Laut, Pantai, dan Cinta

Thursday, 21 February 2013 0 komentar


Saya mencintai laut sebagaimana pantai dengan pasirnya. Ia setia menunggui gelombang datang menjamah menjilatinya. Laut adalah keindahan penggalan surga yang dikirim Tuhan ke bumi. Kadang-kadang jika melihat biru laut menghampar teduh, saya seperti sedang melihat Tuhan, bersegera kemudian memuji kebesaran-Nya.

Saya mencintai laut, sebagaimana cinta guntur pada kilat halilintar. Mereka setia saling berikut. Jika halilintar menggaris langit dengan kilatnya, guntur setia mengikut dengan dentum gelegarnya. Saya mencintai laut  sebagaimana malam mencintai gelap, atau siang dengan terang, atau lesung dengan alunya, atau busur dengan panahnya.

Laut adalah kekasih pantai, dan pantai adalah kekasih yang pengasih bagi laut. Mereka bercumbu, laut yang datang memeluk melalui arus pasang. Ia menjilati kekasihnya itu memakai lidah yang ia julurkan sebagai gelumbang. Maka sebagaimana langit yang lelaki dan bumi yang wanita, laut adalah lelaki dan pantai wanitanya. Mereka berdua sanggama, lahirlah kemudian ikan-ikan, karang-karang dan segala mahluk laut lainnya.


Laut adalah pacar pantai, siklus bertemunya mengikut bulan di purnama. Jika bulan masih dalam sabit, laut menaik pasang memeluk pantai mengemonginya mesra sekali. Ia baru akan menarik diri surut menjauhi pantai ketika bulan telah mendekat di purnama, mungkin ia malu sinar cahaya purnama menerangi saat bercinta mereka. Tapi juga mereka tak luput salah, bahkan seringkali sekalipun di purnama laut pasang naik memeluk pantai dekap erat sekali.

Maka menjadilah seperti pantai, sabar dan pengasih. Ia menerima saja apapun yang dibawakan laut karena ia sadari bahwa yang ia dapatkan itu adalah yang telah ia buatkan. Maka jika telah membuatkan bagaimana bisa tidak menerima? Oh pantai kau sungguh seorang kekasih yang pengasih.



Ada banyak orang yang hanya bisa berbuat tetapi sangat sedikit dari mereka yang mau menerima dibuat seperti yang telah diperbuatnya itu. Mereka berbuat  curang pada orang lain tetapi ketika Tuhan mengembalikan yang dibuatnya pada orang lain itu ke dirinya, mereka marah dan menuding Tuhan sebagai tak adil.

Ada banyak di depan mata yang sibuk melihat borok orang lain di luar, lupa pada borok salah sendiri. Mereka sibuk mencari kekasih terbaik yang luput dari noda dosa tanpa mereka sendiri berusaha meluputkan diri dari berbuat noda dosa itu. Mereka ini seperti tak tahu bahwa jodohnya adalah bagaimana dirinya, bahwa yang akan didapatkannya adalah bagaimana diri dan apa yang telah dibuatnya.



* * *
Saya melihat laut dari bukit Kolema di musim kemarau yang panas, teduh menenangkan. Kapal-kapal berseliweran mondar-mandir antara daratan bersebelahan. Ombak-ombak kecil yang meriak sesekali memukul lambung kapal. Laut berkilat silau oleh matahari kemarau yang cerah. Tapi sore-sore, ketika matahari turun mendekati ujung laut, warna kesumba bersemburat keluar memenuhi angkasa ufuk barat. Indahnya bukan main.

Ketika malam turun dari langit, ia membawa gelap pada datangnya. Lampu-lampu kota menggantikan matahari. Laut mandi cahaya lampu kota yang nyala sinarnya memantul di permukaan laut. Udara malam bertiup sepoi turun dari gunung, hawa bukan main dinginnya. Kurapatkan kancing jaketku dan secangkir sarabba kugamit kuseruput, hangat jahenya mengusir dingin angin. Pikiran saya melanglangi laut, pantai dan segala yang mengganjali hati terlepas bebas. Laut, pantai selalu bisa menjadi tempat melarung segala kekalutan, melepas segala kalap.

* * *
Musim barat datang membawa gemuruh. Laut di muka teluk Baubau bergolak. Angin berganti-ganti tak tentu arah datangnya. Tetapi yang berhembus dari Utara sangatlah keras membikin gelumbang bergulungan. Tanjung buatan di Kota Mara menjadi sasaran hempasan ombak. Tampiasnya meluberi jalan, membasahi badan muda-mudi yang ngumpet berkasih disitu.

Saya melihat di Pantai kamali, perahu-perahu Jarangka Puma dan Speedviber Wamengkoli berseliweran menari diantara punggung gelumbang laut musim barat. Di kejauhan tampak gulungan gelumbang pecah tampias menghantam karang tebing. Saya bergumam membatin “Bagaimana gulungan ombak begitu bisa dilawan dilalui?” 

Saya meneguk kopi panas yang mulai dingin, dan tiba-tiba tangan seseorang disodor minta disalami. Kulihat lekat-lekat pada mukanya. Ditariknya melebar bibirnya, membikin lesung pada pipinya. Ia tersenyum manis cantik sekali. Dia pantaiku, kekasih yang pengasih. Dia datang menemui lautnya. Akulah itu lautnya.

Bersambung,

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB