Mengenang Gonggoma #1

Tuesday, 27 November 2012 0 komentar

tak ada lagi gonggoma
setelah tanah pasirnya diangkuti
dan menjadi berkubang di mana mana
serupa tanah tempat kerbau mandi merendam diri
serupa tanah beremas bombana yang sobek dikeruk keruk
membawa limbah yang merusak
membuat sesak
di dada terurut mentok
jatuh kasihan pada nasib buruk
yang menimpa tanah di ujung paling barat kampung saya ini
dulu ini begitu indah, begitu permai
tempat orang-orang sekampung berbondong datang tamasya
pada setiap kali lebaran usai
disinilah ini bertemu sahabat sahabat lama
setelah dipisah jarak bertahun lamanya


kini,
benar benar miris ini hati
melihat tanah tanjung ini
telah seperti bangkai
yang tergeletak mati
bokong montok batang batang kelapa
teronggok doyong berserak
akarnya mengangkangi langit
karena dicerabut dari bumi

air laut  membah masuk membanjiri
bahkan hingga jauh dari yang seharusnya garis pantai
memenuhi tanah yang dahulu berpasir ini
dan bergantilah namanya menjadi lagonda
 
tak lagi ada gonggoma
hilang diambil tangan tangan jahil
yang haus lapar menjual tanah pasir kampung sendiri
oleh tengkulak tak tahu diri
tanah pasir kampung saya itu
dikeruk dihabisi semau mau mereka
hanya untuk duit yang sereceh saja jumlahnya
hanya untuk sebulan duit sereceh itu habis dipakai
tapi rusaknya tanah pasir kampung ini
akan  terasa ditanggungi
seumur jaman, selamanya hidup ini!

alam tanah kampung saya dirusak
hilang anggun permainya
hilang molek montoknya
kelapa yang melambai permai
yang dulu berjulang tinggi tinggi
kini rebah tinggal akar mengering mati
serupa matinya nurani kaum mudanya
yang bercuek tak peduli
diam buta hati
tak sedikitpun amarah mereka terpantik
oleh ulah norak yang sesak, membisu berdiam saja
sesuatu yang jelas jelas terjadinya di muka mata hidung mereka

gonggoma nefeulai,
gonggoma yang diingat-ingat
gonggoma negana-gana,
gonggoma yang dikenang-kenang
















Gu, 2012. <dicatat dua hari yang lalu setelah pulang dari gonggoma>

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB