Kraton Jawa--Kraton Buton: Upaya Mencari Relasi

Wednesday, 6 June 2012 0 komentar

Masjid Agung Keraton Buton
DALAM folklore Buton berkembang suatu cerita perihal relasi Jawa-Buton yang intim dekat sekali. Darah raja-raja Jawa seperti dikaitkan seturunan dengan darah penguasa mula-mula kerajaan Buton. Dikisahkan bahwa Sibhatara adalah Sri Bhatara namanya sebenarnya. Dia adalah anak penguasa tanah Jawa yang juga bergelar Raja Manyuba di Majapahit. Dalam sumber-sumber Jawa dan jika dikaitkan masa memerintah dengan berdirinya kerajaan Buton, Raja Manyuba yang dimaksud mungkin adalah Raden Wijaya, raja pertama Majapahit. Dalam Pararaton  dan Negarakretagama dituliskan bahwa dari istrinya Tribuaneswari putri Kertanegara ia memperoleh anak laki-laki yang dinamainya Jayanegara. Kelak setelah Raden Wijaya mangkat pada tahun 1309, Jayanegara naik memimpin Majapahit. Ia memerintah sebelas tahun lamanya. Sumber-sumber Jawa menuliskan masifnya pemberontakan dan penghianatan dimasa Jayanegara memerintah. Pada akhirnya ia jatuh, takluk dibunuh oleh Tanca tabib dukun nya sendiri karena berbuat serong dengan istrinya.  Tapi siapakah dapat memastikan? Benarkah ia begitu mudahnya dibunuh? Tidakkah begitu ia tahu ulah tak senonohnya itu bau busuknya meluas diketahui umum ia memilih turun dan mengasingkan diri dengan melayari lautan ke timur dan kemudian bersandar di sebuah pulau sebagai yang kini kita diami tinggal—Pulau Buton?

Benteng Keraton Buton
 
Paling tidak Naskah Hikayat Negeri Buton (HNB) bisa diambil sebagai rujukan. Naskah anonym ini memuat banyak kisah yang bisa ditarik kenyambungan nya dengan apa yang sudah dikisahkan dalam Pararaton dan Negarakretagama. Soal ulah tak senonoh rupanya inilah pula yang menjadi sebab raja Buton pertama Wa Kaa Kaa pergi meninggalkan negeri Buton dan menurunkan kuasa pada Bulawambona anaknya. Sebab-sebab Wa Kaa Kaa pergi dituliskan dalam hikayat Negeri Buton seperti berikut: 

“Baiklah aku kembali naik kepada kayanganku dari atas langit. Karena aku tiada dapat menahan hatiku sebab kemaluanku pada perempuan itu” (hlm. 25)

Atau kata-kata yang lainnya:
“Janganlah bercintakan diri kamu dan negerimu adalah ke tulang, karena Sibatara kasihan istrinya yang lain daripada aku, yaitulah kampung Baaluwu memberi kemaluan, sebab itulah maka aku pulang ke kayanganku, kutinggalkan anak ku dan kamu dan negeri itu”. (hlm.28)

         Dari informasi Hikayat Negeri Buton itu, mungkinkah sebenarnya Jayanegara tidak dibunuh tetapi mengasingkan diri dengan melayari laut ke timur hingga tiba di Buton? Mungkinkan Sibatara sebenarnya adalah Jayanegara yang berkarakter sifat yang sama sebagai peserong dan berselir banyak istri? Tentu itu memerlukan penelitian yang mendalam. Ini hanya catatan kecil dangkal menduga-duga yang pasokan data informasinya sepihak saja, dari perspektif orang-orang Buton yang meyakini bahwa Sibatara adalah seorang pangeran dari Majapahit yang datang meruntun kuasa di Buton. Sebuah daerah di timur jauh yang dalam Negarakretagama disebut sebagai daerah vassal yang tunduk dalam kuasa Majapahit.

* * *

Di Buton, Sibatara kemudian dipertemukan dengan seorang yang sama misteriusnya. Perempuan dengan kulit langsat, badan yang semampai tingginya.  Bermata bulat sipit dan rambutnya menjuntai panjang hingga ke kaki. Oleh seorang pemburu bernama Sangia Langkuru, perempuan aneh itu ditemukan berdiam tinggal di buluh gading. Ketika rumah gadingnya itu ditebas, suara “Kaa Kaa” saja yang keluar ia ucapkan. Itulah kemudian orang-orang menamainya sebagai Wa Kaa Kaa. 
Tiga generasi berselang, seorang dari turunan mereka kemudian berlayar ke tanah Jawa mencari muasal alir darahnya. Adalah Tua Rade (mungkinkah Tuan Raden?) raja Buton keempat, datang menghambur sembah ke altar Mataram. Dia mengenalkan diri sebagai seturunan dan sedarah mereka. Raja Mataram mengernyit dahi. Matanya nanar melotot berang dan menuduh Tua Rade sedang membual dan tak waras akal. Tua Rade tak gentar mendapatkan sikap ditolak seperti itu. di muka altar raja yang agung itu ia  mengucap sumpah “Jika saja benar bahwa saya tidak sedarah dan seturunan yang mulia, biarlah tanah tempat kupijak ini mengambil menelanku. Tetapi jika benar darah saya sedarah turunan yang mulia, maka tanah yang kupijak ini akan menaik hingga setara altar singgasana yang mulia”.  Seketika tanah bergerak menaik setara singgasana raja penguasa tanah Jawa itu. sejak itu diyakinilah bahwa Tua Rade adalah bagian dari darah mereka, klan sebagai bangsawan tanah Jawa. Ketika kembali ke Buton, Tua Rade dihadiahi penguasa Jawa berbagai alat perangkat kerajaan, itulah di Buton ia digelari Sangia i-Sara Jawa.

Bagaimana Jawa Melihat Cerita Sitihinggil?
November tahun lalu saya mengunjungi Kraton Jogjakarta dan memasukinya hingga ke dalam-dalam. Nuansa Jawa yang lembut terasa kental sekali, bunyi gamelan bertalu lembut. Dentumnya memantul pada tembok dinding kraton seperti membawa mistis. Saya ditemani berkeliling seorang Abdi Dalem yang berjalan membungkuk, setia mengikut sembari terus memberi penjelasan semua apa yang kami lalui, semua apa yang kami lihat. 

Singgasana tempat Sultan menerima tamu

Memakai jempol  sembari menundukan badan, ia menunjukan satu tempat yang biasa dipakai Sri Sultan Ngarsa Dalem dulu-dulu menerima tamu. Sebuah tempat dengan kontur bentuk agak menaik itu disebut sebagai bangsal penghadapan, atau dalam Jawa nya disebut sebagai Bangsal Mangunturtangkil. Di sinilah ini yang disebut Sitihinggil sebuah bangsal beraltar dengan singgasana berlapis diluluri emas (sekarang hanya dibuat replika saja). Bangunan altar penyambutan atau balairung ini tampak megah. Jika Sri Sultan duduk di singgasana, pandangannya ke muka tak terhalang apapun. Dari situ ia bisa dengan jelas melihat rakyatnya yang berkumpul untuk kenduri di alun-alun utara hingga kepatihan (daerah yang kini dikenal sebagai Malioboro).

Tangga naik ke Sitihinggil

Ketika menaiki tangga Sitihinggil saya membayangkan dan merasa seperti Tua Rade yang berpuluh abad lalu naik menapaki pula tangga ini. Apalagi di samping saya mengikut Abdi Dalem yang bejalan membungkukan badan terus tergopoh menghormat. Sikap khas Jawa yang gemulai lembut ini seperti menggaruk-garuk hati saya yang merasa kasar dalam berlogat, keras dalam berlaku. Adat dan gaya timur saya memang agak susah ditanggalkan, meskipun sebisanya gaya berlogat dan berlaku itu saya lembut gemulai sopan-sopankan.
Mencoba Keris Jawa

            Kisah Sitihinggil di mata orang-orang Jawa tak lebih ditafsir hanya sebagai ‘tanah yang ditinggikan’ saja. Tak ada yang mengetahui bahwa ini ada relasi dengan Buton. Ketika saya coba mengait-ngaitkan dengan menyebut Buton mereka hanya mengernyit dahi dan mengaku tak tahu. Mereka justru fasih menyebut Bugis-Makassar sebagai pernah berhubungan dengan trah penguasa di Jawa. Di museum kraton memang saya melihat patung replika prajurit Bugis-Makassar yang berdiri gagah menyandang tombak. Di kawasan Jaba Beteng kota Jogja kini kita akan mendapati satu kampung tempat bekas prajurit Bugis-Makassar berdiam tinggal. Orang-orang kini menyebut kampung itu sebagai Kampung Bugisan.

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB