Masa Lalu, Politisasi Sultan Dan Pemilukada Buton

Friday, 11 May 2012 0 komentar
Masjid Agung Keraton Buton
BAHWA masa lalu tak bisa diceraikan dari masa kini. Masa lalu adalah masa dimana benih bibit dibiakkan untuk sari buahnya kita rasai kini. Ya buah yang kini kita nikmati tak lain dan tak bukan adalah benih bibit yang dibiakkan dengan kasih bersusah payah oleh moyang leluhur kita dulu-dulu. Masa kini adalah rantaian panjang yang bersambungan tak putus dari masa lalu. Sama  pula, masa kini akan nanti menjadi rantai panjang saling terhubung dengan masa mendatang. Apa yang terjadi di masa datang itu akan sangat ditentukan dan bergantung dengan apa yang sudah dan akan kita lakukan hari ini. Maka itu, jika kelak anak cucu diingini hendak memakan nasi, maka tanamlah beras sebagai bibitnya kini. Jika mengingini turunan generasi mendatang sentausa bahagia hidup mereka, maka berbuatlah sesuatu yang memantaskan sentausa dan kebahagiaan itu didapat.

Saya sangat setuju bahwa warisan-warisan masa lalu Buton harus kembali seksama dilihat ulang untuk diidentifikasi bedah sisi baik buruknya. Meskipun saya amat meyakini bahwa pada soal adat budaya, Buton telah mapan dikeagungan. Persoalan yang amat telanjang di muka mata kita semua adalah mengapa yang tidak terjadi dulu-dulu sekarang bisa terjadi? Apakah kita diwariskan sesuatu yang salah keliru, ataukah kita yang telah di luar jalur berjalan melabrak adat budaya yang diwariskan itu? Mata amatan saya melihat bahwa kitalah yang bablas, mengambil jalan keliru yang melabrak kelaziman adat budaya. Kita mengalami degradasi pada aspek moral spiritual karena nafsu kuasa telah lebih menunggangi. Maka itu telunjuk bisa kita tudingkan pada orang-orang yang ada kuasa tapi tak berbuat seperti garis adat budaya itu malah menafsir sempit adat budaya sesuai mau kepentingan mereka

Prosesi Pelantikan Sultan Buton

Entahlah, saya memang tidak melihat warisan adat budaya itu yang salah keliru. Adalah memang fakta bahwa dahulu setiap kali prosesi penaikan sultan memang ada berkonflik juga, tetapi konflik bersaing itu tidak kemudian menggangu dan menghalangi terpilihnya seorang sultan. Dahulu itu seseorang tak memakai nafsu mengejar jabatan sultan karena merasai beratnya tanggunganya di dunia dan akhirat. Para calon hanya menunggu saja nasib mereka ‘ditunjuk’ lalu kemudian ‘dipilih’ Tuhan melalui yang disebut Fali.  Tapi sekarang semuanya seperti dibalik-balik. Jabatan sultan direbutkan sengit luarbiasa. Ulah laku berbuat mereka telah seperti anak kecil yang ribut berebut kue coklat. Ya jabatan sultan dikejar memakai nafsu untuk dipakai sebagai prestise dan unjuk bersombong diri. Lihat saja dari ulah yang bablas itu kemudian kita tiba-tiba disuguhi dua orang mengaku telah dipilih sebagai sultan. satu sultan yang dinaikan pemerintah, satunya lagi adalah pilihan lembaga adat. Lantas rakyat yang bingung kelimpungan, mau menghambur sembah pada sultan yang mana, mau memanggil yang mulia pada sultan mana? Sultan bikinan pemerintah ataukah sultan buatan lembaga adat? Diantara keduanya sultan manakah yang memiliki keabsahan legalitas? Ah, jangan-jangan keduanya ilegal, hehehehe...

Saya benar-benar tak habis pikir, kok bangsa Buton yang budayanya agung mulia tiba-tiba orang-orang nya kini berlaku abudaya seperti samasekali tak mengenali adat budaya begini? Mereka-mereka yang berlaku melabrak adat budaya itu tak takutkah mereka pada sumpah moyang leluhur yang setiapkali membacanya kulit daging tulang saya bergidik merinding luarbiasa?

Asodhompue amaropu amasoka
Alaintobhe teemo bholi asoe
Ikiwaluna tedhuka ipolangona
Malinguaka incema mobhaliiya
Arangania atawa akurangia
Bhari-bharia sara yidhikangi mami

Demam menggigil rapuh dan binasa
Mendadak mati hingga tiada sampai
Ditikarnya serta di bantalnya
Siapa saja yang akan mengubahnya
Ditambah atau juga dikurangi
Semua norma yang sudah kami tetapkan

Dan sebentar lagi nasib daerah ini ditentukan melalui helatan panggung norak Pemilukada. Kriteria pemimpin itu sudah terang jelas sekali dalam Bab II Pasal 3 Undang-Undang Murtabat Tujuh bahwa seseorang yang layak dipilih memimpin itu adalah mereka-mereka yang Siddiq, Tabliq, Amanat, Fathanah . Jika kita mengaku berbudaya maka paling tidak yang dituliskan para leluhur itu akan kita patroni. Tapi uang lebih membuat silau mata sehingga menjadikan kita lupa melihat tangan yang datang memberi itu.  Uang lebih kuasa bahkan sekalipun harus menghinakan harga diri, menghinakan apa yang telah diwarisi leluhur pada kita. Memakai tangan sendiri kita mendorong negeri ini tersuruk memurukkannya ke dalam jurang kelam keabudayaan yang memiriskan.

Semoga Tuhan membimbing dan menguatkan kita. Menunjukan kita pemimpin yang Siddiq, Tabliq, Amanat, dan Fathanah
Aamiin…

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB