Surat Terbuka untuk Pak Ali Mazi #2

Monday, 22 October 2012 0 komentar

Bapak Ali Mazi, SH., yang saya hormati,

SAYA menyampaikan terima kasih dan tentu ucapan selamat atas telah mendaftarnya bapak sebagai bakal calon Gubernur Sulawesi Tenggara pada beberapa minggu yang lalu. Kita masih harus menunggu paling tidak beberapa hari lagi untuk mengetahui kepastian Bapak lolos sebagai calon tetap, moga-moga tak ada aral yang melintangi, semua berjalan mulus dan sukses.

Dari berita surat kabar tersebar desus yang menggelisahkan. Desus itu seperti hembus angin kemarau yang bertiup malam-malam, dinginnya bukan main menusuk, menggigilkan tulang sendi, menggidikan kulit daging. Di sana tertulis besar-besar sebagai Headline bahwa bapak terdepak tak mendapat partai dan akhirnya seperti maling yang kelimpungan mencomot klaim sini sana sebagai katanya milik kepunyaannmu.

Saya rasai kadang-kadang juga media ini tak berdiri independen, hanya kritis pada seseorang tertentu saja. asal tulis dan memuat berita sampah yang tak layak muat.  Sudah memang begitulah jika tak ada kuasa, media-media itu menjauh mengambil jarak. Jika nanti Bapak telah terpilih naik memimpin tanpa dipanggil-panggil mereka-mereka itu akan datang merubung sebagaimana semut merubungi gula, bisa ditebak sesudah itu di lembar-lembar media mereka gambar bapak akan terpampang besar-besar, seluruh lembarnya dipenuhi kabar mengenai bapak dalam berita yang baik-baik semua.

Saya senang akhirnya Bapak  memilih tunggangan yang kecil-kecil saja. Beberapa partai besar ini memang tak beda partus, racun yang membunuh mematikan. Mereka fasih berkoar dimulut sebagai katanya hamba yang mengabdi mengikut maunya rakyat, pada kenyataan perilaku mereka tak begitu, mereka menghamba kuasa. Di muka umum disiarsebarkan bahwa SUARA MEREKA ADALAH SUARA RAKYAT, kenyataannya adalah SUARA MEREKA ADALAH SUARA MEREKA SENDIRI

Dari berita surat kabar pula tampak muka beberapa orang yang tersenyum-senyum tanpa perlu merasa malu kepadamu. Mereka-mereka itu ketika dulu bapak masih berkuasa setia di sampingmu. Kini mereka menjauhimu dan duduk setia menjilati bokong penguasa. Tahulah saya bahwa mereka itu tidak benar-benar mencintaimu, mereka hanya menyukai kekuasaanmu. Maka hati-hati dengan orang-orang seperti itu, pandai-pandailah memilah dan memilih sahabat, ambillah sahabat yang setia dikala kuasa dan terus ia setia sampai tak lagi kau kuasa.

Jika kelak terpilih dan Tuhan yang maha kuasa menakdirkan Bapak kembali naik memimpin, berhati-hatilah memilih orang dekat. Lihatlah baik-baik, orang-orangmu  karena  mulai musibah datangnya dari orang yang dekat itu. kebaikan bapak akan sangat ditentukan oleh kebaikan orang-orang di dekat Bapak, pun sebaliknya kejelekan datang merambatnya memulai dari mereka-mereka yang dekat itu. Pilihlah orang-orang yang tepat, orang-orang yang bisa ikut membantu mewujudkan program-program muliamu.

Jika kelak naik memimpin, ambilah falsafah seni memimpin orang Buton yang memaknai memimpin sebagai MEMIKUL (soda) bukan MENDUDUKI (Uncura). Dalam Memikul ada amanah, ada tanggungjawab besar yang menuntut kesungguhan mengabdi bukan diabdi. Ambil itu falsafah, kawin nikahkan dengan falsafah memimpin orang Tolaki yang bersumber dari Kalo bahwa seorang pemimpin yang baik itu harus mampu menjalankan tiga prinsip kepemimpinan yang disebut oleh mereka sebagai(1) mo’ulungako yakni mengajak orang banyak yang dipimpinnya, (2) mohiasako yakni menggerakkan tenaga orang banyak yang dipimpinnya, dan (3) momboteanako yakni menggembalakan orang banyak yang dipimpinnya.

Sebagai seorang pemimpin yang mengajak orang banyak, maka ia adalah seorang yang disebut pasitaka (tauladan yang baik bagi orang banyak). Demikian pula sebagai seorang pemimpin yang menggerakkan orang banyak maka ia adalah seorang yang disebut pohaki-haki (pemberi semangat bagi orang banyak). Sebagai seorang pemimpin yang menggembala orang banyak maka ia adalah seorang yang disebut tani’ulu (pemegang tali kendali). Praktekan kedua falsafah seni memimpin itu, kelak Bapak akan menjadi pemimpin yang tak diingini turun nya, yang dirindui pulangnya ketika pergi

Tanggal 27 September kemarin saya mengikuti diskusi Strategi Kebudayaan di Auditorium FIB UI Depok. Hadir sebagai pembicara di sana Prof. Sri-Edi Swasono (UI), Prof. Bambang Hidayat (ITB), Pontjo Sutowo (Ketua YSNB). Saya mencatat beberapa poin penting yang mungkin bisa berguna untuk kita berkaca diri mengenai disparitas sosial ekonomi, dan jurang senjang kaya-miskin yang menganga besar luarbiasa di daerah tercinta

Kita melihat di kota Kendari ‘penggusuran’, ‘pembakaran’ pasar kecil tempat rakyat kecil mengais rezki. Sesudahnya mal-mal, pasar hypermarket mulai mewabah berdiri dan kita dengan bangganya menganggap itu sebagai sebuah kemajuan. Globalisasi dengan semangat hidup konsumtif affluency-nya menyerbu sultra dan mendapat tempat di sana. Kesan kuat terasakan, penguasa daerah mereduksi makna pembangunan hanya menjadi sekadar hadirnya mal, hypermarket, hotel mewah dan sejenisnya.  Akibatnya nyata: demi mal, hypermarket, supermarket, pembangunan telah menggusur orang miskin, bukan menggusur kemiskinan.

Tidak ada orang yang tergusur dengan pesangon menjadi kaya, sebaliknya pemilik baru akan terus memperoleh rente ekonomi. Pemilikan bersama adalah kata kunci penyelesaian. Pemiskinan rakyat ini terjadi karena berlakunya pakem-pakem zaman edan, mumpungisme, dan citarasa murah penguasa daerah, maka pembangungan berubah menjadi proses dehumanisasi.

Terpilihnya pemimpin daerah bukan berkat pakem vox populi vox Dei, melainkan sekadar vox populi vox argentum alias suara rakyat suara uang receh. Tokoh lokal yang terbaik tidak terpilih jadi pemimpin akibat takhta bukan untuk rakyat, melainkan untuk pemodal dan pedagang politik. Itulah kemudian kita melihat jalan-jalan berkubang tak diurusi, pembodohan dengan sekolah gratis, kesehatan gratis, dan segala janji angin surga lainnya. Semua-mua itu hanya fasih diucap dalam berjanji tak pernah sampai mewujud nyata dalam praktek

Moga-moga Bapak setelah ditetapkan sebagai pasangan calon tetap oleh lembaga yang berwenang pada pemilihan nanti dapat naik terpilih tidak sebagai vox populi vox argentum, melainkan benar-benar diingini Tuhan yang diejawantah melalaui mau rakyat sebagai vox populi vox Dei.

Akhirnya sebagaimana slogan yang selalu kita gaungkan, Bapak memang telah memberi BUKTI dalam karya-karya nyata, tidak hanya dengan JANJI dalam rencana-renana besar angin surga yang membuai, melenakan dan membodohkan sebagaimana dilakukan calon lainnya.

Demikian surat terbuka ini saya tuliskan dengan sepenuh kesadaran akan mungkin banyaknya kurangnya, maafkan atas kelancangan saya, semoga Tuhan yang maha kuasa selalu melindungi kita semua, Amiin..

Kendari, 22 Oktober 2012


0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB