Melawan Tuhan?

Friday, 1 February 2013 0 komentar


Nietszche bangkit amarahnya ketika di muka mata hidungnya disaksikannya praktek melawan agama yang justru dilakukan oleh mereka-mereka dengan simbol-simbol dan jubah agama di badannya. Para penyeru kebaikan yang tahu dosa justru menjadi pelaku dosa itu sendiri. Sebagai yang tercerahkan, ia kemudian berteriak lantang keras sekali, bahkan gaungnya masih terdengar hingga kini “Tuhan telah mati” katanya.

Ia mengutuk gereja karena justru tidak hanya menjadi biang pemicu tetapi juga menjadi pemacu laku amoral, serakah dan keculasan. Segala perilaku yang dilarang Tuhan justru muasal datangnya dari tempat yang katanya rumah-NYA itu. Ini aneh dan seperti satire yang memuakkan sekaligus juga memualkan. Maka ia mengutuknya, mengutuk sehinanya para pendagel itu.

  
Di Amerika Serikat, dua bersaudara yang terlahir dalam rumah kudus seorang pendeta  justru berkeliling mengampanyekan “Melawan Tuhan”. Ketika ayah mereka berkeliling menyampaikan khotbah mengenai bagaimana sangat besarnya kasih Tuhan dan mengajak orang-orang mencintai Tuhan, dua bersaudara itu justru mengambil jalan melawan dari yang disampaikan ayah mereka itu, mereka menolak Tuhan dan menyebut para pengkhotbah sebagai pendagel yang berdusta.

Di balik semua sikap mereka yang kontras itu ternyata sebabnya karena pendeta yang adalah ayah mereka itu berlaku jauh melenceng dan melawan dari semua yang dia sampaikan itu. Di rumah ia tak berkasih, tak bersayang pula. Ia selalu memukuli kedua anaknya itu bahkan juga ibu mereka. Ia suka bermain perempuan dan meminum minuman keras. Pendeta yang juga ayah mereka itu tampil penuh berkasih dengan jubah ‘wakil’ Tuhan hanya ketika ia di muka umum. Ia memakai agama hanya sebagai topeng dan tameng melindungkan keburukannya. Di balik jubah agamanya ia adalah seorang culas yang serakah.

* * *

Di negeri ini agama hanya dipakai sebagai simbol riya berprestise saja. Ada banyak yang bersongkok haji, banyak di antara mereka telah lebih dari sekali mendatangi tanah suci tetapi substansi sifatnya tak ‘haji-haji’, tak ‘suci-suci’ kelakuannya tak berbeda ketika telah haji dan sebelum haji.

Banyak pula yang mengambil agama sebagai tameng berlindung diseret-seret memasuki politik praktis. Mereka semua itu tampak fisik luarnya sebagai ahli ibadah, jidat hitam sebagai tanda banyak bersujud, sembahyangnyapun rajin bukan main tak bolong-bolong. Setiap berkata tak lepas membawa sebut nama Tuhan, memulai dengan Basmalah, tasbih tak pernah lepas melingkari tangan dalam genggaman, tetapi ketika datang uang dalam milyaran jumlahnya, matanya linglung hilang imannya.


Tampak benar pragmatis mengejar kuasa, dengan menggandeng umat sebagai bargainingnya. Setiap pemilu presiden atau bahkan pemilukada selalu saja menggandeng pada penguasa yang berduit tak peduli bagaimana rusak hancurnya moral sipenguasa itu. Moralitas calon usungan yang seharusnya menjadi prioritas perhatian dan pusat pertimbangan diusung sebagaimana perintah agama diabaikan oleh jumlah mahar yang bermilyar-milyar besarnya dan hanya karena popularitas. Maka kemudian saya membatin, bahkan sekalipun mungkin setan yang maju sebagai calon jika ia menyodorkan mahar yang besar dan memiliki popularitas yang tinggi akan didukung pula. Di sini modal mengalahkan moral, kuasa mengalahkan agama. Tidakkah mereka tahu bahwa sikap mereka itu melawan Tuhan? Ah, mereka semua beragama, tentu pasti mengetahui.

Jika benar Islam diambil sebagai patron dalam menilai pemimpin maka persetan dengan milyaran uang, tak akan berpengaruh popularitas hasil survei. Yang akan diambil adalah siapa yang memenuhi syarat kriteria secara Islami. Kalah-menang itu hal biasa. Bagi yang sungguh-sungguh mengimani Islam justru lurus dalam mempedomani Islamlah itu kemenangan sejati.  Jika elit partai yang melabeli dirinya dengan Islam itu sungguh lurus berjuang dalam agama, maka dunia materi bahkan jikapun disatukan dari seluruh isi bumi fana ini tak akan mampu menggodai iman mereka.

Tetapi karena semua dilihat pragmatis, Tuhan pun kemudian dimanipulasi bagi kepentingan sepihak. Kesalehan keagamaan menjadi terasingkan dari praktek kemanusiaan. Sementara itu peradaban modern juga gagal berbuat adil dan membela kaum tertindas yang dihimpit kemiskinan. Gejala yang muncul diberbagai kawasan bangsa-bangsa berkemajuan industrial ataupun agraris ini lebih membenarkan kritik Karl Marx atas agama sebagai ‘candu’, tesis kematian Tuhannya Nietszche, dan “alkoholisme” dari kelompok Weberian

Ketika yang disebut oleh mereka itu sebagai ‘musibah’ turun menimpa, elit partai dan gerakan Islam secara stereotype selalu menyatakan kegagalan partai dan gerakan Islam lebih disebabkan oleh adanya ‘konspirasi’ kekuatan anti Islam. Ironisnya dengan mudah kelas elite ini menuding dan menempatkan organisasi atau partai lain yang juga bernafas Islam sebagai pendukung ‘konspirasi’ anti Islam. Bertambah lebih ironis lagi ketika kelompok-kelompok yang selama ini dilihat kritis dan bersebarangan secara ideologi juga dengan mudah dituduh sebagai ikut andil merusak.

Maka kata-kata Imam Ali r. a. menjadi mendesak direnungkan: “Jangan lihat siapa yang bicara, tetapi lihat dan dengarlah apa yang dia bicarakan”. Itulah daripada sibuk mencari kambing hitam untuk kemudian ditudingi sebagai bersalah mendesain ‘konspirasi’ lebih baik bersegera Istigfar mengingat-NYA sebelum DIA melihat kalian semua sebagai melawan-NYA.





0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB