Sebab-Sebab Umbunowulu Melawan Kesultanan Buton #2

Wednesday, 20 February 2013 1 komentar


Saya banyak mendapat kritik sekaligus juga masukan dari beberapa sahabat Umbunowulu terkait catatan saya terdahulu yang berjudul sebab-sebab Umbunowulu melawan kesultanan Buton. Saya dikoreksi bahwa di mata mereka tak pernah melawan pada kesultanan Buton, yang mereka tidak setujui dan kemudian memantik perlawanan adalah hegemoni Wolio dalam kuasa di kesultanan Buton dan dibangunnya aliansi kerjasama dengan Belanda.

Maka inilah catatan perbaikan, catatan revisi yang sumber data informasinya dipasok sepihak dari orang-orang Umbunowulu, dari orang-orang Lakudo, beberapa dari Tongkuno dan orang-orang di luar sentrum kuasa. Mereka berkisah, bercerita dan saya hanya mendengar mencatatkan, membawa yang dikisahkan dalam lisan itu ke dalam tulisan. Tak kepalang tanggung beginilah kemudian jadinya.

* * *

Bahkan sampai sekarang stigma dan kesan Umbunowulu kepada Wolio masih sangat tidak baik. Peristiwa membunuhi diri sendiri dengan menjerumuskan diri ke jurang yang di bawah jurang itu telah ditancapi buluh bambu yang ujung atasnya ditajamkan runcing sekali sebagai bentuk sepenuhnya melawan, terus dikenang sebagai peristiwa penuh heroik yang mengangkat harkat kehormatan mereka dikeagungan. 

Menuju Lawa Kae Woli-Wolioa
  
Mereka semua lebih memilih mati dengan membunuh diri daripada harus tunduk dan menghambur sembah pada Wolio. Sampai sekarang kisah tragis memilukan itu terkenang-kenang dalam ingatan kolektif mereka sebagai hal yang membanggakan dan menaikan gengsi kehormatan klan mereka sebagai pelawan tangguh yang konsisten dalam sikap tidak tunduk mengalah.

Dan karakter orang-orang Umbunowulu telah memang beginilah bahkan hingga sekarang. Mereka keras, kasar, tetapi sangat baik jika telah masuk mengenali mereka. Mereka teguh dalam pendirian, kuat memegang komitmen dan tak mudah menyerah

Siapa dan apa hebatnya Umbunowulu sehingga berani melawan Wolio yang di sana segala-gala kekuatan berpusat? Sumber-sumber lisan lokal fasih mengisahkan bagaimana kapal-kapal utusan kesultanan karam sobek lambung badan kapal dan layarnya karena hujaman batang-batang kelapa dan kayu besar lainnya yang dilempar dilayangkan memakai mantera dari benteng kota Umbunowulu. 


Orang-orang Umbunowulu memang sangat lihai dan terkenal dengan lemparannya yang mematikan itu. Di namai oleh mereka senjata dan ilmu melempar itu sebagai “Kangkulabe”. “Kangkulabe” ini adalah ilmu “menghidupkan” batang kayu mati untuk kemudian diperintah dilayangkan menyasar apapun yang diingini sipelempar.

Penting dicatat bahwa dalam ingatan kolektif orang-orang Umbunowulu mereka tak pernah merasa tertaklukkan oleh Wolio sampai ketika negeri pusat kuasa itu memakai tangan lain dalam muslihat apik licik sekali. Wolio sebagai pusat kuasa memakai tangan sebuah kadie Lakudo menyapu memberangus ‘si nakal’ Umbunowulu.

Jika penaklukan memakai ilmu kesaktian maka Umbunowulu tak terkalah saktinya. Telah tersebar di mana-mana bagaimana mereka memiliki kesaktian ilmu yang mumpuni. Maka kemudian disusunlah siasat menaklukkan mereka memakai intrik bermuslihat ala Jawa—membunuh dengan merangkak, menjatuhkan dengan hamburan sembah. 

Benteng Liwu Lakudo
 
Dan telunjuk kesultanan menunjuk kadie Lakudo sebagai pelaksana intrik muslihat itu. Dua bersaudara ini kemudian bergelutlah dalam kelahi diam-diam. Yang satu tunduk patuh mengemban misi kesultanan, dan yang satunya konsisten membangkang melawan kesultanan. Maka dihamparlah perang diam-diam, perang adu lihai bermuslihat.

Diceritakan “Saha” (perangkat adat) Umbunowulu diundang berpesta minum arak di Lakudo. Telah menjadi pengetahuan umum bagaimana kebiasaan minum arak ini telah membudaya dan menjadi tradisi dari dulu. Mereka dijamu dengan arak terbaik. Ketika para “Saha” itu hilang kesadaran karena dikuasai mabuk yang melenakan akibat terlalu banyak menenggak arak mereka disembelih lalu dijurangkan ke gua di sisi barat Benteng Liwu Lakudo.

Gua pembuangan itu dinamai  Lia Ola Wakulumbi. Beberapa dari Saha dibiarkan hidup tetapi kemudian dipaksa bersumpah bahwa segala ilmu mereka tidak akan berlaku jika dipakai menulah orang-orang Lakudo, segala tulah bisa ilmu mereka lantak binasa, hilang bisanya tak mempan jika dipakai menyerang Lakudo.

Sejak itu takluklah Umbunowulu. Seseorang yang berstatus bangsawan dikirim dari pusat kuasa sebagai wakil kesultanan mengepalai kampung pembangkang itu. Ia menjadi Lakina di sana. Rakyat Umbunowulu yang tahu telah dipukul takluk memilih lari meninggalkan benteng kota mereka. Yang cacat, sakit, yang tidak bisa membawa dirinya lari memilih membunuh diri dengan menjatuhkan badan ke jurang sisi timur benteng kota mereka, di dasar jurang itu telah ditancapi buluh bambu yang ujung atasnya diruncingkan tajam sekali. Diabadikan kini jurang itu dengan diberi nama Lawa Kae Woli-Wolioa.

di Masjid Benteng Kota Umbunowulu

Konon karena jasanya memberangus Umbunowulu itu, kehormatan Lakudo sebagai kadie menaik di mata kesultanan. Ia mendapat perlakuan dan sambutan istimewa. Ketika suatu waktu Lakina Lakudo naik menghadap Sultan, ia berjalan maju tanpa memberi sembah, juga tanpa menurunkan Tohu. Dan Sultan menerima dihadapi begitu. Beliau tak menyoalkannya.

Ketika seorang Lakina kadie lain coba mengikut-ikut  berlaku begitu. Ia dipecat sebelum sampai tiba di kadie tempatnya memerintah. Tampaknya pusat kuasa jeli dan cermat memberi perhatian pada kadie yang telah menyumbang jasa. Sejak itu Lakudo terus dipuji-puji dan disemati gelar sebagai “Sapu” Kesultanan.

* * *
                          
Umbunowulu adalah sebuah kota tua dengan peninggalan bentengnya yang masih terlihat hingga kini. Jika memakai silsilah jalan bahasa, maka klan  Umbunowulu serumpun dengan Lakudo, Tongkuno, Lohia, Lambelu, Lipu daerah-daerah yang oleh sejarah disebut sebagai ‘Muna Tua’. Mereka berciri budaya sama sebagai perajin gerabah yang handal

Perajin Gerabah


Jalur migrasi manusia-manusia Tongkuno kemudian bisa dilihat meluas di wilayah pulau Buton, terutama pulau Buton bagian Barat, Selatan, dan beberapa pulau lepas pantai Selatan Buton. Kesemua daerah itu mempunyai keunikan dan ciri linguis yang sama yakni luluhnya atau terjadinya split fonem /h/ jika diantarai deret vokal dalam kata adjektiva, atau melafazkan fonem /r/ sebagai /h/ atau /kh/. Kesamaan ciri linguis itu menunjukan bahwa kesemua mereka itu serumpun seturunan.

Maka jika merujuk ke Couvreur, juga Van Den Berg yang menyebut bahwa kampung tua Muna purba itu adalah Tongkuno, besar kemungkinan yang dimaksud itu adalah Umbunowulu karena situs purba peninggalan sebagai sebuah kota dapat ditemukan di sana. Apalagi Lakilaponto alias Murhum alias Sultan Muhammad Yisa Kaimuddin, raja keenam sekaligus sultan pertama Buton ternyata adalah seorang Omputo (Raja) di Umbunowulu sebelum ia naik berkuasa di Buton.

Jika mengumpulkan kisah jalan sejarah yang berserak dalam serpih-serpih bersekat itu memakai jejak bahasa, situs, artefak, kebiasaan dan segala yang bisa membawa pada keutuhan serak serpihan itu, mungkinkah Tongkuno yang oleh para linguis dan sejarawan disebut sebagai Muna Purba sebenarnya adalah Umbunowulu yang di sana para Sugi bertahta kuasa? 

Depan Baruga Benteng Kota Umbunowulu

1 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB