Labolontio: Yang Dikutuk, Yang Dipuja.

Tuesday, 7 June 2016 2 komentar


LABOLONTIO adalah Lanun yang menyamun dengan bengis siapapun pelintas laut yang melalui wilayah kuasanya. Ia disebut sangat jahat, tak cukup sekadar hanya merampas harta barang tetapi juga membunuh para korbannya. Namanya melambung tersohor dikenali mulai dari Selaparang di Timur Nusa Tenggara, Moro di selatan Filipina, Kepulauan Tukang Besi di tenggara Sulawesi hingga mengisi kronik dalam epos-epos klasik Bugis-Makassar.

Dari mata para lawannya tak ada kebaikan padanya, kecuali hanya melulu kejahatan belaka, seluruh kejelekan digambarkan sebagai tabiat wataknya. Dari mata kawannya ia adalah pahlawan, dipuja setinggi langit. Labolontio yang dikutuk, yang dipuja.

*** 

SEARMADA bajak rompak dengan daerah kuasa operasi di pesisir utara hingga tenggara laut Sulawesi, massif menggasak para pelintas laut. Kelompok bajak rompak itu dipimpin oleh seorang yang terkenal garang dan sakti perkasa. Beberapa daerah di sepanjang pesisir Utara hingga Tenggara dan pulau-pulau kecil Sulawesi telah disimpan dalam genggam kuasanya, takluk keok tak berkutik.

Ia menguasai Moro di selatan Filipina, laut Banda di Timur hingga kepulauan Bungku dan Laiwui di Tenggara laut Sulawesi. Seorang yang sakti perkasa itu berperawakan tinggi besar badan tubuhnya. Rambutnya gimbal panjang sebahu, berkumis lebat, dan konon bermata satu. Di Buton si Jelek Rupa ini di namai Labolontio. Seorang yang sosoknya digambarkan hitam jelek sekali. Ia raja rompak lautan yang bengis, kawanan bajak yang perutnya diisi dari hasil rompak dan merampas serta kerja-kerja bengis lainnya yang kotor.

Di mata orang-orang Buton, Labolontio adalah seorang bajak yang haus darah dan tak mengenal segan mengasihi. Tidak hanya pada lawannya, bahkan pada kawan sebajaknyapun tak diberi pengampunan jika diketahuinya membangkang tak patuh. Karena penggambarannya yang kontras dan buruk itu, bahkan hingga kini orang-orang tua masih memakai sosok si mata satu itu untuk menakut-nakuti anak-anaknya yang nakal. 

Tapi di mata Ternate kelompok yang distigmakan hitam itu justru adalah para pahlawan yang pemberani. Mereka adalah pengabdi yang setia pada kesultanan. Di tangan pundak mereka misi peluasan pengaruh dan pengislaman yang dititahkan kesultanan diembankan. Tak peduli berat tanggungan resiko, misi peluasan pengaruh dan pengislaman itu mereka kerjakan sepenuh kesungguhan.

Misi dan tugas utama mereka paling penting adalah mencaplok sejauhnya kuasa Ternate dengan cara pengislaman pada kerajaan-kerajaan yang belum berislam. Ketika wilayah utara, tengah  dan timur telah mereka taklukan dan kuasai, sasaran yang dituju misi mereka kemudian adalah sebuah kerajaan pulau yang juga digilai Gowa di tenggara kaki pulau besar Sulawesi. Di sana bertahta seorang raja yang telah renta bernama Mulae yang oleh rakyatnya juga  digelari Sangia Yi Gola: Kerajaan Buton.

Seusai menyusun siasat penaklukan, bergeraklah armada bajak rompak ini menuju pulau Buton. Mereka memulai berarak di pulau Banggai, melalui selat Wawonii yang sempit sebelum kemudian berlabuh di sebuah tanjung di Utara Kulisusu. Tempat armada Labolontio berlabuh itu kini diabadikan sebagai sebuah nama daerah yang disebut Labuan Tobelo (tempat berlabuh Tobelo).

Di Wolio, pusat Kerajaan Buton, seorang abdi kerajaan datang tergopoh menghambur sembah di muka kaki Mulae yang mulia melaporkan pergerakan armada laut pimpinan Labolontio yang telah tiba menjangkau tanah di Utara pulau Buton.

Menerima laporan mendadak yang darurat itu, Raja Mulae yang renta gusar dan segera tak tenang hatinya. Ia tahu betul bagaimana perkasa saktinya si rompak bengis asal Tobelo itu. Dia masih muda, kuat dan perkasa tentu tak setanding dan sebanding dirinya yang telah renta dan  lemah, usia umurnya telah mengambil tenaga kekuatannya. Ia sadar betul kerajaan yang dipimpinnya diambang bahaya yang besar.
Sayembarapun disiarsebarkan, isinya meminta rakyatnya yang kesatria bangkit berdiri membela kerajaan. Seorang putri yang cantik rupawan akan bersedia naik menikah dengan siapapun kesatria yang berhasil membunuh Labolontio. Dan puteri itu sebenarnya adalah anak darahnya sendiri satu-satunya. Putri jelita itu ia namai Watampaidongi atau karena lehernya yang panjang berlekuk ia biasa dipanggilinya sebagai puteri Boroko Malanga (Sileher Panjang).

Berdatanganlah kemudian para kesatria menyambut sayembara itu. salah seorang dari mereka  adalah seorang Opu (penguasa) yang lautnya selalu juga digasak armada bajak rompak Labolontio. Dia adalah Manjawari, atau lengkapnya Opu Manjawari penguasa Selayar. Ia datang untuk membalaskan dendamnya atas ulah armada Labolontio yang selalu membikin onar dan membuat tak tenang daerah-daerah pesisir di wilayah laut yang ia kuasai.

Seorang kesatria lainnya datang juga dari Muna, Lakilaponto namanya. Dia adalah anak Raja Muna Sugi Manuru. Dia adalah putra mahkota yang dipersiapkan kelak mengganti ayahnya menjadi Sugi (raja) di Muna, tetapi perbuatan tak senonohnya dengan adiknya sendiri telah membawa aib, menjadikan ia terusir dari tanah lahirnya sendiri.

Melanglang bertualanglah ia ke Buton, singgah sebentar di Kadatua, sebelum terus dan tinggal agak lama di Selayar. Di sana ia berkawanlah dekat  dengan Opu Manjawari. Ketika panggilan memerangi Labolontio datang, mereka berdua menyambut itu dengan datang ke muka Raja Mulae menyatakan kesediaan membantu. Kelak Labolontio takluk kalah di tangan Lakilaponto dalam sebuah tanding bersilat di pantai Boneatiro.

Orang-orang Buton mengisahkan turun temurun jalan tanding beradu silat itu. Dikisahkan, Labolontio tak terkalah. Ia gesit langkah silatnya, kuat dan cepat gerak pukulnya. Badan tubuhnya kebal tak tertembusi parang besi. Semua apapun senjata lantak luluh jatuh ke tanah sebelum sampai mengenai kulit badan nya. Ia membahak memukul-mukul dada dan badannya sendiri melihat banyak kesatria yang terkapar telah ia bunuh kalahkan. Pasir putih tanjung Kapoluka di pantai Boneatiro berubah menjadi merah karena banyaknya darah yang tumpah dari para korbannya itu.

Tetapi kemudian seorang dengan berani tiba-tiba merangsek maju dalam langkah gontai dan kempang berpura-pura. Dia inilah Lakilaponto, lelaki dari Muna yang terusir itu. Melihat gerak maju Lakilaponto yang kempang itu, Labolontio bertambah membahak ketawanya, dadanya tampak seperti diguncangkan.

Lakilaponto tanpa takut terus merangsek maju, mengikut komando raja Mulae yang mengamati dari jauh. Mereka kemudian bergelut dalam kelahi, beradu kuat kebal. Segenggam pasir tanah laut disembur dari tangan Lakilaponto mengenai tepat di mata satu-satunya Labolontio. Labolontio linglung dalam panik, pandangan nya gelap tak bisa melihat. Ia meraung serupa kerbau liar lepas ikat. Gerak silatnya kacau, ia memukul tak berautran dan mengenai angin saja.

Hilang tuah mantra kebalnya. Dalam gerak cepat serupa kilat, Lakilaponto menarik keris pada pinggangnya, ia keluarkan senjata pamungkasnya itu dari sarungnya. Ia hunus telanjangkan keris bertuah itu dan seketika dengan cepat ia tusuk hujamkan ke dada Labolontio. Keris bawaan dari lahirnya itu memang benar bertuah pula rupanya. Kebal dada Labolontio bisa ditembusinya. Tandaslah di situ riwayat Si Bajak Rompak dari Tobelo itu. Ia mati dimakan bisa ujung keris Lakilaponto.

Kematian Labolontio disambut sorak sukacita seluruh rakyat Buton. Lakilaponto kemudian dielukan sebagai pahlawan. Untuk jasanya itu, Raja Mulae menepati janjinya. Ia menikahkan puteri sematawayangnya Watampaidongi atau Borokomalanga dengan Lakilaponto. Kelak setelah Raja Mulae mangkat, Lakilaponto naik menggantikannya sebagai Raja Buton keenam. Di masa Lakilaponto lah kerajaan Buton berganti bentuk menjadi Kesultanan dan ia sendiri naik menjadi sultan Buton pertama dengan gelar Sultan Muhammad Yisa Kaimuddin Khalifatul Khamis.

Siapa Labolontio?

SANGAT sedikit sekali sumber literasi tertulis yang bisa dipakai merujuk untuk menjelaskan gulitanya sosok si bajak rompak "bermata satu" ini. Pelacakan identitas dirinya tak segamblang dan semudah mendapatkan informasi lisan mengenai besarnya pengaruh kuasanya di lautan dan penceritaan dahsyatnya jalan perang ketika ia memimpin armadanya menyerang Buton di penghujung abad ke-15.

Hanya ada beberapa sumber yang menyebut bahwa dia adalah seorang bajak laut yang menguasai kepulauan Moro di Filipina, perairan Banda di Timur hingga Selayar di Selatan Sulawesi. Dalam manuskrip Kepulauan Tukang Besi dan sumber-sumber lisan di Muna menyebutkan bahwa Labolontio adalah seorang kapten laut dari kepulauan Tobelo kesultanan Ternate.

Labolontio diembani tugas memimpin pasukan laut kesultanan Ternate di bawah komando dan menerima perintah langsung dari Sultan Baabullah Datu Syah (1570—1584) dengan misi utama melakukan ekspansi peluasan pengaruh dan kuasa kesultanan Ternate memakai kedok pengislaman.

Ketika kabar kematiannya sampai di Ternate, kesultanan dan rakyat Ternate berduka teramat dalam. Gelar syahid kemudian disematkan padanya. Segera saja ia menjadi pahlawan. Ia dikenang sebagai martir dan pejuang tangguh yang merelakan jiwa raganya demi kejayaan kesultanan. Kematiannya pulalah yang memantik murka Baabullah pada Buton. Dalam manuskrip Buton tercatat beberapa kali Baabullah menyebar ancaman dan merencakan serangan ke Buton. 


Berkaca dari Sebuah Epos

MAHARAJA Rahwana yang dalam epos Ramayana distigmakan sebagai raja kawanan raksasa pasti tak pernah membayangkan dirinya bakal mengalami nasib buruk seiring kekalahan yang dialaminya dalam pertempuran melawan bala tentara Kiskenda. Rahwana pasti tidak pernah membayangkan citra keagungan dirinya luluh lantak seiring stigma yang dibangun oleh para pemenang perang. Tentunya ia tidak bakal menyangka dirinya dicitrakan sebagai raja diraja dari mahluk raksasa yang biadab haus darah yang menjadi musuh dewa-dewa dan manusia.

Kita tidak tahu apa yang sebenarnya telah dilakukan oleh para pemenang perang setelah kekalahan Maharaja Rahwana. Kita hanya tahu bahwa menurut epos Ramayana yang ditulis para pemenang, leluhur Maharaja Rahwana adalah bangsa raksasa yang kejam, jahat, licik, rakus, brutal, haus darah, dan biadab.

Padahal di dalam berbagai versi tentang epos Ramayana selalu kita temukan gambaran bahwa Maharaja Rahwana hidup di Alengka, sebuah kota yang penuh bangunan berarsitektur tinggi, makmur, mewah, dan memiliki system pemerintahan yang bersifat musyawarah dengan penasihat-penasihat maharaja yang cerdik dan bijak. Sebaliknya, para pemenang perang selalu digambarkan hidup di lingkungan hutan dengan penghuni “masyarakat kera” yang berperadaban rendah dan system pemerintahan kultus individu.

Lepas dari benar tidaknya epos Ramayana dalam konteks objektifitas sejarah, kita bisa menangkap dan menarik benang merah bahwa telah terjadi proses "ethnic clensing" dalam bentuk "tumpas kelor" terhadap Rahwana, saudara-saudara, keturunan, bala tentara, dan bahkan bangsanya. Proses itu mungkin terjadi karena di dalam pemikiran masyarakat yang terhegemoni pengaruh peradaban Aryan, puak-puak masyarakat yang digolongkan sebagai raksasa adalah musuh dewa-dewa dan manusia yang wajib dibasmi kapan pun dan di mana pun mereka berada.

Lalu terjadilah "ethnic clensing" itu. Komunitas “raksasa” yang melarikan diri tentu saja segera tersingkir dari lingkungan peradaban tinggi di Alengka. Bangsa raksasa, kelak dikemudian hari, selalu digambarkan sebagai penghuni rimba raya yang liar dan abudaya, berperadaban rendah dan terbelakang.

Nasib buruk yang dialami Rahwana dan bangsanya ternyata dialami pula oleh para pahlawan Indian seperti Mangus Durango, Geronimo, Montezuma, Mohawk, dan Sitting Bull. Para pahlawan pejuang itu tak pernah membayangkan, seiring kekalahan yang mereka terima, bakal distigmakan sebagai pemimpin kawanan manusia biadab yang kejam dan jahat. Oleh karena stigma itu, orang-orang kulit putih boleh membasmi mereka kapan pun dan di mana saja tanpa perlu merasa berdosa.

2 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB