Prahara di Boneatiro

Thursday, 28 February 2013 2 komentar


ABAD kelima belas mendekati berakhir. Abad keenam belas datang sebentar lagi. Jangan mengira masa itu laut melompong tak berpenghuni. Laut justru ramai dan bergeliat hidup. Ia tak berbeda daratan  yang dihuni dan memiliki raja-raja. Masa itu laut pun menjadi tempat berdiam tinggal orang-orang yang menyebut diri sebagai bajak. Para bajak ini hidup di laut, tinggal melayari, menguasai dan menjadi rajanya.

Mereka semua itu berkulit legam, bermuka masam. Jarang benar mereka tersenyum tertawa kecuali mereka sedang dalam pesta menikmati hasil rompak bajakan, atau ketika mereka berhasil menebas leher lawan kelahinya. Mereka membahak hingga bergoncang badan pinggulnya, memperolok batok kepala yang terguling lepas dari badan lawan tandingnya. Mereka girang mendapati lawannya sekarat dijemput maut. Tak ada belas kasih pada mereka.

Mereka berkawan dengan orang-orang yang juga tinggal mendiami laut, hanya saja mereka itu berpindah-pindah mengikut perginya arus laut. Mereka berumah di kapal, tinggal berdiam di sana selamanya tahun. Mereka itu adalah orang-orang Sama atau kita kini mengenali mereka sebagai orang-orang Bajau atau Bajo.

Telah dari dahulu orang-orang Sama tersohor sebagai pengarung laut yang tangguh. Mereka bisa mengatur cuaca laut sekehendak mau mereka. Mereka  bisa menjinakkan gelombang yang bergolak ketika menjumpainya di tengah samudera. Mereka bisa mendatangkan angin ketika kapal mereka berjalan terseok tak mendapat angin.  Ampuh berbisa benar mantera melaut mereka. Orang-orang bajak menaruh segan dan hormat pada mereka. Itulah mereka dikawani.

Jika berpapasan di lautan, seorang juru keker akan naik ke anjungan. Nakhoda menunggu yang dikatakannya. Jika ia berteriak “Sama” maka itu pertanda bukan ancaman bagi mereka, tetapi jika yang diteriakan selain itu, maka awak bajak berlarian mengambil siaga, bersiap merompak, mangsa telah di depan mata mereka.

Para bajak penguasa lautan itu tak pelak selalu mengacau pelintas laut jika mau ingin mereka tak diluluskan. Mereka bisa berbuat kasar, apa saja bisa dilakukan seenak mau mereka, membunuhi para pelayar yang melintas lalu merampas kapal seisinya. Maka dinamailah kemudian mereka itu sebagai bajak rompak. Masa-masa abad ke enam belas adalah masa-masa bajak rompak menguasai lautan. Mereka menjadi raja penguasa lautan.


***

Sebuah tanjung di ujung Utara pulau Buton dipakai berlabuh oleh serombongan armada bajak rompak lautan dari Tobelo. tanjung itu menjadi saksi dan menyimpan kisah geliat para bajak itu dalam lembar-lembar naskah jalan hidup kesultanan Buton. Tanjung itu dipakai sebuah armada bajak rompak itu untuk menyusun siasat dan membangun kekuatan sebelum kemudian berarak menujui akhir sasaran—Wolio, pusat kuasa kerajaan Buton.

Mereka tinggal beberapa lama di tanjung Utara pulau Buton itu untuk beristirahat, menunggu hari baik dan mempersiapkan segala perlengkapan penyerangan. Sampai sekarang tanjung tempat mereka tinggal berlabuh itu masih bisa dilihat karena ia diabadaikan dengan nama Labuan Tobelo (Wolio=Tempat berlabuh orang-orang Tobelo)

Iringan kapal-kapal Tobelo itu berarak dalam parade melalui selat pemisah pulau Buton—Muna yang sempit. Seseorang yang berambut gimbal panjang hingga sebahu. Dadanya bidang besar menyembul maju. Lengannya kekar berotot dijalari urat, seperti jalar akar pohon kelapa yang menyeruak muncul di permukaan tanah. Ia berkulit gelap, legam dibakar matahari dan hawa laut. Matanya satu tanpa beralis tepat simetris di atas hidungnya yang bonyok. Kumisnya tebal hitam seperti lipan yang melintang tidur dibawah hidungnya. Lelaki inilah pemimpin armada Tobelo. Dia dinamai Labolontio.

Ilustrasi Gambar Bajak Laut

***

Langit di Udara Kulisusu digelantungi awan hitam pekat, kilat halilintar berpijar menggaris langit, berkejaran dengan guntur yang berbunyi menggelegar saling sahut.  Langit telah hitam, tapi hujan tak turun. Tak ada matahari, tapi hawa bukan main panasnya. Sebentar-sebentar angin laut bertiup sepoi menyapui muka-muka sangar yang bibirnya dilintangi kumis tebal. Dada mereka telanjang, hanya pinggul bokong mereka yang berkain

Ini adalah armada Labolontio, kelompok bajak rompak Tobelo yang terkenal garang tak mengenal mengasihi. Semua-mua lawan mereka gasak lumpuhkan tanpa diberi pengampunan. Semua harta diambil sebagai hasil rompak. Mereka sedang bergerak melarungi laut sempit di muka pulau Wawonii. Mereka hendak ke tanah Wolio tempat Mulae yang mulia bertahta memangku kuasa.

Di sebuh tanjung ujung kampung di Utara pulau Buton. Kapal-kapal dalam puluhan jumlahnya sedang berlabuh melepas sauh di sana. Beberapa dari awaknya tampak sedang berlatih silat, yang lain sibuk mengasah pedang, mengusir karat dari badan parang mereka, yang lainnya lagi menggaruki  ujung tombak, menajamkannya agar tandas menghujam badan musuh. Sepertinya hawa laut telah menggarami senjata besi mereka itu sehingga berkarat dan tampak tak terawat

***

Di Keraton Wolio, raja Mulae bergundah gulana, beberapa hari ini ia tak tenang tidurnya. Tak seorang permaisurinyapun bisa menghibur menenangkan hatinya. Ia tak enak makan, seperti ada yang mengganjal di tenggorokannya. Rupanya kabar kedatangan Labolontio telah sampai di telinganya, itulah yang menjadi sebab semuanya. Ia tak tenang duduknya, gelisah siang malam.

Pagi kemarin seorang abdi mata-mata kerajaan datang tergopoh menghambur sembah melaporkan gerak maju armada Labolontio yang telah di muka laut Kulisusu. Dalam perkiraan penasihat juru mudinya tak sampai sehari mereka telah akan mencapai tanah pantai Kulisusu.

Perkiraan juru mudi kerajaan tak meleset tak memang sampai sehari mereka telah mencapai tanjung di Utara Kulisusu, dan kini mereka sedang melabuhkan kapal-kapal mereka di sana, beristirahat, mengumpulkan tenaga dan menyusun siasat penaklukan. Dilapori begitu, raja Mulae terhenyak kaget. Sesekali ia duduk, tak lama ia berdiri lagi, berjalan mondar-mandir, hilir mudik seperti berat beban yang ditanggunginya. Ia tahu bahwa yang datang ini bukan sembarang bajak, bukan sembarang orang. Dia yang laut kuasanya membentang dari Utara di Moro Filipina, turun ke Selatan di Bungku Wawonii, hingga laut Banda di Timur Nusantara.

Nama Labolontio memang tersohor. Ia penguasa lautan, ia raja rompak yang perkasa. Maka siapa yang tidak gentar menghadapi kedatangannya? Ia adalah penguasa dari laut Moro di Utara Mindanau Filipina hingga perairan di Tenggara Sulawesi sampai laut Banda itu? Pulau-pulau disepanjang pesisir dari Utara ke Tenggara Sulawesi ditekuk takluk dan disimpan dalam genggam kuasanya. Tinggal Wolio sajalah yang luput dari kuasanya. Maka ia mengeker Wolio, menjadikannya target dikuasai.

Di Wolio Raja Mulae mengumpulkan para petinggi kerajaan. Sapati dan Kenepulu duduk takzim mendampinginya. Para hulubalang dan seluruh lelaki yang dari runut silsilahnya diketahui sebagai turunan kesatria pemberani semua diperintah wajib datang menghadapnya. Maka berbondonglah semua para lelaki itu  datang membawa diri, menghambur sembah di kaki Mulae yang mulia sebagai bentuk bersiap mengabdi.

Di muka para lelaki kesatria itu, Mulae mengeluarkan titah sayembara. Ia menjaminkan kepada siapapun diantara mereka yang berani dan berhasil membunuh Labolontio akan naik dinikahkan dengan puteri semata wayang kesayangannya—Watampaidongi yang juga digelari Borokomalanga. Maka karena ia tak memiliki putera, dengan sendirinya suami anaknyalah itu yang kelak naik menggantikannya sebagai raja, meneruskan kuasanya.

Semua mulut lelaki kesatria yang berbaris duduk ternganga. Mereka semua mendongak mengangkat muka seperti kaget mendengar sayembara itu. Mereka tahu bagaimana cantik ayunya rupa si putri raja. Namanya tersohor ke seluruh negeri sebagai wanita jelita rupawan yang diidami seluruh lelaki. Mendapatkannya adalah seperti ketiban bulan karena juga akan mengikut kuasa direngkuh, mendapatkan tahta. Suaminya kelak adalah pelanjut tahta kuasa sebagai raja di kerajaan Buton.

Maka para lelaki kesatria bahkan yang tidak kesatria rela maju menyabung nyawa, hendak menghadang si bajak mata satu Labolontio. Labolontio telah membawa badannya ke mana-mana, ia tak terkalah. Tak ada parang besi yang menembusi kulit dagingnya. Ia kebal, segala senjata dari besi, parang, tombak, busur mental lantak jatuh ke tanah sebelum sampai mengenai kulit badannya. Segala senjata besi itu segan, majal mendekati badan dagingnya. Ia juga lihai, gesit lincah gerak silatnya, telah tak terhitung korban tangannya. Hanya dengan sekali pukul, hanya dengan sekali sepak lawan kelahinya telah mengerang sekarat. Itulah ia sombong, merasa diri terkuat.

***

Angin berhembus sepoi, langit di angkasa cerah. Ini di Gantarang Lalang Bata, sebuah desa tua di Timur Selayar. Konon di sanalah dahulu Lakilaponto berdiam tinggal. Ia minggat dari Tongkuno karena berbuat tak senonoh yang memalukan ayahnya dan keluarga kerajaan. Maka setelah menitipkan adiknya Wa Ode Pogo Wakaramaguna di Kadatua, ia meneruskan pelayarannya ke Selayar, tempat di mana seorang Opu sahabatnya bertahta memikul kuasa.

Kabar sayembara dibawa angin menyebar cepat sekali, sampailah pula di negeri Selayar kabar itu. Raja Selayar Opu Manjawari terkesiap. Ia bangkit dari duduknya. Berkata: “Panggilkan aku Lakilaponto”. Seorang abdi merangkak berjalan mundur cepat serupa kilat. Tak berselang lama ia kembali muncul mengikut tergopoh di belakang Lakilaponto.

“Wolio sedang dalam bahaya, paman mu Mulae sedang kalap, seluruh rakyat telah bersiap mengungsi ke gunung-gunung mencari selamat. Labolontio telah sampai menjangkau tanah Kulisusu di Utara pulau Buton dan menurut mata-mata kerajaan dalam beberapa hari mendatang mereka akan bergerak menuju Wolio. Mereka hendak menaklukkan Wolio dan mengambil paksa kuasa dari Mulae”

Lakilaponto merah mukanya karena darah yang tersirap naik ke wajah. Gerahamnya gemeretak karena emosi yang naik meluap.  Ia melempar pandanganya ke laut melepas tatap jauh ke timur. Tapi pandang tatap terbatas jangkau melihatnya hanya gunung-gunung di seberang laut yang tampak kelihatan.

Maka ia kemudian memakai khayal pikirannya  membayangkan pamannya Mulae yang sedang gundah dan tanah luhur leluhurnya yang akan ternodai kaki kotor seorang culas, seorang rompak yang bengis. Ia tak ikhlas, maka ia terpanggil membela. Ia memanggil pula sahabatnya Opu Manjawari ikut bersamanya membantu. Layar dikerek, kainnya mengembung ditiup angin, berlayar mereka ke tanah Buton.

***

Betoambari menunggu Manjawari dan Lakilaponto di Kadatua. Bersama Manjawari ia akan menemani Lakilaponto sowan meminta restu ayahandanya. Mereka akan ke Tongkuno menemui raja Muna Sugi Manuru yang adalah ayahanda Lakilaponto. Lakilaponto segan menemui ayahnya sendirian karena ia telah berbuat salah sebelumnya sehingga menyebabkan murka ayahnya itu. Ia kemudian pergi menenangkan diri ke Selayar. Maka itu ketika ia hendak pulang ia memanggil Betoambari menemaninya karena kedua mereka itu masih berkerabat dengan Sugi Manuru. Dengan ditemani kedua sahabatnya itu ia berharap ayahnya bisa luluh memaafkan dan memberinya restu.

“Pergilah kau ke Wolio, perbaiki silsilahmu di sana” Kata Sugi Manuru setelah menerima hormat sembah Lakilaponto. Lakilaponto merayap menciumi kaki ayahnya sebagai terima kasih telah diberi restu. Ayahnya memegangi pundaknya dan menyuruhnya bangun berdiri, berkata: “Mulae itu adalah paman mu sendiri, Wolio itu adalah negeri leluhurmu sendiri, pergilah itu sudah tanggungjawab kewajibanmu. Selamatkan Wolio, selamatkan negeri leluhurmu. Bunuh bajak rompak pengacau itu, ambil kepalanya dan bawakan ke kaki Mulae sebagai persembahan abdimu”

Sugi Manuru kemudian memberikan sesuatu “Ini kau bawa. Waktu kau lahir, ini juga kau bawa. Ibu mu sampai susah berkalang perih menunggu-nunggu saat lahirmu, ternyata lahirmu tidak sendiri, kau lahir bersama keris ini. Ambillah mungkin kelak akan berguna melindungimu”.

Lakilaponto menyambut keris itu dengan sepenuh hormat. Ia sarungkan keris yang telanjang itu lalu ia selipkan dimuka, tepat di bawah dadanya. Menjelang sore mereka pamit mohon diri. Ia menghambur sembah dan mengambil tangan ayah nya, juga ibunya. Ia ciumi tangan kedua orang tuanya itu sebagai kesungguhan menghormati dan mengasihi keduanya.

Ketika hendak pergi, Sugi Manuru menggamit tangan Lakilaponto. Ia memeluknya dan mendekatkan mulutnya pada telinga anaknya itu, membisiki: “Sampaikan pesanku pada Mulae bahwa saya telah memberimu maaf, sampaikan bahwa saya merestuimu”. Lakilaponto mengiyakan dengan mengangguk

Usai pamit itu, bergegas mereka keluar, mengambil kuda sendiri-sendiri yang telah disiapkan. Ringkik kuda kemudian membawa mereka hilang dari pemandangan ayah ibunya. Arah selatan dituju mereka,  daerah Wamengkoli. Sebelum matahari terbenam mereka sudah harus sampai di sana

***

Malam turun dari langit, seketika gelap menghampar gulita. Angkasa ditaburi bintang, berkelip saling kedip. Mulae duduk dalam tapa menghadap Tuhan Maha Kuasa. Asap dupa berlenggok meliuk dicumbu angin yang berhembus pelan. Ia memohon dilindungi dari marabahaya, diberi jalan selamat.

Baru sesaat menutup tapa samadinya, seorang abdi kerajaan datang menghambur sembah menyampaikan kedatangan Lakilaponto bersama Manjawari dan Betoambari. “Bawa mereka ke bangsal penghadapan, saya akan menemui mereka di sana”. Si abdi itu berjalan meriut, mundur sebelum kemudian hilang dari pemandangan. Mulae melipat kitab samadinya dan bergegas ke bangsal penghadapan.

Di sana Lakilaponto, Manjawari, dan Betoambari duduk takzim, menunggu datang raja Mulae. Ketika bunyi selop kaki sang raja menggaruki lantai makin dekat terdengar, mereka semua menegakkan badan, mengatur gerak tubuh dalam sepenuhnya penghormatan. Sontak mereka bertiga koor mengucap salam dan memberi sembah ketika raja mulia yang digelari Sangia Yi Gola itu telah dihadapan muka mereka.

“Kalian tentu telah mengetahui bahwa kerajaan ini sedang dalam bahaya yang besar” Kata raja Mulae memulai bicara. Melanjutkan “Labolontio telah sampai di Kulisusu dan sebentar lagi akan menginjak tanah ini. Seperti kalian lihat sendiri saya telah renta begini, tentu saya bukan tandingannya, tentu kami tak sebanding. Tenaga kekuatan saya hilang diambil usia, sedang dia  masih muda perkasa, berilmu sakti pula. Saya sekalipun selangit tinggi ilmunya tetapi tanpa tenaga kekuatan itu sama saja seperti meriam tanpa peluru, seperti panah tanpa busur, tak berguna. Maka ini tugas ini kuembankan di pundak kalian bertiga. Bunuh Labolontio dan selamatkan negeri ini. Silahkan kalian rundingkan bertiga bagaimana jalan keluar selesainya, siapa dari kalian yang mau diambil sebagai pimpinan, kalianlah sendiri yang tentukan. Kita bertemu lagi di sini besok pagi membicarakan hasil runding kalian”

***

Matahari merangkak naik, baru hanya sejengkalan di atas bukit lelemangura. Mereka telah duduk bersidang. Sidang menentukan bagaimana strategi melawan. Maka disepakati di sidang itu, armada Labolontio akan dihadang setelah melewati Lambelu. Di situ ada sebuah teluk yang sempit menjorok masuk jauh ke dalam. Teluk itulah yang dinamai Kapontori.

Di muka mulut teluk Kapontori itulah Boneatiro kampung pantai berpasir putih berada, di ujungnya terdapat tanjung. Semua armada Labolontio harus digiring ke tanjung itu karena peperangan golaknya akan berpusat di sana. Tanjung itulah kemudian dinamai Tanjung Kapoloka. Ia diapit dua pulau kecil, pulau pendek di Utara dan pulau panjang di Selatan.  Dahulu dua pulau itu dihuni banyak orang Sama. Sekalipun mereka berkawan dengan para bajak rompak tetapi mereka juga tidak bermusuhan dengan kelompok-kelompok di luar bajak rompak.

Mereka adalah manusia bebas, berkawan dengan siapapun tetapi tidak juga bermusuh dengan siapapun. Mereka menerima siapapun yang datang asal tentu tidak mengganggu komunitas mereka. Tetapi mereka sadari sedang tinggal di wilayah kuasa kerajaan Buton, maka mereka patuh, dan wajib tunduk pada kuasa kerajaan.

Beberapa pasukan bisa ditempatkan di dua pulau itu untuk nanti mengurung armada Labolontio ketika telah melewati muka teluk Kapontori, mendesak mereka masuk mencapai tanjung Kapoloka itu. Dalam hitung-hitungan ahli perang kerajaan jika itu berhasil dilakukan maka Buton bisa dengan mudah memenangkan peperangan  karena para bajak rompak itu lihai perangnya hanya di laut saja. Jika mereka keteteran di laut maka kekalahan di darat menunggu mereka.

***

Dari Utara Kulisusu, armada Labolontio mulai menaikan layar. Sauh ditarik kembali ke palka, semua awak diperintahkan kembali ke kapal bersiaga memulai pelayaran. Hari baik menurut-hitung-hitung ahli nujum Labolontio telah datang. Mereka sudah harus bergerak hari itu juga sebelum fajar naik mengantar matahari terbit. Maka tampak para bajak kelimpungan karena perintah yang datang tiba-tiba itu. Banyak dari mereka yang masih terlelap tidur dan terkantuk-kantuk, tetapi ketika Labolontio memekik sebagai perintah memulai berlayar, buyar hilang kantuk semua mereka itu.

***

Tanpa diketahui armada Labolontio, pasukan kerajaan Buton diam-diam telah bersiap menyambut datang mereka di Boneatiro. Komando di bawah langsung raja Mulae. Kelompok-kelompok pasukan disebar sebagaimana telah direncanakan dan mereka sepenuhnya bersiaga. Lakilaponto, Manjawari, dan Betoambari mendampingi raja Mulae menunggu datang pasukan Labolontio di Boneatiro, di tanjung Kapoloka.

Samar-samar terlihat di kejauhan layar-layar kapal armada Labolontio mulai terlihat, itu pertanda barang hanya beberapa jam lagi peperangan akan mulai berkobar.  Mereka mungkin telah mendekati Lambelu dan sebentar lagi akan melewatinya. Mulut teluk Kapontori yang menganga itu tak lama lagi di lalui pula, maka seluruh pasukan bersiap sebagaimana perintah di mula-mula, maju serang ketika tepat armada Labolontio berada di tengah mulut teluk itu.

Kapal–kapal armada Labolontio berjalan menggaris laut teluk Buton yang teduh. Angin dari Utara berhembus agak kencang menambah laju seluruh arakan kapal mereka itu. Lambelu telah di belakang mereka dan kini moncong kapal-kapal mereka sebentar lagi memasuki mulut teluk Kapontori. Mulut teluk yang tanpa mereka ketahui telah dipakai bersiaga pasukan kerajaan Buton yang akan melumat mereka, memorandakan seluruh armadanya.

Suara gemuruh datang bergelombang dari mana-mana arah. Pasukan yang disiagakan di pulau Panjang dan pulau Pendek keluar menutup gerak maju armada Labolontio. Tak pelak, mendapat serangan tiba-tiba begitu, para bajak linglung diserang panik. Mereka berlomba mengambil senjata bersiap menghadapi serangan yang datang menujui mereka. Perang kemudian terjadilah.

Ketika matahari mulai turun condong ke barat, pasukan Labolontio tampak mulai keteteran. Banyak dari awaknya menjadi korban terbunuh. Yang tersisa kemudian didesak ke pantai Boneatiro, di tanjung Kapoloka. Di sana raja Mulae dan para kesatrianya menunggu dan mengamati pertempuran laut itu. Labolontio kian terdesak, terus ditekan hingga ke pantai Boneatiro. Di pantai Boneatiro, Labolontio mengamuk tak terkalah. Amarahnya meluap melihat kapal armadanya telah binasa. Sepasukan kecil datang menyerangnya. Ia membiarkan badannya ditusuki tombak sebelum kemudian mengambil satu-satu mereka itu dan melemparnya ke lautan.

Mulae memerintahkan Betoambari maju melawannya, yang lain disuruh mengamati memerhatikan kelemahannya. Mereka beradu gesit silat, saling serang membunuh, jurus-jurus mematikan keluar diperagakan. Tetapi Labolontio memang lincah dan Betoambari kalah gesit. Ia hendak menarik langkah maju tetapi tangan Labolontio melayang lebih cepat mengenai mukanya. Ia tersungkur jatuh berkumur darah kena pukul tangan kasar Labolontio.

Manjawari pun majulah, dalam gerak silat yang memukau. Tetapi si bajak mata satu itu tak surut nyali. Ia segera pula menarik langkah meladeni. Ia sigap dalam siaga, matanya awas menunggu gerak maju Manjawari. Ia mengambil langkah maju hendak menyambut gerak datang Manjawari itu. Bertukarpukullah mereka itu dalam jarak sangat dekat sekali. Pisau pusaka masing-masing kemudian dihunus keluar dari sarungnya, ditelanjangkan. Saling tusuk menikamlah kemudian mereka itu, tak ada mempan tak ada terlukai. Kulit mereka termanterai kebal, kuat menembaga, alot sebagai baja. Tetapi kemudian Manjawari tersuruk kalah, disepak jatuh Labolontio.

Lakilaponto kemudian melompatlah turun. Ia menyandang keris pada tangannya, maju dalam gerak silat yang kacau. Ia melangkah kempang pura-pura. Melihat itu Labolontio membahak tertawa-tawa, seluruh badannya terguncang karena tawa bahakannya itu. Berkata: “Pulanglah kau kembali urusi anak istrimu, sebelum kau kulumat sebagaimana dua kawanmu itu”. Melanjutkan: “Lihat, mereka yang kuat sempurna saja kutekuk takluk tak berkutik, apalagi kau yang cacat dan melangkah kempang?”

Lakilaponto tak peduli, ia sigap terus merangsek maju mengikut komando raja Mulae. Menyadari diserang, Labolontio menarik langkah siaga. Keduanya kemudian bergelut adu kuat, bergulat adu otot, saling ganti menikam tusuk. Tak ada kalah, tak ada tertembusi kulit dagingnya. Pisau besi itu luluh majal lantak jatuh membanting diri ke tanah sebelum sampai mengenai kulit daging mereka.

Maka masing-masing dari mereka manarik langkah mundur, mencari lemah dan mengatur jarak siasat. Lakilaponto melompat mengguling diri, mengambil keris pusakanya yang lantak jatuh ke tanah. Seonggok tanah pasir laut digenggamnya. Dalam gerap cepat serupa kilat, ia maju menyemburkan itu ke muka Labolontio. Labolontio linglung dalam panik, matanya penuh dengan pasir tanah laut. Ia tak dapat melihat, gerak silatnya kacau memukul tak terkendali. Ia meraung serupa singa menggumuli mangsa. Tuah mantera benteng dirinya seketika hilang, kebalnya terlepas dari badannya. Lakilaponto tak melewatkan kesempatan itu. Ia menghujamkan kerisnya tepat di dada Labolontio. Keris bawaan lahirnya itu tembus melukai dada Labolontio. Ia kemudian terkulai, tersungkur jatuh, tewas mencium tanah.

Tengkorak Labolontio
Konon setelah prahara di Boneatiro itu usai, kepala Labolontio diambil sebagai bukti persembahan ke raja Mulae. Kepala pimpinan bajak rompak Tobelo itu kemudian di bawa ke Kaimbulawa, sebuah kampung di timur pulau Siompu. Di sana kepala itu disimpan dalam sebuah gua yang dirahasikan. 

Lakilaponto naik menikahi Watampaidongi yang juga digelari Borokomalanga karena berleher panjang, cantik ayu rupawan. Ia naik memerintah menggantikan Mulae setelah wafatnya. 22 tahun dalam masa kerajaan dan 24 tahun dalam masa kesultanan. Ia memerintah selama 46 tahun lamanya.  kelak anak turunannya menjadi penerusnya memegang kuasa dan melanggengkan trah dalam klan yang mereka namai sendiri--Tanailandu.










2 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB