SELAMAT TINGGAL BARCA

Tuesday, 8 May 2012 0 komentar

Dominasi Barcelona di Eropa tampaknya mulai surut. Dua pertandingan krusial di kandang sendiri menempatkan mereka sebagai terkalah, sesuatu yang bertahun-tahun tidak mereka rasai. Guardiola memerlukan waktu lagi untuk mengevaluasi taktik tiki takanya yang mula-mula begitu memesona dunia dan memantik decak kagum banyak orang. Tahun-tahun terakhir ini adalah tahun Barca, mereka tampil digdaya tak terkalah merajai segala kompetisi di Eropa dan dunia sampai pada 2011 seseorang yang flamboyan datang berlabuh di Bernabeu, si Special One Jose Mourinho. Dia memorandakan segalanya, memutus hegemoni Barcelona di negeri semenanjung Iberia itu. Dua jam sebelum pluit kick off ditiup wasit di Camp Nou, ia rupanya telah mengirimi sms beberapa bekas anak asuhnya itu. Sms itu berisi dorongan semangat. Begini ia menulis “Kamu pasti bisa seperti saya. Sampai jumpa di Munich”. Dan benar Chelsea bisa seperti dia, mengalahkan Barca di rumahnya sendiri dan merebut satu tiket final ke Munich.

Jose Mourinho meramu banyak taktik lalu kemudian menemukan formula baru membunuh Barca. Sebuah skema bertahan lalu kemudian balik menyerang dengan cepat. Sebuah taktik yang membenamkan tikitaka ini kemudian ditiru banyak klub lainnya. Melawan Mourinho, tikataka Barca menjadi seperti ‘tikitukul’ rontok keok tak berkutik. Bola memang dalam kontrol penguasaan mereka, tapi ditanding-tanding krusial seperti dua laga terakhir menguasai bola tidaklah selalu menjadi baik, yang baik justru bagaimana berusaha membawa bola masuk ke mulut gawang lawan sekalipun sesekali saja bola itu hinggap dikuasai. Sepakbola bukanlah bagaimana menyimpan bola dalam penguasaan. Sepakbola adalah bagaimana membawa bola masuk ke mulut gawang lawan sehingga menjadi gol. Sepak bola adalah bagaimana membikin gol, bukan bagaimana menguasai bola. Dalam dua laga terakhir di Camp Nou pasukan Azulgrana memang sepenuhnya menguasai bola tetapi mereka mandul tak bisa membuat gol. Seorang fans dari London mengirim pesan: Sistem permainan Barcelona sudah usang, terlalu banyak menguasai bola tapi tidak efektif, Barcelona harus berubah. Benarkah tikitaka telah menjadi ‘tikitukul’ yang usang dan mudah diredam gerak bangun serangnya? Paling tidak dua laga krusial terakhir di Camp Nou melihatkan itu.

Dua gol Chelsea yang lahir dari cungkil indah kaki Ramires di menit-menit akhir babak pertama dan solo run Torres dijelang akhir waktu pertandingan membungkam ribuan mulut yang tak henti berkoar menggaungkan dukungan untuk Barca. Camp Nou bergemuruh, bendera dikibarkan-kibarkan. Tetapi auman dan kibaran bendera itu kemudian terhenti dan berubah hening ketika Torres menandaskan kemenangan Chelsea. Gol itulah yang membenamkan ambisi Guardiola membawa Barca ke Munich tempat final liga Champion tahun ini dihelat. Selamat tinggal Barca, Chelsea lah yang akhirnya ke Munich.

Chelsea memeragakan gaya grandel bertahan ala Italia dan melepas ciri tanda bermain model Inggris yang terkenal ofensif ngotot maju menyerang dan intensitas gerakan yang cepat. Janji Di Matteo bahwa dia akan menyuguhkan permainan menyerang ternyata hanyalah siasat mengelabui belaka, kenyataannya hampir seluruh waktu permainan dipakai anak asuhnya berdiri berlapis-lapis melindungi gawang mereka. Maka kemudian medan laga terkosentrasi di setengah lapangan saja. Sesekali bola diumpan jauh dan seseorang di sana telah bersiap menyambut. Rupanya skema ini efektif  menjungkalkan hegemoni raksasa catalan. Barca tumbang di rumah dan mata pendukung sendiri.



Messi tidak menjelma Messiah malam tadi. Dia tak mampu menyelamatkan Barca di muka mata para pendukungnya sendiri. Ia seperti kena sial. beberapa sepakannya membentur tiang gawang, mementalkan bola menjauhi mulut gawang. Tampak ia beberapa kali mengusap muka memakai dua telapak tanganya sebagai frustrasi. Sebuah serangan kemudian dibangun lagi. Fabregas bergerak lincah menggiring bola hingga di area mulut gawang. Drogba yang panik salah menghalau. Bermaksud menyepak bola tapi yang ia kenai justru kaki si penggiring. Fabregas jatuh, meringis kesakitan. Tak pelak wasit meniup pluit dan menunjuk titik putih. Sepenuh Camp Nou kemudian bergemuruh, bersorak girang bukan kepalang. Kemenangan telah di depan mata. Tapi kemudian kegirangan itu buyar, Camp Nou sontak hening, puluhan ribu mulut menganga seperti tak percaya sepakan Messi yang lagi-lagi mental mengenai tiang gawang atas. Messi memelas, ia berjalan menunduk saja.

Dari London para fans menyambut antusias kemenangan atas Barcelona itu sebagai kemenangan besar. Bos The Blues  taipan minyak asal Rusia Roman Abramovich seketika melayangkan ucapan selamat dan memuji semangat Sparta anak buahnya.  Umbar bonuspun dikumandangkannya. Taipan berduit ini menjanjikan 350.000 euro atau setara 5,1 miliar rupiah bagi setiap pemain jika mereka berhasil menaklukan liga para juara di benua biru itu. Bisakah Chelsea?

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB