Nasib Naas Anas

Friday, 22 February 2013 0 komentar


Drama Anas akhirnya mencapai klimaks. Lembaga anti rasuah KPK mengambil upaya cegah tangkal (cekal) dan menetapkannya sebagai tersangka kasus Hambalang. Ia menyusul rekan-rekan separtainya sendiri yang telah mendahului dijerat. Oleh KPK anas dituduhkan melanggar pasal 12 huruf a atau huruf b atau pasal 11 undang-undang Tipikor. Pasal ini menyasar gratifikasi atau penerimaan hadiah bagi pejabat negara.

Tetapi mengapa Anas seperti alur penersangkaannya berjalan ‘ngesot’, lamban dan melihatkan kegalauan di internal lembaga penersangka? Mengapa harus ada cabut tanda tangan dari salah seorang komisioner? ini melihatkan gejolak dinamika yang keras dalam badan lembaga anti korupsi bangsa ini. Dari sinilah kemudian sebagian orang melihat sinis, nyinyir dan pesimis. Bahkan advokat senior Dr. Adnan Buyung Nasution memerlukan angkat  suara “Jika KPK enggan memperbaiki diri, lebih baik bubarkan saja”. Begitu kata beliau.

Inilah politik “Nabok Nyilih Tangan” tulis Anas dalam status facebooknya. Intrik menampar memakai tangan orang lain. Inilah politik, ruang yang selalu meminta tumbal. Sekuat apapun bantahan dari lembaga anti rasuah KPK, publik sulit untuk tidak membaca bahwa kasus Hambalang yang menyeret Anas ini sebagai parodi yang telah diintervensi, ada banyak tangan yang meremasinya. Terlepas dari bersalahnya Anas, proses jalan menersangkakannya yang berliku, alot tentu mengundang curiga dan cibiran.

Beberapa saat setelah status tersangka dilayangkan dari Jalan H. R. Rasuna Said, memakai BBM nya, Anas membalas itu dengan menulis status dalam Jawa "Nabok Nyilih Tangan" yang artinya kira-kira “memukul memakai tangan orang lain”. Siapa yang memukul Anas? Mengapa harus memakai tangan orang lain? Tangan siapa yang dipakainya itu? Tentu itu berondongan tanya yang bisa dikemukakan

Anas memang naas. Ia telah gesit melompat menghindari jeratan sinisana dengan kalem, tenang, dan seperti terlihat santai. Tetapi ia akhirnya kesandung juga, jatuh dan terkulai tanpa daya. Maka sepandai-pandai tupai melompat, ada saatnya pasti ia jatuh juga. Inilah yang sekarang dirasai Anas, ia jatuh dan tersuruk. Tetapi benarkah ia naas ataukah dinaasi? Ah, Anas yang naas, siapa yang naboki? Tidak  mungkin tangan kaum kecil yang lancang, pastilah tangan sesama kalian yang punya kuasa.

Anas orang kuat karena ia punya kuasa. Ia memimpin partai penguasa di republik ini. Gonjang-ganjing sprindik yang bocor dan tarik ulur penersangkaanya yang alot, rumit, berlarut dan seperti melibatkan banyak tangan adalah bukti punya kuasanya itu. Jika ia orang biasa yang tak punya kuasa, maka pasti telah lama diseret secara kasar, dijeblos disurukkan ke dalam sel tahanan yang pengap.

Bola panas terus mengalur, menggelinding serempet sinisana. Kita akan melihat bagaimana Anas melawan penaasannya itu. Saan, loyalisnya di partai melihat kebingungan, ia tak bisa membedakan ini peristiwa hukum ataukah politik? Sepertinya mereka sedang kaget sang ketua yang diloyalisi mereka itu tak dikira akhirnya bisa ditersangkakan. Tak dikira akhirnya bisa dijerat juga.

Maka kita menunggu bagaimana Anas melawan, ia adalah politisi, politisi yang bukan abal-abal. Ia adalah politisi kelas kuasa yang elit dan sebagai politisi kelas kuasa yang elit itu tentu ia tahu bagaimana sebaik-baik melawan, bagaimana  sebaik-baik mengambil sikap.


0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB