pemerintah Daerah Tarian Mangaru dipakai sebagai tari persembahan menyambut tamu kehormatan. Tentu tidak dengan gerak menikam yang agresif, tidak dengan saling tikam menusuk badan yang frontal. Ia hanyalah pertunjukan budaya seni gerak berperang yang diaktualisasi dalam tarian. Mungkin serupa tarian Cakalele di Maluku, Velabhea di Papua, atau tari-tari perang lainnya di Nusantara.  

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB