Bisakah Indonesia Mengganyang Malaysia?

Friday, 30 November 2012 0 komentar
 
Kalau kita lapar itu biasa
Kalau kita malu itu juga biasa
Namun kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar!

Yoo...ayoo... kita... Ganjang...
Ganjang... Malaysia
Ganjang... Malaysia
Bulatkan tekad
Semangat kita badja
Peluru kita banjak
Njawa kita banjak
Bila perlu satoe-satoe!

(Dicuplik dari Pidato Soekarno, 27 Juli 1963)


17 SEPTEMBER 1963, sebuah demostrasi besar anti-Indonesia merebak di Kuala Lumpur, Malaysia. Huruhara menolak Indonesia bukan main terjadi massif sekali. Dalam gerombol yang besar, massa beringas menyerbu KBRI. Di sana mereka beraksi di luar kendali tanpa bisa dihentikan. Gambar Presiden Soekarno yang tergantung di dinding sebuah ruangan ditarik paksa dan digeletakkan ke tanah. Tak bisa dihitung kemudian ribuan kaki menghujam diinjakan pada mulut gambar pemimpin besar revolusi Indonesia itu.

Tak puas hanya begitu saja, kumpulan massa beringas itu mencomot lambang Negara Republik Indonesia—Garuda Pancasila dari tempatnya bergantung dan dijadikan bahan ejekan berolok-olok. Gambar Garuda Pancasila itu dibawa kehadapan Raja Malaysia waktu itu—Tunku Abdul Razak. Oleh tekanan massa yang besar kaki raja yang mulia itu dipaksa menginjak lambang kemuliaan Bangsa Indonesia ini. Sejak itu teranglah semuanya. Malaysia resmi membuka ruang konfrontasi dengan Indonesia. Ribuan tentara kemudian dikerahkan di pos-pos perbatasan, berjaga-jaga menghalau penyusupan, terutama di daerah Kalimantan Utara yang berbatasan darat langsung dengan Indonesia.

Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia

Dari Jakarta, Soekarno bereaksi. Ia menyambut demonstrasi dan penghinaan itu dengan langkah tegas. Ia memerintahkan Menteri Luar Negeri Soebandrio mengirim nota protes atas demonstrasi-demonstrasi yang mengabaikan penghormatan pada lambang kedaulatan suatu bangsa. Ia menyebut  ulah demonstran Malaysia itu sebagai vandalisme dan kolot. Ia juga mengangkat tongkat komando, memerintahkan militer bersiaga penuh untuk operasi dalam sandi dwikora yang ia sebut “Ganyang Malaysia”

Soekarno di Tengah Rapat Akbar

Apa yang kemudian terjadi? Perang memang kemudian pecah. Rimba belantara Kalimantan menjadi arena tempur.  Tetapi yang berhadap-hadapan adalah tentara Indonesia dengan Tentara bukan Malaysia. Ribuan tentara Australia dari divisi khusus SAS di daratkan di sana dalam operasi yang mereka sebut Rahasia, (baru nanti di tahun 2006 Australia mengakui operasi ini). Keberanian Soekarno meladeni dua Negara ‘bapak’ persemakmuran Malaysia itu menyebabkan segan mereka pada Soekarno. Sejak itu tak lagi pernah berani mereka berulah. Selama Soekarno berkuasa, bahkan hingga Soeharto sikap negeri Jiran itu bermanis manis pada Indonesia. Masa-masa itu, ada banyak kaum muda mereka dikirim kuliah di universitas-universitas terkemukan di Indonesia, hubungan diplomatik kedua negara juga berlangsung sangat baik. Dulu, Malaysia memilih sikap defensive dan tak pernah berani ‘mengganggui’ Indonesia, Mengapa kini jadi berani?

***

Arus Berbalik
Tahun-tahun terakhir ini hubungan Indonesia-Malaysia kembali memanas. Selalu yang menarik picu memanasi adalah tangan-tangan nakal dari negeri seberang itu. Dan kita yang katanya bangsa besar telah menjadi seperti mainan yang terus semau enak mereka dimaini. Kita yang konon bangsa besar penguasa nusantara jaman dulu ini  memilih mengambil langkah defensive dan mengesani sebagai terkalah tak ada daya. Menghadapi ulah provokasi negeri Jiran itu, nyali mental bangsa ini berjalan kisut, meriut mundur seperti keong. Arus berbalik, kini langkah agresif yang ofensif memulai datangnya dari Malaya, dan bangsa ini hanya beringsut mundur, mengambil langkah defensive sebagai katanya Sabar.

Tangis Prihatin Nasib TKI

Terlalu sering kita mendengar TKI dibunuh tanpa sebab, dan pelakunya tanpa pula diseret ke pengadilan. Jikapun akhirnya dibawa pengadilan, malah pembebasanlah yang ia dapatkan atau hukuman yang terlalu ringan tidak sebanding berat bejat berbuatnya. TKW diperkosa oleh majikannya sendiri, dan dipulangkan tanpa pesangon dan gaji dengan perut bunting. Ini telah sebenar-benarnya penghinaan. Dan baru kemarin, beberapa minggu yang lalu seorang TKW naas digilir sedikitnya tiga polisi di sebuah pos polisi sendiri. Para polisi pemerkosa itu memang kemudian digiring ke pengadilan. Tetapi pengadilan membebaskan ketiga polisi aneh itu hanya dengan uang jaminan.

Mengapa Indonesia kini tampak seperti pecundang begitu? Apa sebab sehingga bangsa yang punya sejarah besar ini telah tampak seperti kucing kena siram yang tertunduk melongos saja setiap kali dihadapkan pada ulah nakal Malaysia? Mengapa kita seperti kehilangan daya dan tersungkur lunglai setiap kali berhadapan dengan ulah pongah awak-awak Melayu itu? Apa sebenarnya yang salah dengan bangsa ini? Penting dicatat bahwa sebab paling utama yang memacu Malaysia terus-terus mengulang ulah ‘nakal’ dan sikap provokatifnya nya itu karena bangsa ini tak pernah berani tegas merespons ulah nakal provokasi mereka itu.

Ganyang Memakai Sepak Bola
Tidak mengejutkan menyebarnya video Youtube yang melihatkan ribuan mulut supporter Ultras Harimau Muda Malaya berkoor kompak dalam nyanyi-nyanyi mengatai Indonesia dengan kata-kata tak pantas. Mereka menikmati nyanyian itu dengan berjingkrak-jingkrak kegirangan. Keseiramaan gerak mulut dan bunyi musik yang membahana mementahkan bantahan pemerintah Malaysia yang menyebut video itu sebagai hanya lipsinc belaka.

Skuad Timnas di Piala AFF 2012

Segera saja ulah nakal supporter Malaysia itu menyulut amarah rakyat di tanah air.  Maka pertandingan piala AFF antara Malaysia VS Indonesia yang tinggal menghitung jam dipastikan berlangsung panas dan menegangkan. Panas karena euphoria terluka atas ejekan supporter Ultra Malaya dan menegangkan karena tanding ini adalah tanding hidup mati bagi kedua tim. Siapapun yang kalah akan tersingkir dan dengan sendirinya tereliminasi. Maka kepada punggawa Garuda, harga diri kehormatan bangsa kini dipundak kalian. Mau terus-terus defensive ataukah memulai ofensif dan kemudian mengganyang mereka? Ayo Garuda, Ganyang Harimau Malaya. Bungkam koor Ultras Malaya yang dipastikan sebentar bergema memenuhi Bukit Jalil. Bahkan hanya dalam sepakbola, Bisakah Indonesia Mengganyang Malaysia?



0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB