Haroa Di Buton, Ritual Mengenang Arwah Leluhur

Thursday, 24 January 2013 0 komentar

Pembakaran Dupa
KULIT buah delima yang diirisi kecil dipercik mengenai dupa yang memerah berbara. Sentuhan kulit delima itu membuat bara dupa gemeretak, seperti rintih ranting kayu kering yang dimakan api. Asap kemudian mengepul-ngepul naik meliuk berlenggok dicumbu angin. Kulit buah delima yang dilahap bara dupa itu menjelma asap menyebarkan harum bau kemenyan. Sepenuh ruang tempat mendoa itu dipenuhi aroma dupa.

Tampak di samping dupa, berderet-deret dijajarkan talang dari tembaga yang diisi kue-kue khas Buton. Semua kue itu dibariskan berpasangan, harus genap tak boleh ganjil. Saya tidak tahu mengapa diadatkan begitu. Juga tampak nampan kecil yang di atasnya ada semacam kotak kecil yang ditudungi kain putih. Saya takut membukai tudung itu untuk melihat isi di dalamnya karena baru bergelagat saja. Ibu sudah menyela menghalangi. Berkata: “Jangan banyak menyentuh, tak boleh itu disentuh-sentuh, Sumanga nanti marah dan kau kena tulah dikirimi penyakit. Pemali!”. Saya pun menurut surut, meriut mundur seperti keong.

Kue Khas Buton

Orang-orang Buton umumnya mempercayai bahwa para kerabat yang telah meninggal sebenarnya hanya berpindah hidup ke alam lain.  Kematian badaniah tidaklah juga adalah kematian roh. Dalam pemahaman orang-orang tua Buton, roh tidaklah mati, sekalipun badan tempatnya bertinggal telah binasa diambil tanah. Ia terus bebas berpindah dan hidup. Itulah dalam Wolio roh disebut Lipa.

Lipa adalah kata dalam Wolio yang bermakna ‘berpindah’, atau ‘pergi’. Schoorl memakai kata ini untuk merujuk ke berpindahnya roh yang ia sebut sebagai reinkarnasi (Lihat Schoorl: 2003)

Bagi sebagian orang Buton, kematian badaniah tidak sertamerta memutus komunikasi dengan roh kerabat yang telah mendahului menghadap-Nya itu. Ini pula rupanya diyakini umumnya masyarakat Buton. Sehingga kemudian akan sering kita melihat ritual-ritual  yang dipakai sebagai media komunikasi dengan kerabat yang telah mendahului itu. Orang-orang Buton memberi identitas tersendiri kepada semua arwah leluhur itu dengan menamai mereka sebagai Sumanga.

Sumanga adalah arwah leluhur yang dipercayai terus memperhatikan, dan memerlukan pula diperhatikan. Jika tidak, mereka akan melakukan ‘protes’ dan menegur dengan mengirim tuah penyakit. Memang sulit dinalar ini bisa terjadi, tetapi bukankah yang terjadi di bumi fana ini ada banyak sekali yang tak bisa di nalar dan keluar dari pakem perangkap nalar akal? Beberapa orang tua yang saya tanyai bahkan menyebut Haroa itu sebenarnya adalah pembutonan kata ‘Arwah’ sebagaimana ‘Sahadha’ untuk ‘Sahadat’. Ini tentu memerlukan penelitian

* * *

Saya pernah mengalami sendiri, bagaimana suatu hari tiba-tiba jatuh sakit. Sebulan lebih saya sakit itu, segala obat telah habis dicoba. Semua mentok tak mempan, tak tertawar juga penyakit itu. Sakit seperti tak ada tanda-tanda akan sembuh, bahkan kian memburuk saja rasanya. Sampai suatu ketika seorang dukun kampung diminta datang melihat.  Hanya sekali sentuh, ia menyentuh tangan saya dengan punggung jari tengah dan telunjuknya. Ia meraba nadi pada gelangan tangan saya. Ia kemudian menolehi ibu saya, berkata: “Sumanga

Saya kemudian melihat ia menggamit tangan ibu saya dan berbicara sesuatu di sudut ruang tempat saya terbaring sakit. Sesudah itu kulihat ibu saya sibuk menyiapkan sesuatu. Kulihat beliau mengambil ceret kuning emas dari tembaga dan mengisinya dengan air. Dari kakak saya mengetahui bahwa beliau hendak ke kuburan tempat kakek saya dimakamkan. Saya tidak tahu apa yang dilakukan di sana. Tetapi sebuah keajaiban terjadi, sepulang beliau dari kuburan itu, sakit seperti dicerabut keluar dari kulit badan saya. Seketika hilang dan saya sembuh setelah didera sakit sebulan lebih lamanya.

Sejak itu saya memulai percaya bahwa para leluhur itu memerlukan juga diperhatikan. Badan tubuh mereka memang telah diambil tanah, tetapi roh mereka bebas berpindah dan terus hidup melanglangi langit bumi fana ini. Sejak itu dengan sendirinya saya ikutlah pula meyakini yang diyakini orang-orang sekampung bahwa sekalipun tak tampak di kasat, tidak kemudian disebut tidak ada. Ada dunia lain yang dinamai gaib, di sanalah tempat bertinggal segala yang disebut Sumanga.

* * *

Seorang yang kami memanggilnya Lebe duduk takzim menghadapi kami, tangannya mengeja tasbih, menarik-narik lembut bijinya satu-satu. Ia tampak berkharisma. Bajunya jubah putih, panjang menjuntai hingga mata kaki. Kepalanya ditutup songkok, juga sorban meliliti songkoknya itu. Ia kami  rubungi membentuk sepenuhnya lingkaran. Ia hikmat mendoa dalam khusyu. Kami mengikutinya hikmat pula dengan memejam mata, mengulaikan kepala tertunduk, dan mengangkat tangan tengadah selama dalam mendoa itu. Ayat-ayat Al-Quran mengalir fasih dari bibirnya. Ia lagukan indah semua ayat itu dalam logat ngaji Wolio yang membikin kulit daging bergidik merinding.



Suasana hening, bau harum dupa yang memenuhi hidung, juga irama lagu ngaji Wolio yang menaik turun itu menyebar mistis. Semua-mua larut, hanyut dalam suasana religi yang damai. Ketika Lebe mencapai ujung doa, ia menutupnya dengan meninggikan suara dan mengucap: “Amiin”, tanpa dikomando kamipun berkoor mengikutinya pula mengucap kata yang sama: “Amiin”. Tangan yang terbuka tengadah kemudian disapukan ke muka masing-masing sebagai mengharapkan doa itu dijabah diberkati.

Segala kue khas Buton  yang dideret memenuhi talang kemudian diserbu banyak tangan. Anak-anak kecil tampak saling berebut memilih kue yang disukai. Suasana mendoa yang tenang dan khusyu berganti riuh tawa ceria. Saatnya makan-makan dan prosesi selesai.

* * *

Inilah Haroa, ritual yang oleh sebagian orang Buton disebut sebagai mengenang arwah leluhur. Ritual bagi semua kerabat yang telah mendahului pergi menghadap-Nya. Inilah Haroa, ritual yang dipakai sebagai media menggamit tangan tangan arwah leluhur sebagai bentuk memerhatikan mereka, sebagai wujud tidak mereka dilupakan. Inilah Haroa, sarana silaturahim dengan arwah para leluhur. Inilah Haroa yang sekarang mengalami pemaknaan sempit sebagai hanya ‘makan-makan’ saja. Ia didangkalkan maknanya sebagai hanya  ritual biasa yang miskin faedah dan seperti tak membawa guna manfaat. 


0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB