Bangkit Berdirinya Kembali Kesultanan Buton

Friday, 1 June 2012 0 komentar


Langit udara kota Bau-Bau tampak berawan. Sebentar-sebentar hujan, sebentar-sebentar berangin. Hawa waktu itu bukan main dingin sejuknya padahal siang telah jelang, waktu menunjuk pukul 11.00. Matahari tak tampak terlihat dihalang awan hitam yang bergelantungan memenuhi seluruh udara kota. Mendekati waktu berjumat, tiba-tiba hujan turun dalam gerimis. Orang-orang berlarian melindungkan diri, masuk ke masjid atau ke baruga. Tapi seorang yang lain malah berlari keluar dan menari berjingkrak-jingkrak membiarkan badan tubuhnya dikenai air yang ditumpah dari langit itu. Dalam menari berjingkrak itu mulutnya berkomat-kamit dan sesekali tampak seperti meniup sesuatu ke udara. Tak berapa lama air itu seperti surut, naik kembali ke langit. Hujan reda. Seorang yang berlari keluar itu adalah perempuan dalam pakaian adat Buton, tak terlalu tua usia umurnya. Dia adalah pawang penjinak hujan.

Para Bonto dan Lakina bersama Siolimbona
JUMAT lalu itu, orang-orang tampak ramai berlalu lalang memakai pakaian yang tidak biasanya. Pakaian adat dengan  kain penutup kepala khas Buton yang dililitkan melingkari seluruh kepala. Orang-orang di kampung menyebut kain yang dililit di kepala itu sebagai Kampurui. Beberapa orang berpakaian putih panjang menjuntai hingga ke kaki, orang kini menyebut pakaian itu jubah. Pada kepala mereka ditutup songkok yang dibaluti sorban, juga berwarna putih. Belakangan tahulah saya bahwa mereka yang berjubah dan bersorban itu adalah perangkat Masjid Agung Keraton Buton yang dalam aturan jabatan kesultanan disebut sebagai Sara Kidina. Juga kemudian menyusul berdatangan orang-orang dalam pakaian bermanik-manik mengilap dalam warna yang terang mencolok. Pada tangan mereka menyandang tongkat. Dari informasi beberapa teman mereka ini rupanya adalah para Bonto dan Lakina yang datang dari 72 kadie. Kadie dalam perspektif kesultanan adalah semacam desa yang tunduk dalam kuasa kesultanan. Kadie dikepalai oleh seorang bangsawan dari Walaka, klan lapis kedua di bawah Kaomu dalam susunan bangsawan Buton.  Ini saya di Masjid Agung Keraton Buton pada Jumat seminggu yang lalu. Suasana seperti sedang ditarik mundur kembali ke masa lalu, masa ketika kesultanan masih kukuh berdiri. Sebuah prosesi akan dilakukan di sini, Ritual Sokaiyana Pau, atau Bulilingiyana Pau, pengukuhan sultan Buton terpilih dan pengumuman bangkit berdirinya kembali kesultanan Buton

Perangkat Masjid Agung Keraton Buton atau Sara Kidina

Jumat 25 Mei sebuah prosesi ritual Bulilingiyana Pau diadakan. Upacara pengukuhan ini telah tak kita lihat lebih 52 tahun lamanya, kita hanya membacanya dinaskah dan pada buku-buku sejarah lokal yang diarsipkan. Kesultanan Buton bangkit berdiri lagi setelah 52 tahun lamanya terlelap diam dalam kevakuman. Seperti dibalik-balik, dalam 52 tahun bungkam diamnya, dan kini hidup bernapas lagi dihari ke-25 bulan Mei 2012. 

bersama Sara Kidina di pintu masuk Masjid Agung Keraton Buton

Saya beruntung sekali bisa melihat prosesi sakral itu dari dekat sekali. Ada perasaan haru dan seperti terkesiap bahwa tak lagi bisa dibantah begitu kaya beradabnya negeri ini. Ritual pemutaran payung dimulai usai salat Jumat. Sultan diarak keluar dari Masjid Agung Keraton Buton menuju Batu Popaua, diapit Bontona Peropa dan Baaluwu di kiri kanan nya. Di muka dua kapitalao dengan parang terhunus tanpa sarung berjalan tegak dalam siaga membukakan jalan. Dengan kata-kata yang begitu sangat menyentuh payung kemuliaan diputarkan di atas kepala sultan. Prosesi pemutaran pertama dimulai dengan memasukan kaki kiri sultan di lubang Batu Popaua, muka sultan dihadapkan ke barat. Sebelum kemudian atas perintah Bontona Baaluwu payung kemuliaan diputarkan delapan kali banyaknya.  

Bontona Baaluwu dan Peropa mengawal sultan terpilih
Prosesi pemutaran kedua Bontona Peropa melanjutkan tugas Bontona Baaluwu, membimbing sultan meletakkan kaki kanan nya di lubang Batu Popaua. Muka sultan beralih dihadapkan ke timur, lalu diputarkanlah payung kemuliaan Sembilan kali banyaknya. Pemutaran payung kemuliaan itu disertai kata-kata peneguhan dalam Wolio: “Ise, Jua, Talu, Yapa, Lima, Ana, Pitu, Walu Yulagi, Sio Manuru, Sapuluaka ingkoomo Laode. Rango, rango, rango Laode dangipo miningko imondo mondoakana, isasanguakana mangaamamu, mangaopuamu. Bontona Wolio bari-baria te manga andimu, mangaakamu bobato bari-baria tee manga andimu, mangaakamu pangka bari-baria tee manga opuamu tapa ruo tapana. Tee manga opua Baaluwu Peropa. Dangiapomini ingko mokantu-ntuakea, mokambena-mbenaakea, mokawara-warakea. I sarana Wolio otana siy Laode. Inunca isambali tee batu-batuna, tee kau-kauna. Boli pomatakea ruambali, boli upoandea-ndeakea. Boli upebulakea otana siy Laode. Boli alakea kanciana bhiya yitangamu, Boli yulakea kanciana sala yitangamu, Boli yualakea kampurui ibaamu. Susubagamu Laode. Utuntu yulagi yutuwu manuwu-nuwu yudadi malumba-lumba. Boli amapipi baamu, boli amagari-gari bulumu, onamu-namu tee tana Baaluwu Peropa. Opuamu-opuamu tee opuana Baaluwu Peropa, oingko tee yaku”.
“Rango Laode, rango Laode, rango Laode. Yuncuramikimea opulangamu tee pusakamu yi sarana Wolio. Daangiapomini yumembali yana-yana mangura yi majelisina sarana. Wolio. Yatanduakako kayurae, asipoko kaupokanga-nga. Atandoakako waa indamo umangau soa mangau motandakako. Yasipoko racuindamo umalango soa malango mosipoko. Osipoko buku yindamo yatongkoko sooyatongko mosipoko. Ingko somo tangi tee potawa yimataumu yi tana sii Laode”.  
 

Dua Kapitalao menghunus parang berjalan paling muka
Usai itu, tiba-tiba yang hadir dihentakkan oleh gemerincing dan suara keras menantang dari dua Kapitalao yang berdiri sigap dengan parang terhunus telanjang keluar dari sarungnya diayun-ayunkan ke udara:
“Rango! Rango! Rango!
Somba! Somba! Somba!.
Malape anana Kaomu, oanana Walaka, oanana Papara
Yincema-yincema yinda mosombana, pesuaikanau siy beku lae-laea, beku weta-weta kea hancu siy”

“Dengar! Dengar! Dengar!
Sembah! Sembah! Sembah!
Baik anaknya Kaomu, anaknya Walaka, anaknya Papara. Siapa-siapa yang tidak tunduk menyembah masuk datanglah di hadapan saya ini agar saya potong-potong, agar saya tebas dengan parang ini!

            Sontak semua yang hadir mengucap “Somba! Somba! Somba!” seraya kedua tangan dinaikan melihatkan telapak seperti gerak takbir dalam sembahyang, badan dan kepala mengikut ditundukan sebagai penghormatan. Sejak itu resmilah kesultanan ini hidup bernapas lagi, terlepas dari kontroversi selama prosesi penaikan, kita selayaknya bersyukur bahwa paling tidak telah memulai sesuatu yang dalam 52 tahun ini kita tergagap-gagap tak ada gerak dan upaya memulainya, dan memulai tentu pastilah akan selalu ada kurang, akan selalu ada lemah.

Berlanjut..

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB