Sebab-Sebab Umbunowulu Melawan Kesultanan Buton

Thursday, 21 June 2012 7 komentar

Lawa sisi Barat Benteng Kota Umbunowulu
SEBUAH daerah di ujung selatan pulau Muna menolak tunduk pada kesultanan dan membangkang terus-terus sampai suatu muslihat yang didesain dari pusat kuasa datang seperti bah menyapu memberangus mereka. Karena konsistensi membangkang itu mereka tak mau dan menolak tunduk meskipun telah ditekuk takluk. Seluruh dari mereka lari meninggalkan tempat mereka berdiam itu yang telah dihuni ratusan tahun lamanya di sebuah bukit tinggi strategis yang dipagar kelilingi tembok batu. Tempat mereka berdiam tinggal itu disebut sebagai Benteng Kota Umbunowulu.

Sumber-sumber lisan mengisahkan begitu tragis dramatisnya huruhara penaklukan itu. Yang sakit, cacat badan tubuhnya, yang tidak bisa membawa diri lari memilih membuang diri ke jurang yang di bawah jurang itu telah ditancapi buluh bambu yang ujung atasnya diruncingkan tajam sekali. Mereka lebih memilih mati dengan membunuh diri ketimbang menerima tunduk dan memberi hormat sembah pada pusat kuasa kesultanan di Wolio. Jurang tempat mereka membuang diri itu terdapat di sisi timur benteng kota mereka yang dinamai kemudian sebagai Lawa Kae Woli-Wolioa. Mereka yang pelawan tangguh ini adalah orang-orang suku Umbunowulu atau juga biasa disebut Bombonawulu. Situs peninggalan benteng kota mereka masih bisa dilihat kini, di sebuah daerah ketinggian di kecamatan Gu-Lombe, hanya berjarak sekitar 8 kilometer arah Utara dari Benteng Liwu Lakudo. 

Lawa sisi Utara Benteng Kota Umbunowulu

* * *

Jauh sebelum Mia Patamiana (si empat orang) datang dan mendirikan kerajaan Wolio, pulau Buton sesungguhnya telah berpenghuni manusia (Lihat Mudjur, 2009:60), juga La Ode Abubakar. Adalah manusia-manusia purba nomaden yang bertinggal diam dan menghuni gua-gua purba di pulau Buton-Muna. Manusia-manusia purba yang nomaden di pulau Muna berdiam tinggal di Gua Metanduno dan Liangkobori daerah di Utara pulau Muna.

Manusia-manusia purba nomaden ini kemudian melakukan migrasi ke Selatan pulau Muna dan menurunkan suku Umbunowulu di sana. Perjalanan migrasi manusia purba nomaden ini berterus hingga di Barat dan Selatan pulau Buton. Di sana mereka menurunkan dan menjadi muasal moyang leluhur suku Wakaokili, Kolagana, Lipu. Saya memakai beberapa naskah Belanda sebagai dasar meneropong karena saya melihat orang-orang Belanda cukup objektif karena sifat tulisannya adalah laporan dokumentasi. Naskah-naskah itu dikirimkan oleh seorang sahabat baik hati melalui KITLV Jakarta.

Maka itulah catatan ini dibangun dan data informasinya dipasok sebagian besar dari naskah-naskah dan laporan pejabat-pejabat Belanda itu. Bukan mengabaikan sumber-sumber data dan informasi lokal, pada sebagiannya beberapa sumber lokal itu saya ambil untuk dirujuk, tapi pada umumnya data lokal itu terlalu istana/kamali/Wolio sentris, agak subjektif, mitosis dan terkesan abstrak metaforis sekali, dan biasanya bahasa-bahasa yang mitosis metaforis seperti itu kadar subjektifitasnya memang besar dan terkesan dilebih-lebihkan.


Koncu Pasi, Situs paling disakralkan orang-orang Umbunowulu

Umbunowulu bersama Lipu, Laporo dan beberapa daerah lainnya oleh kesultanan disemati sebagai pembangkang yang melawan sehingga karena itu kemudian mereka direndahkan derajat kedudukannya. Catatan singkat ini hanya akan fokus melihat pada Umbunowulu saja. Meskipun akhir ujungnya kemudian memahamkan kita bahwa ada satu tali merah kesamaan yaitu semacam perlakuan tidak adil dari pusat kesultanan kepada negeri-negeri yang membangkang dan melawannya.

Negeri-negeri yang melawan itu sesungguhnya telah duluan ada dan eksis menghuni pulau Buton sebelum kemudian datang sebuah gelumbang migrasi dari Melayu-Jawa yang menelan dan menenggelamkan eksistensi mereka sebagai kerajaan-kerajaan otonom kecil yang berdaulat. Bukti-bukti arkeologis menunjukan bahwa telah ada kehidupan yang maju dan beradab di Umbunowulu jauh sebelum Mia Patamiana datang.  Mereka adalah penganut Hindu-Budha terbukti dengan ditemukannya beberapa patung sesembahan dalam ukuran kecil dan besar. Sumber-sumber lisan menyebutkan bahwa sejak tahun 1967 patung-patung itu telah diambil dan dimusnahkan oleh sebuah operasi pembersihan dari tentara dalam sebuah program pemerintah yang disebut 'Penyatuan Desa'.

Desa-desa yang masih di hutan diminta turun ke pantai yang lebih ramai masyarakatnya. Tapi orang-orang Umbunowulu enggan dan menolak turun sehingga tentara bertindak turun tangan memaksa mereka turun. Diceritakan pada saat patung-patung itu dibawa pergi oleh tentara, orang-orang Umbunowulu menangis histeris berteriak-teriak minta patung-patung itu tak dibawa dan dikembalikan.  Mereka takut tuah penyakit akan datang mewabah melumat mereka akibat tak bisa menjaga dan mempermainkan sesembahan mereka itu. Beberapa dari patung itu berbahan emas.

Baruga, ruang kecil di belakangnya adalah tempat samadi menyimpan sesajen

Bukti-bukti linguistik menunjukan keeratan hubungan sangat dekat antara Tongkuno sebagai induk dan muasal orang-orang Muna purba dengan daerah-daerah di selatan pulau Muna seperti Gu, Lakudo, dan Mawasangka. Daerah di Barat pulau Buton seperti daerah Kapontori, Kalande, Barangka, Todanga, Lambusango, Kakenauwe, Matanauwe. Daerah Lipu di Kota Bau-Bau, Liabuku, Lowu-Lowu, Kolagana hingga di selatan Pulau Buton (Batauga), dan pulau-pulau lepas pantai Buton seperti Siompu, Kadatua, Talaga. Relasi keseasalan bahasa paling tidak melihatkan tingkat kerabat secara budaya dan bahkan mungkin pula moyang leluhur yang dekat seturunan pula. Temuan linguistik ini menguatkan keterangan mengenai muasal orang-orang Umbunowulu yang disampaikan Maa Koliwu.

* * *

Mitos mengenai mula-mula kampung Umbunowulu diceritakan fasih sekali oleh Maa Koliwu. Beliau adalah seorang tokoh yang telah lebih seratus tahun usia umurnya. Ia tinggal dan seluruh hidupnya  dilewatkannya di Umbunowulu. Juga ada beberapa sumber informasi lainnya yang kemudian menyatakan hal serupa bahwa orang-orang Umbunowulu memang berkarakter keras, pantang bertunduk menyembah kecuali oleh dan pada Omputo (kepala suku) mereka sendiri. Maa Koliwu berkisah, orang-orang Umbunowulu muasal datangnya dari Tongkuno sebuah kampung tua di Muna.

Tidak jelas apakah Tongkuno yang dimaksud adalah daerah kecamatan Tongkuno kini ataukah daerah yang lain. Hanya saja dari sisi amatan kepurbaan bahasa, seorang linguis Belanda, Dr. Rene van den Berg mengidentifikasi  seluruh daerah Tongkuno kini hingga Lohia di utara pulau Muna sebagai penutur bahasa Muna tinggi/standar. Itu artinya jika direkonstruksi perkembangan bahasa untuk mencari protobahasa (asal/induk bahasa) dan bagaimana jalan bahasa itu bersebar maka  garis mulai harus ditarik dari dua daerah itu.

* * *

Dalam kronik kisah orang-orang Umbunowulu, Wolio tak pernah bisa menaklukkan mereka sampai ketika memakai tangan Lakudo dalam muslihat apik yang licik sekali. Dikisahkan dalam penaklukan itu orang-orang Umbunowulu diberi minum arak bertuah teluh, yang kebal kuat benteng dirinya kemudian dibuai mabuk yang menghilangkan sadar sehingga kemudian mereka serupa binatang disembelih lalu dijurangkan (dibuang ke jurang). Jurang tempat pembuangan orang-orang Umbunowulu itu dinamai masyarakat setempat sebagai Ola Ina Wakulumbi (jurang Ina Wakulumbi).

Dalam kronik kisah yang lain disebutkan bahwa ada beberapa persoalan yang kemudian menjadikan orang-orang Umbunowulu melawan kesultanan adalah tak lain karena perasaan bahwa mereka memiliki kesaktian yang tinggi sehingga merasa diri sulit ditaklukkan maka itulah kemudian membangkitkan keberanian membangkang dan melawan.  Hal lainnya adalah karena adanya kesadaran sebagai mereka yang mula-mula lebih dulu ada berdiam tinggal di Buton-Muna sebelum kemudian gelumbang migrasi pendatang dari Melayu-Jawa datang menganeksasi memakai model kudeta ala Jawa: merebut kuasa dengan merangkak dan unifikasi memakai politik pertalian darah dengan pernikahan. Maka kemudian lahirlah yang kini kita kenal: Kerajaan/Kesultanan Buton.

7 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB