Politik Para Sangkuni

Saturday, 9 February 2013 0 komentar


POLITIK adalah pisau sebilah, dua ujung sisinya menghunus tajam sekali. Orang-orang cerdas yang bijaksana memakainya untuk membedah menyembuhkan, bahkan pada lawannya sendiri sekalipun. Orang-orang dungu yang dangkal dan sesat cara berpikirnya justru dipakai itu untuk menikam membunuh bahkan pada kawannya sendiri sekalipun.

Dan politik bangsa ini tampaknya masih dalam kuasa para penikam ini, mereka membunuh rakyat dengan praktek korupsi yang masif, berjamaah dalam puluhan, ratusan milyar, bahkan triliunan rupiah jumlahnya uang negara yang milik rakyat itu dikuras, ditilep lalu masuk diselip ke kantong-kantong safari pribadi mereka sendiri, dan di layar kaca mereka tanpa malu bersenyum-senyum ria, memamer muka  dengan santainya tanpa perlu bersalah perasaan.

Lakon wayang epos Mahabarata kemudian dihampar sebagai serupa ndagelan alur politik nasional yang akhir-akhir ini bergulir menggelinding berjalan naik memanas, keras, dan penuh intrik. Gonjang-ganjing melempar isu, tarik-menarik merebut dan meributkan kuasa dan saling serang menohok menjatuhkan tertampil vulgar norak sekali di muka layar kaca. Rakyat bangsa ini disuguhi lagi parodi wayang purba yang laku suasananya terus aktual, relevan bahkan sekalipun di zaman yang telah sebegini maju beradabnya.

Adalah Sangkuni, seorang yang dalam kitab kisah epos Mahabarata digambarkan sebagai berkarakter licik, penghasut, pemraktek pragmatisme, dan segala-gala laku antagonis merusak lainnya melekat padanya. Ia adalah paman Kurawa dari pihak ibu yang juga dekat dengan Pandawa tetapi memakai kedekatan pura-pura itu sebagai jembatan menaklukkan Pandawa dan mendapatkan kuasa di kerajaan Astina.

Ia melangkah dengan lihainya, mengendap diam-diam menghindari diendus, serupa jalan lindap harimau yang mengintai mangsa, bergerak ia dalam muslihat menipu, membiakkan perkubuan yang memanasi lalu menyebar syak wasangka, memakai tangan orang lain untuk memukul dan kemudian bergerak sigap merebut menaiki istana Indraprastha dalam intrik main dadu yang menipu.


Hal serupa ini pernah juga terjadi dalam sejarah rebut kuasa raja-raja Jawa. Adalah Arok seorang berandal rampok yang melakukan kudeta menaiki kuasa dengan merangkak. Ia membunuh Akuwu Tunggul Ametung dan lawan-lawan perintangnya tidak dengan tangannya sendiri. Tangan orang lain harus melakukannya. Ia hanya berdiri dan mengambil jarak secukupnya dari peristiwa itu. Hukum tak menyentuhnya karena miskinnya bukti keterlibatannya. Maka ia naik kuasa mendapatkan tahta, harta sekaligus juga merengkuh wanita idaman yang diimpikannya—Ken Dedes. Nampaknya Arok ini belajar juga dari epos Mahabarata, ia belajar bagaimana berlaku licik dari sang mahaguru purba kelicikan: Sangkuni.

* * *

SIAPA yang ditohok Anas sebagai Sangkuni itu? Politik selalu menyerang dalam samar, memukul dalam gelap, maka apa yang dilemparnya itu hanya menguap mengawang-awang. Ia seperti angin, tak terlihat tapi dapat dirasai.  Tetapi jika merunut duduk sama kelompok mana ia bersoal maka dapat telanjang diamati ke faksi mana tohokan itu dilayangkannya. Ia tampaknya menyasar beberapa orang di Majelis Tinggi Partai yang tampak getol meminta SBY turun tangan dan mendesaknya "legowo" melepas jabatan ketua umum partai yang disandangnya.

Dari karakter dan pembawaannya yang tampak santai dan tenang, sosok Anas mewakili karakter Yudhistira dalam epos Mahabharata. Sebagai kakak tertua dalam klan Pandawa, Yudhistira digambarkan sebagai penaung dan pengayom tempat mengambil contoh bagaimana bersopan santun. Tetapi benarkah yang tertampil itu telah seperti juga yang tidak terlihat mata? Ini dunia politik, dunia dimana sandiwara dihampar sejadi-jadi yang dimau, bahkan sampai mimik muka sekalipun diatur untuk tampak santai, tenang, sekalipun dalam suasana batin tertekan dipojokkan sekalipun.

Tetapi  ketika nama Anas disebut-sebut terlibat kasus korupsi Hambalang, jangan-jangan ia sendiri ini adalah juga Sangkuni, Sangkuni yang berkedok meminjam watak dan muka Yudhistira yang kalem, santai, tenang, dan lemah lembut itu. Di tengah gulitanya alur jalan politik bangsa ini kita nyaris tak bisa membedakan mana Sangkuni dan mana bukan Sangkuni. Semua-mua politisi sibuk berebut baju Pandawa untuk kemudian dikenakan dipamer di muka umum sebagai seakan-akan laku mereka semua itu mulia serupa laku para Pandawa itu.

Sejak kasus ‘Sapi’ yang menyeruduk para petinggi partai yang selama ini menggaungkan bersih dan memakai agama sebagai ‘baju’ nya kita semua ternganga kaget, seketika runtuh kepercayaan pada seluruh politisi bangsa ini. Harapan yang begitu besar pada partai para alim ini agar membersihkan bangsa ini dari ‘noda’ dan kemunafikan gila tahta, harta, wanita, tersuruk meriut masuk jurang kelam kekecewaan. Sangkuni memang telah dimana-mana, ia menggerogoti seluruh bagian badan bangsa ini.

Kesangkunian Anas akan ditentukan oleh lembaga anti rasuah negeri ini—KPK. Jika ia ditetapkan sebagai tersangka maka telanjang dan tampaklah bahwa dia sendiri juga adalah Sangkuni sebenarnya. Sangkuni yang teriak Sangkuni. Sangkuni yang menuding Sangkuni. Tetapi jika ternyata tidak cukup bukti ditersangkakan maka ia akan menjelma Yudhistira. Ia akan melambung menaik tinggi bahkan bisa mencapai puncak kuasa sebagaimana jalan para Pandawa menapaki kembali istana Indraprastha.

Dan kini, Anas, seseorang yang dulu menudingi kawanannya sebagai Sangkuni itu telah ditetapkan sebagai tersangka dan bahkan ditahan pula. Diakah juga Sangkuni sebenarnya yang berkedok muka dan watak Yudhistira sebagai seorang bijak nan ramah dalam klan Pandawa? Benarkah sebenarnya ia Sangkuni, ataukah disangkunikan? Sebab bukankah dalam politik yang "tidak bisa", bisa menjadi "bisa"?


Ah, di negeri ini memang terlalu banyak Sangkuni, kita memerlukan Bima atau Nakula untuk membunuhi mereka. Negeri ini sedang dalam kuasa genggam para Kurawa yang di situ Sangkuni duduk ongkang kaki dengan angkuhnya sebagai patihnya. Kita memerlukan para Pandawa datang membawa dan memberi selamat. Kita memerlukan Kuruserta. Kita memerlukan Baratayudha sebagai medan untuk menghabisi para Sangkuni dan menyelamatkan bangsa ini dari kelam keterpurukan dan gelutan wabah korupsi akut yang massif.

di edit di Jakarta, 24 Februari 2014 




0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB