Surat dari Jogja

Saturday, 2 February 2013 0 komentar
 
-untuk sahabatku sumiman udu di leiden belanda-

#
ini pukul 20.16 wib
jogja telah dipeluk malam
sehari tadi langit udara kota ini digelantungi awan mendung
tak nampak matari terlihat,
tak nampak julang kokoh merapi
seminggu ini cuaca basah terus terus

sebentar-sebentar angin bertiup
hawa bukan main dinginnya
Sore tadi air ditumpah pelan dari langit
dan hujan turun dalam kelam
merinai rintik malu-malu
dan saya seperti kucing basah
duduk terpekur menahan dingin
di antara rak-rak
di antara buku-buku.

tv lokal menyebar siar
perihal lahar yang turun sebagai bah
deras sekali menuruni lereng terjal merapi
di kinahrejo tempat maridjan bersyahid mati
yang dulu kau datang kunjungi
kini warga nya bersiap lagi mengungsi
menghindari amuk lahar dingin tak berhati
kamp kamp pengungsian akan ramai lagi
dari pakem hingga cangkringan, dari kinahrejo hingga kaliurang

#
leiden pukul berapa ya sekarang?
di jendela iphone saya menunjuk 15.00 sore hari
dengan suhu di celsius  16 derajat
bisakah itu tepat?
pasti akan sangat dingin sekali
dan saya membayangkan jaket kulit tebal
entah berlapis berapa akan kau kenakan.
juga sarung tangan
akan melingkar pula syal pada leher mu
dan benar saja, foto-foto kiriman mu melihatkan itu
biarpun telah berkain menutup semua badan mu
kau tampak masih  menggigil diserang dingin
kau tampak lucu disitu
membungkus badanmu dengan berlapis-lapis kain
tapi tulangmu masih bergetar menggigil pula
kulit dagingmu memang bisa menahan panas terik hawa laut asia
tetapi kisut meriut ketemu dingin salju eropa
seperti penguin yang tak hidup di air berhawa panas
kaupun tampak gelagapan melawan dingin salju

saya membayangkan kau berjalan-jalan di centraal stasiun, mengambil sepeda di sana dan berkeliling memutari kanal-kanal yang di permukaan airnya angsa-angsa berdansa girang. juga merpati jantan yang jinak berjingkrak-jingrak mengibaskan ekor menggodai betinanya

saya membayangkan kau memilih berjalan kaki ke kampus melewati  voorschoten hotel, koningstraat hingga sampai di witte singel. dan saya membayangkan kau tak henti mendongak sebagai bentuk kagum pada town house yang berjejer-jejer rapi di sepanjang jalan kanal dengat warna cat yang mencolok khas negeri kincir angin itu.

oh ya..,
kanjeng sultan telah menikahkan bungsunya
dengan seorang lelaki bukan bangsawan
dalam seremoni sangat meriah sekali
seluruh rakyat berpesta
larut semua dalam bersukacita.
sepenuh badan jalan malioboro
dipenuhi sesak oleh arakan kereta kencana
yang berjalan pelan dalam perade kemuliaan

pernahkah kau bayangkan jika bangsawan kita begitu?
jika saja bangsawan-bangsawan buton berkaca pada jawa
bagaimana jika para elit aristokrat kita tergerak tangannya menggamit tangan bukan bangsawan sebagaimana laku mulia sri sultan ngarsa dalem penguasa tanah jawa itu?
bukankah lembar-lembar naskah menuliskan runtun sekali bahwa kita sedarah turunan mereka?
lantas bagaimana adat kita bisa berbeda?

di kampung kita adat menabukan yang seperti itu
tegas sara menetapkan;
yang bangsawan untuk bangsawan
yang ode hanya untuk ode saja.
tidak dibolehkan bangsawan bercampur badan dengan bukan bangsawan
apalagi berbaur darah, itu akan menjadi momok yang memalukan.
ini di kampung kita, segala-gala masih feodal
segalanya yang punya kuasa adalah ningrat  berkolusi pemodal


ah, malam merambat makin larut
dan hujan turun makin melebat
#

sleman jogja, november 2011


0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB