Terima Kasih Mallarangeng

Friday, 7 December 2012 0 komentar


DUA kali saya bertemu muka dengan tokoh muda sukses Sulawesi Selatan ini. Pertama ketika beliau menghadiri Diskusi Politik di Fisipol UGM, dan kedua di tempat yang sama untuk kegiatan sidang Pleno Kagama, Desember dua tahun lalu. Saya melihat begitu ia sederhana, cerdas dan energik. Serta merta kemudian saya mengaguminya.

Belakangan proyek Wisma Atlit di Hambalang diendus menyimpang pembagunannya. Mulailah kemudian namanya disebut-sebut sebagai paling bertanggung jawab. Arus besar berpusar kuat sekali, dan ia diseret-seret masuk ke dalamnya. Akhirnya, dari jalan Rasuna Said melayang surat cekal, besertanya mengikut status baru sebagai Tersangka.
 
Proyek Wisma Atlit Hambalang

Tidak mengejutkan ketika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Menteri Pemuda dan Olah Raga Andi Alfian Mallarangeng sebagai tersangka kasus korupsi proyek Wisma Atlit di Hambalang. Yang justru mengejutkan dan membuat kita terhenyak adalah sikap dan reaksi beliau atas penersangkaan itu.

Sekalipun terlihat gurat bersedih pada air mukanya, ia tampak tegar dan seperti bersiap menghadapi. Ia tak lari berlindung pada sandangan jabatannya yang besar, juga tak memanfaatkan partai berkuasa tempat ia menjadi pengurus di sana. Juga soal kedekatannya dengan Cikeas. Segala-gala itu ia lepas, memakai tangannya sendiri. Ia maju sebagai rakyat biasa menghadapi sidang pengadilan negeri ini

Mengumumkan Pengunduran Dirinya

Sebagai yang berdarah Bugis-Makassar, ia telah mengambil sikap tepat. Pantang bersurut langkah. Seperti moncong Pinishi, ia terus melaju maju melawan badai dan ganas laut. Saya percaya apapun nanti akhirnya selalu sangat ditentukan bagaimana memulainya. Dan sebagai yang memahami akhir baik, beliau telah memulainya dengan baik pula.

Sangat jarang di negeri ini, orang-orang berjabatan melepas jabatannya itu untuk memasuki proses hukum yang adil dan terbuka sebagaimana sudah ia lakukan. Kebanyakan dari mereka yang berjabatan itu enggan melepas jubah jabatanya bahkan memakainya sebagai tameng berlindung.

Dia tidak memerlukan tangan orang lain, tangannya sendiri yang sigap mempreteli jubah jabatan berprestise itu. Seumur-umur baru sekali ini saya melihat, dan itu hanya pada dia. Mengapa dia seberani ini? Bukan ini soal berani, tetapi bertanggung jawab, mungkin begitu dibenaknya.

Penetapan sebagai tersangka di KPK
 
KPK telah menetapkannya tersangka, dan memang mungkin dia telah bersalah. Pada soal menersangkakan orang KPK tentu sangat berhati-hati dan telah melalui prosedur dan sidik yang cermat, karena lembaga yang juga dinahkodai seorang Bugis-Makassar ini tak bisa mengambil langkah mundur. Mereka hanya tahu langkah maju. Hanya tahu menjerembabkan orang tanpa tahu bagaimana menarik menaikan orang yang dijerembabkan itu jika ternyata sidang pengadilan tak cukup membuktikan bersalah.

Terlepas dari bersalah itu. Sungguh Mallarangeng telah sebenar-benarnya kesatria. Ia telah memberi contoh yang baik dengan melepas semua jabatan yang disandangnya dan berani maju menghadapi pengadilan sebagai rakyat biasa. Terima Kasih Mallarangeng.

Rapat Dengar Pendapat di DPR

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB