Ayah Ibuku, Guru.

Saturday, 24 November 2012 0 komentar

Jalan Menuju SMP Negeri GU
INI hari guru, dan ayahku adalah guru. Ibu ku juga adalah guru. Ini hari adalah hari mereka. Telah hampir empat puluh tahun mengabdi, sepenuh hati mendidik, mengajari moral beretika, memanusiakan orang-orang. Murid-murid ayah ibuku  telah banyak sukses berhasil, menjadi manusia sebab beliau berdua mengajari murid dengan mendidik, mengajari murid dengan budi pekerti. Kata mereka pendidikan sebenarnya adalah mengasah hati untuk terus peka sehingga berempati, bersimpati pada sesama, karena hakikatnya pendidikan yang sempurna ialah membangkitkan sifat-sifat diri kita sendiri yang terbaik. Mana ada buku yang lebih baik daripada buku umat manusia itu sendiri?  

Sebab banyak manusia yang berlaku tidak manusiawi, melabrak kelaziman azalinya, melanggar norma takdir kemanusiaannya. Merusaknya dengan berlaku anomali, abudaya, melanggar budi, melenceng dari pekerti. Padahal pada nama mereka itu berderat titel tanda berpendidikan. Orang-orang macam begini ini mungkin memang telah berhasil sukses mencapai derajat tertinggi bangku sekolah, tetapi isi sari dan ruh tujuan bersekolah secuilpun tak mereka dapatkan. Tujuan akhir bersekolah tidaklah hanya mengasah otak saja sehingga mengilap cerdas, tidak hanya melatih akal agar kuat mengingat sehingga dengan itu seluruh isi bumi dalam lingkup pengetahuannya, tetapi yang jauh lebih penting adalah mengasah hati sehingga mengilap dalam cahaya berpekerti, dalam laku berempati yang simpatik

Gedung SMP Negeri GU waktu Senja Sore-Sore
Ayah ibuku adalah dua orang guru yang beliau-beliau sendiri tak merasai bangku sekolah guru. Beliau berdua hanyalah menamatkan sekolah di Sekolah Rakyat, diambil guru hanya karena beliau berdua telah bisa baca tulis. Dahulu mereka-mereka yang bisa baca tulis serta merta langsung diambil menjadi guru mengajari murid sekawanan mereka perihal baca tulis. Mula-mula hanya mengajar di teman sekelasnya, karena memang kurang guru, tak kepalang tanggung mereka berdua berkelilinglah mengajar disemua kelas.

Gedung SDN 1 Gu
Di kampung dahulu, guru begitu disanjung-sanjung, dipuji dihormati sebagai katanya pekerjaan mulia. Mau bagaimana lagi, adakah yang lebih mulia dari kerja memanusiakan manusia itu? Adakah yang lebih mulia dari kerja mencerahkan yang gelap? Adakah yang lebih mulia dari kerja membimbing orang keluar dari jalan salah keliru? Adakah yang lebih mulia dari kerja mengulur tangan untuk menggamit tangan orang-orang yang membutuhkan pertolongan? Kita semua datang dari muasal yang sama sebagai manusia yang sesaudara olehnya itu setiap yang memerlukan pertolongan harus diberi dan mendapatkan pertolongan. Dan saya berbangga hati luar biasa berayahibukan guru. Bagaimana tidak, karena perlakuan dihormati itu saya kecipratan pula ikut-ikutan dihormati.  Sebagai anak yang ayah ibu nya guru, saya menanggung di pundak tanggung jawab besar, bertaruh menjaga diri berlaku terus baik agar tak memalukan ayah ibuku yang guru itu.

Ayah ibuku adalah guru, guru yang mengabdi tanpa berpamrih, guru yang mengabdi tak kenal berkeluh. Bagaimana tidak, otak dengkul kami yang tumpul berkaratnya luarbiasa minta ampun sabar mereka hadapi dalam mendidik? Bagaimana tidak gulitanya pengetahuan kami tanpa berkesah ia tuntun membawakan cahaya agar kelak kami tak tersesat salah jalan? Tanpa buku-buku pelajaran yang memadai dengan bangku seadanya, lantai yang debunya beterbangan jika dihembus angin, juga papan hitam yang berdiri doyong berkerait jika angin datang meniup, kapur putih yang ujung sisanya  jika telah sumpek dipake itu melempari kami yang ngantuk tertidur di jam-jam akhir sekolah, tentu tak bisa itu dilupa. Guru adalah oase di tengah tandus keringnya gurun, pembawa cahaya di tengah gulitanya gelap. Guru tak lekang di zaman, tak lapuk di waktu. Mereka semua telah seperti ayah ibu kami sendiri, tak bisa dilupa, akan terus terkenang-kenang…

Selamat hari guru nasional, 25 november 2012..

*ini catatan untuk guru-guruku di sdn 4 gu (tae gunu wamisi) dan smp gu (wae one) semoga beliau-beliau dalam kesehatan selalu, dalam lindungan Tuhan Maha pengasih. Amien..

Top of Form
Bottom of Form

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB