Jejak Lakudo di Puncak Gunung Siontapina

Thursday, 6 December 2012 0 komentar

Ritual Sangka di Puncak Gunung Siontapina

DALAM kronik kisah Wolio, benteng keraton Buton pernah ditembusi masuk oleh militer Belanda di bawah pimpinan komandan Rijweber dalam sebuah penyerangan dinihari yang taktis, diam-diam, dan cepat. Para pembesar kesultanan lari keluar benteng mencari selamat. Yang tinggal melawan kemudian gugur terbunuh, sebagian dari mereka menyerah takluk. Peristiwa memilukan yang dikenang Buton sebagai sangat tragis itu diabadikan dalam memori tak dilupa sebagai—Zamani Kaheruna Walanda.

Saat itu benteng keraton dibakar, huru hara bukan main berjalan tak terkendali. Langit udara keraton gelap karena asap yang keluar membumbung dari pembakaran. Beberapa perangkat dan pejabat kesultanan gugur. Kapitalao Laode Suangkuabuso gugur menemui ajal, sapati, kenepulu, dan Bonto Ogena juga takluk di ujung bedil dan moncong senapan Belanda, mereka semua bersyahid di situ. Sultan sendiri menyelamatkan diri dengan mengungsi ke sebuah gunung di hutan dan mengatur siasat penyerangan balik dari sana. Gunung tempat mengungsi dan bersembunyi sultan itu dinamai Siontapina. 

Sultan Himayatuddin/Oputa Yi Koo

Karena lama bergerilya dan membangun perlawanan di hutan Siontapina itu, maka sultan yang mulia itu kemudian digelari sebagai Sangia Oputa Yi Koo (sultan keramat yang bertahta di hutan). Ia bernama kecil Lakarambau karena berbadan tinggi besar, gelar kesultanannya adalah Himayatuddin  Saiydi Ibnu Sultaani Liyauddin Ismail Muhammad Saiyidi, dan setelah tak menjabat beliau disemati nama sebagai Mosabuna yi Wasuamba. Beliau naik memerintah dua kali sebagai sultan Buton ke-20 tahun 1750—1752 dan Sultan Buton ke-23 tahun 1760—1763  

* * *

Tidak susah menemukan gunung Siontapina. Di situs gunung yang disakralkan oleh warganya ini masih rutin dilaksanakan upacara ritual yang mereka sebut sebagai penghormatan pada seorang Opu yang begitu mereka agung muliakan. Ritual itu mereka namai Bente Mosangka, Kota Momondo.

Ritual di Gunung Siontapina

Setiap tahun di bulan September puncak gunung Siontapina ramai dengan orang-orang yang datang berziarah. Mereka datang dengan bersemangat, berjalan kaki mendaki gunung dua hari dua malam tanpa berkeluh. Bahkan rombongan pendaki yang melalui jalur barat melewati desa Wasuamba dan memasuki puncak Siontapina melalui Lawana Kamaru baru bisa sampai di puncak setelah tiga hari tiga malam berjalan kaki. Berjalan kaki itu sepertinya adalah upaya napaktilas, mengenang pelarian Oputa Yi Koo

Saya terperangah melihat besarnya semangat mereka itu. Saya lantas mengingat benteng liwu di kampung saya yang berjarak hanya ‘sejengkalan jari’, menaikinya hanya memerlukan waktu 30 menit saja tapi hanya ada sedikit orang yang peduli mau naik mengunjunginya. Bahkan kepedulian sedikit orang itu dinilai pula sebagai tak membawa manfaat. Duh kok ada orang yang begini sempit cara berpikirnya? 
Arak-Arakan Menuju Puncak Gunung Siontapina

* * *

di puncak Gunung Siontapina tempat Oputa Yi Koo berdiam tinggal kutemukan jejak nama Lakudo di sana. Sisi barat benteng di gunung Siontapina di namai Lakudo. Di sisi barat itu terdapat batu besar pipih menyerupai Koncu Molepe di Liwu Lakudo. Sumber-sumber lisan lokal  menyebutkan bahwa batu itu adalah tempat biasa Oputa Yi Koo duduk memantau semua wilayah di sisi barat benteng tempatnya berdiam tinggal itu. 

Sisi Barat Gunung Siontapina

Tapi mengapa sisi barat benteng di Puncak Siontapina itu dinamai Lakudo padahal wilayah kadie/desa di sisi barat itu ada banyak sekali? Kamaru, Lawele, Kapontori, Umbunowulu, bahkan Kulisusu di utara pulau Buton bisa nampak terlihat jika berdiri di situ, tetapi mengapa harus Lakudo yang dipilih sebagai namanya? Adakah kedekatan khusus Lakarambau Oputa Yi Koo dengan Lakudo?

Itu memerlukan penelitian lanjutan yang mendalam. Mudah-mudahan di tengah waktu yang terbatas selanjutnya saya bisa menulis relasi Gunung Siontapina dengan benteng Liwu Lakudo dan keterkaitan Oputa Yi Koo dengan klan Kokabawono sebagai kaum elit penguasa Lakudo zaman dahulu.

Foto Bersama di Puncak Gunung Siontapina

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB