Posuo, Ritual Menguji Kesucian Gadis Buton

Thursday, 17 January 2013 0 komentar

Sapuan asap Dupa ke muka dan badan gadis yang di Posuo
ASAP dari dupa bergulung-gulung mengepul naik memutari langit-langit sebuah kamar yang sempit. Bau harum kemenyan menyebar semerbak. Seorang Parika tampak khusyu berkomat-kamit dalam Wolio  merapal mantera pemberkatan. Di muka hadapannya duduk berderet-deret para gadis, dalam pakaian adat Buton. Tampak anggun semua mereka itu. Rambut disanggul ke belakang, ujungnya membengkok diruncingkan seperti ekor kumbang.  

Asap kemenyan yang semerbak itu kemudian disapukan keseluruh badan perempuan-perempuan yang di-Posuo. Dan mereka hanya duduk menunduk, berpasrah diri membiarkan asap dupa itu melelehi seluruh badan tubuh mereka. Inilah sesi Panimpa dalam ritual adat Gadis Buton, ritual yang disebut Posuo. Ritual yang menguji kesucian dan kesungguhan menjaga diri. Ritual perempuan belia yang beranjak memasuki masa gadisnya, ritual perempuan dewasa yang hendak meniti memasuki rumah tangganya. 

Para Gadis Peserta Posuo

Posuo adalah gabungan dua kata dalam Wolio: Po adalah prefiks (kata depan) yang menjadikan sesuatu (kata yang dilekatinya) bermakna verba/kata kerja. Dan Suo adalah ruangan bagian belakang rumah. Orang-orang Buton memang memberi nama-nama khusus pada bangunan rumah tinggal mereka. Jika bagian belakang disebut Suo, maka bagian depan rumah disebut Bhamba. Jadi sebenarnya Posuo secara harfiah dapat dimaknai sebagai melakukan sesuatu di ruang belakang rumah.
* * *

Sesi Pauncura telah dimulai. Sesi mula-mula dalam ritual Posuo. Nama-nama semua yang di-Posuo disebutkan sepenuh takzim satu-satu. Segala-gala aturan diterangkan disitu dengan tanpa disela. Dalam delapan hari delapan malam mereka diharuskan tak melihat dunia luar, bahkan keluarga pun tak dibolehkan datang menjenguk. Sepenuhnya kini mereka di dalam pengawasan dan tanggung jawab seorang tua yang ditunjuk adat sebagai Bhisa.

Bhisa adalah seseorang yang dianggap memiliki kelebihan batiniah. Ia dipercaya bisa melihat yang tak bisa dilihat orang lain pada umumnya. Bisa mengetahui yang oleh umumnya orang tidak diketahui. Ia memiliki pengetahuan yang luas mengenai tatahidup yang baik. Darinyalah seluruh peserta Posuo belajar mengambil hikmah, menimba sebanyak-banyaknya ilmu selama delapan hari delapan malam itu. Hikmah yang diambil itu adalah segala kearifan, ilmu yang ditimba itu adalah segala pengetahuan berperilaku sebagai gadis dan perempuan yang baik di mata agama Islam
* * *
Sebuyung air yang telah dimanterai ditumpah disiramkan ke setiap badan peserta Posuo. Air itu adalah air suci yang diambil dari beberapa sumber mata air pilihan. Dalam mandi itu seorang yang diposuo harus memakai sarung yang sarung itu nanti selamanya umur tak boleh dipakai lagi. Ia dilarung ke laut, atau ke kali berarus, berharap segala noda terikut diperginya sarung itu.

Malam pertama Posuo dilalui dalam nasehat. Bhisa telah menjelma Pandora yang sinar cahaya berkilau memesona. Ia menjadi pusat perhatian seluruhnya peserta Posuo.  Bicaranya seperti sabda yang turun tanpa boleh disela, tanpa bisa dibantah. Ia bicara lantang, seperti gelegar guntur tanda hujan hendak turun. Ia duduk sepenuh takzim, dan semua gadis yang di-Posuo datang merapat merubunginya, dalam takzim pula mendengar semua apapun bicara yang diucapkanya.

Usai menumpah nasehat, Bhisa sekali lagi mengingatkan pentingnya mematuhi semua aturan. Semua gadis yang di-Posuo resmi memulailah menjalani ritual. Nyanyi Maludu kemudian mengalun syahdu sebagai menyambut dimulainya ritual. Nyanyi  lirih meluruh dalam lagu menyayat. Semua-mua isi lagu adalah menyesali telah menyia-nyiakan umur, menyesali telah melalui usia dan mencapai umur tanpa berbuat hal berguna bermanfaat.

Di sinilah ini tangis para gadis yang di-Posuo pecah, ada yang berontak, meronta lalu menghambur membenam diri dalam gendong peluk ibunya, ada yang menggulingkan diri di lantai, ada yang memakai tumit menumbuki lantai, yang lainnya menunduk terkulai meremas lantai sembari menyeka mata yang basah, sebak. Mereka semua itu  tersentuh lirih syahdu lagu Maludu itu. Inilah malam yang dalam Wolio disebut Malona Tangia (Malam isak tangis).

Tangis Para Peserta Posuo

Menemani lagu Maludu itu, gong dan gendang dipukul bertalu sebagai pengiring. Yang memukul gendang bukan sembarang orang. Ia haruslah seorang yang ditunjuk pula oleh adat sebagai Bhisa. Gendang ditabuh memakai mistis. Malam pertama, semalaman gendang itu ditabuh tak berhenti. Hari berikutnya gendang ditabuh mengikuti aktifitas peserta Posuo, seperti saat mereka makan, saat mandi, dan saat meluluri badan dengan bedak. Orang-orang Buton meyakini bahwa jika ada gendang yang ditabuh itu pecah sobek kulitnya maka berarti telah ada yang tidak perawan diantara peserta yang di-Posuo itu. Ini biasanya hanya akan menjadi pengetahuan sesama Bhisa tidak dibawa sampai keluar diketahui umum.

Inilah Posuo, ritual budaya orang Buton yang mengajari perempuan berlaku baik mengikut tuntunan agama Islam. Darisanalah segala-gala adab berlaku sopan sebagai wanita tauladan diajarkan. Juga disanalah keperawanan diuji kesuciannya. Inilah jalan tanjak menikung para Kabua-bua (gadis remaja) menujui kehidupan baru mereka sebagai gadis Buton dewasa yang bersiap memasuki rumah tangga dan status baru sebagai Kalambe.

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB