Dongeng Wandiu-Diu

Tuesday, 8 May 2012 0 komentar

INI kisah Wandiu Diu yang mengalur membawa ajaran. Ajaran agar tak mengkasari wanita dalam hal apapun juga. Ajaran betapa sangat besar cinta kasih seorang ibu pada anak darahnya sendiri. Meskipun kadang-kadang anak tak tahu berterima kasih, lupa berkasih membahagiakan ibunya setelah besar. Sang Ibu terus tabah dalam sabar. Kasihnya tak berbatas biarpun tak berbalas. Hanya memberi tak meminta kembali semua yang telah diberinya itu. Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Ini dongeng yang tandas, juga menyasar perihal soal paling pelik dalam silang sengkarut dan rumitnya hubungan cinta kasih manusia. Bahwa tidak selalu pilihan sendiri adalah baik. Terlalu sering justru yang dibawakan orang tualah yang kemudian terbaik bisa menjaga dan membahagiakan. 

Inilah Wandiu-Diu si Puteri Duyung, perempuan malang yang memintal sendiri nasib takdirnya. Mengira lelaki yang datang membawa surga bahagia sebagaimana iming janjinya dimula-mula bertemu. Di tengah jalan lelaki itu menelikungnya, neraka deritalah sebenarnya yang ia bawakan.

Ini kisah Wandiu-Diu. Perempuan malang yang rela menerima siksa dari lelaki suami pilihannya sendiri. Karena sayang kasihnya yang besar pada anak-anaknya ia rela menerima diperlakukan kasar oleh lelaki yang seharusnya mengasihinya. Ia yang tak tega melihat badan anak-anaknya menjadi sasaran pukul tangan kasar lelaki suaminya sendiri yang adalah ayah muasal darah dan daging anak-anaknya itu. Ia yang mendorongkan badannya dan menyimpan masuk anak-anaknya dalam rengkuh dekap pelukannya untuk melindungi kedua anaknya itu dari pukulan tangan kasar dan sepak kaki ayah mereka sendiri. Dia yang berdiri menyodorkan badannya saja untuk dipukuli asal jangan badan anak-anaknya disentuh tangan kasar dan sepak keras kaki ayah mereka sendiri. Wandiu-Diu perempuan sabar bernasib samar yang diikat takdir dalam kemiskinan yang memiriskan hati, dalam derita berbulus cinta yang indah. Dalam cinta perih lelaki pembual.

Wandiu-diu wanita bernasib malang itu, pergi membawa diri ke laut. Lari menghindari suaminya yang kasar tak pengasih. Ia pergi meninggalkan dua anak terkasihnya yang masih dalam ingusan dan menyusu. Ia berlari sekuatnya di tepi pantai ujung kampung mereka dan membuang diri dalam gulungan ombak laut musim barat. Berpuluh tahun kemudian wanita malang ini muncul di pantai itu, tangan badanya bersisik, kaki kiri-kanannya melekat bersatu menjadi ekor. Dia yang kini kita kenal sebagai--Puteri Duyung atau di kampung kami di Buton dinamai ia Wandiu Diu.

* * *

Wandiu Diu beranak dua. Lelaki kelamin kedua anaknya itu. Si Sulung dinamainya Lacurungkoleo dan si Bungsu diberinya nama Lambata-mbata. Wandiu-Diu sangat menyayangi dua buah hatinya itu, lebih-lebih pada si Bungsu Lambata-Mbata yang baru merangkak berjalan dan masih menyusu. Karena sayang yang besar itulah sehingga ia selalu meluluskan ingin kemauan kedua anaknya itu. Bahkan mungkin sekalipun harus memberi nyawa. Sekalipun harus melanggar perintah larangan suami yang tidak mencintainya.

Rumah tinggal mereka tepat di bibir pantai sehingga mereka telah terbiasa dengan bunyi gelumbang yang bergulungan membanting diri ke pantai setiap kali musim barat. Musim barat di kampung pantai adalah musim berombak besar. Laut seperti bergolak. Ketika itu kemarau diambang pergi, musim barat berhujan menjelang tiba. Ayah mereka berhenti melaut karena takut pada besarnya gulungan ombak itu. Tetapi beberapa ikan tangkapan nya selama musim timur yang teduh telah dikeringkan sebagai persiapan lauk selama musim dalam barat. Tampak daging ikan tengiri yang telah dibelah dan digarami menggantung-gantung diambin dapur mereka. Lure kering tampak pula ikut menggantung di situ.

Suatu hari, suami Wandiu-Diu berpamit pergi ke kebun mencari ubi dan jagung untuk makan mereka. Beberapa kali suaminya itu mengingatkan Wandiu-Diu sebelum meninggalkan rumah agar ikan tengiri kesukaannya yang telah dikeringkan tak boleh disentuh-sentuh, tak boleh diambil-ambil. “Ambilkan saja anak-anak ikan lure yang telah saya keringkan itu, tengiri kering itu jatah bagian saya, jangan berani disentuh, jangan berani diambil-ambil!” tandasnya sembari memasukan parang dalam sarung yang ia sandangkan dipinggulnya. Dan selalu seperti biasa, tak ada jawaban keluar dari mulut Wandiu-Diu selain kata “iya” saja, dengan menunduk ia mengucap iu sebagai patuh segannya pada suami, lelaki yang dipilihnya sendiri itu.

Wandiu Diu melepas suaminya pergi di pintu serambi depan rumah mereka. Diikutinya dengan pandangan gerak langkah suaminya itu, sampai jauh, sampai jarak mengambilnya dari pandangannya. Ia terus berdiri, mematung terpaku di situ, tak dirasai matanya sebak kemudian menaik sembab dan berair. Ia seperti menyesali telah memilih dan mengambil lelaki itu sebagai suaminya, sebagai ayah dari anak-anaknya. Lelaki yang mula-mulanya datang menghadap mengiba-iba kasih cintanya, memohon-mohon begitu lembut penuh kasih tetapi kemudian sontak kejam dan tak berbelas kasih bahkan pada anak darah dagingnya sendiri. Telah beberapa kali Si Sulung Lacurungkoleo merasai tampar kasar tangan ayahnya. Apalagi Wandiu Diu telah tak terhitung kali dikasari. 

Maka ia mengutuk nasibnya sendiri, nasib yang membawanya diketerpurukan dan kemiskinan. Nasib yang membawanya pada lelaki kasar pilihan hatinya sendiri. Lama ia mematung itu, berpikir menghayal-hayal, mengingat masa gadisnya dulu yang periang. Ia direbutkan banyak lelaki karena kulitnya yang langsat, karena ayu wajahnya yang rupawan dan molek tubuhnya yang liat. Badan tubuhnya dipahat Tuhan aduhai indah, bak semut berpinggang kecil sejengkal dengan bokong pinggul yang semontok kelok tomat, menjadilah ia bunga desa di kampung pantai itu. Telah banyak lelaki bawaan orang tuanya mentah-mentah ia tolak. Ia kukuh pada pilihan nya sendiri, naik menikah dengan lelaki kekasih pilihannya sendiri.

Lelaki kekasih yang kini jadi suami dan telah memberinya dua buah hati itu dulu baik lembut sopan sekali. Tak samasekali memperlihatkan kasar kerasnya. Rupanya kini ia sadari bahwa ia telah kena tipu lelaki, lelaki yang hanya menginginkan molek badan raganya, tak pernah sesungguhnya mencintainya. Ia merasa berdosa telah menolak lelaki yang dibawakan orang tuanya. Adakah orang tua yang mau anaknya berkalut dalam susah derita? Adakah orang tua membawakan seorang yang salah untuk anak darahnya sendiri? Tentu tak ada. Menyadari salah kelirunya, mata Wandiu-Diu yang sembab berair kini berbulir. Tak pelak lagi, bulir-bulir air yang menggantung itu kemudian jatuh bergulungan menyeberangi pipinya. Ia menangis dalam diam.

* * *

Tangis rengek minta susu Lambata-mbata menyadarkan Wandiu-Diu dari tangis diam dan hayal lamunan masa lalunya. Ia bergegas ke suo (ruang tengah) tempat datang suara rengekan itu. Ia mengangkat Lambata-mbata, dinaikannya ke pangkuannya. Ia sapih anak terkasihnya itu, penuh sayang, penuh cinta. Dihiburnya anak itu dengan nyanyian kabanti dan kafoedho tapi Lambata-Mbata tak bisa tenang, gelisah dalam gendongan ibundanya itu. susu pada dadanya telah pula disodorkannya, tetapi Lambata-mbata hanya meneguknya sekali saja. Kali lainnya ia menangis lagi. Tangan telunjuknya menunjuk-nunjuk di ambin dapur mereka tempat ikan tengiri kering berayun-ayun digantungkan.

Hati Wandiu-Diu gundah teriris seperti dikenai sembilu. Si bungsu terkasihnya Lambata-mbata menangis sesenggukan meminta sesuatu yang terlarang. Ia merengek-rengek meminta ikan tengiri kering dibakarkan untuknya. Berbagai-bagai upaya dilakukan Wandiu-Diu untuk mendiamkan rengekan Lambata-mbata itu. Ia emongi lambata-mbata dalam gendongan nya. Ia ayun memakai gendong dua tanganya dan dinyanyikannya pula lagu kabanti. Ia dorongkan susunya ke mulut Lambata-mbata. Ia sapui lembut rambut kepalanya dengan tanganya, tapi tak mempan, tak bisa mendiamkan tangis Lambata-Mbata. Lambata-Mbata masih terus terus merengek, kaki mungilnya menendang-nendang, bahkan kemudian rengekan itu menaik menjadi tangis menjerit-jerit. Telunjuk mungilnya menunjuk-nunjuk ikan tengiri kering yang bergantung di bawah ambin tempat menggantung periuk dan alat memasak lainnya di dapur rumah mereka. Wandiu-Diu bingung bukan kepalang. Diingatan kepalanya terngiang-ngiang pesan suaminya yang tegas mengancam agar tengiri itu tak boleh disentuh-sentuh apalagi hendak diambil untuk dimakan. Tapi Ia tak pula sampai hati melihat dan membiarkan anak yang disayanginya itu terus menangis. Maka sayang pada anaknya mengalahkan takut pada suaminya. Ia memanggil Lacurungkoleo dan nekat menyuruhnya memotongkan sedikit tengiri kering itu lalu dibakarkan untuk Lambata-mabata. Usai memakan tengiri kering itu Lambata-Mbata terlelap tidur di pangkuan bunda terkasihnya, tak lagi menangis, tak lagi merengek.

Sore hari, matahari pulang ke peraduan. Suami Wandiu-Diu pulang pula ke rumah kediamannya. Di muka pintu, Wandiu Diu berdiri menyambut. Membantu mengangkati beberapa ikat jagung dan ubi kayu yang dibawa suaminya dari kebun. Tiba-tiba saja dari balik dapur rumah reot mereka suaminya berteriak lantang memanggilnya keras sekali: “Diu……!!!”. Wandiu-Diu tersentak kaget. Ia terkesiap bergegas menujui muasal datang suara itu, di dapur. “Siapa yang berani mengambil ikan tengiri kering saya, bukankah sudah kuingatkan jangan sekali-kali menyentuhnya?!!” teriak suaminya dalam amarah. “Anu Ama..,Lambata-Mbata tak mau memakan apapun, hanya meminta sedikit itu saja. Ia terus menangis, saya kasihan dan tak sampai hati melihatnya terus menangis” Jawab Wandiu-Diu dalam tunduk, takut menantang mata suaminya. “Jadi kau tak lagi patuh pada saya? Berani kau melawan saya sekarang?!!” Amarah suaminya membuncah meluap-luap seperti air yang dididihkan. Matanya melorot tajam, dua alis tebalnya seperti saling mengait bersambungan. “Tidak, tidak semasekali. Bagaimana saya tidak patuh pada suami sendiri, bagaimana mau saya melawan pada suami sendiri? Wanita, sekuat-kuat bagaimanapun tetap saja tak bisa menandingi kuat perkasanya lelaki”. Wandiu-Diu memelas. Ia jatuh terduduk, nyalinya ciut, surut meriut seperti keong. Ia duduk terpekur meremas lantai, memelas-melas minta dibelas, minta dikasihi. Dalam duduk itu ia membayangkan tangan kasar suaminya akan kembali datang menubruk mukanya. Dan benar saja sebuah tamparan dari telapak yang kasar melayang secepat kilat mengenai mukanya. Ia disepak, ditendang didorong-dorong pula. Merasa telah diperlakukan kasar berlebihan, bangkit keberanian Wandiu-Diu. Ia berdiri dari duduknya, melawan pandang suaminya yang memelototinya. Tapi pukulan terus datang mengenai badan tubuhnya. Sebilah dayung dari kayu yang keras patah berantakan di punggungnya. Ia kemudian melompat turun dari rumahnya. Lari ke laut membuang diri, menenggelamkan badan tubuhnya di gulungan ombak laut musim barat yang ujung buihnya meliuk-liuk setinggi gunung besarnya membanting diri ke pantai.

* * *

Telah sehari semalam Wandiu-Diu tak di rumah. Tak pulang-pulang sejak gulungan ombak laut mengambil badan dirinya. Si Bungsu Lambata-Mbata terlelap tidur di pangkuan kakaknya Lacurungkoleo. Malam telah larut ketika Lambata-Mbata terkulai lemas karena seharian capek menangis meminta susu yang tak kunjung datang. Ia menangis karena telah beberapa hari tak merasai rengkuh kasih gendong ibunya sebagaimana biasanya. Sejak ibunya pergi Lacurungkoleo mengambil tugas-tugas ibundanya menyuapi makan dan menidurkan Lambata-mbata. Tapi Lambata-Mbata merasai kering lehernya tak minum susu, susu dari buah badan ibu nya sendiri. Maka ia menangis, terus-terus menangis di pangku gendongan tangan kakaknya yang keras kasar karena kurus tak berdaging menanggung susah derita hidup-Lacurungkoleo.

Berjalan terus waktu seperti itu, hingga sebulan lama berselangnya. Mata Lambata-Mbata meriut cekung serupa mata burung hantu karena terlalu banyak menangis dan jarang benar terlelap tidur, daging pada pipinya menjorok masuk, tulangnya tampak meruak keluar, perutnya besar, buncit membengkak serupa nangka di puncak matang. Ia kurus dekil karena tak minum susu, tak memakan gizi. Tampak seperti kulit hanya membaluti tulang saja karena tak mau makan. Dalam sebulan ini tak cukup sepiring makanan telah masuk ke perut mungilnya. Tak ada mau ia makan, tak ada mau ia apapun kecuali hanya ingin ibunya pulang. Ia hanya ingin disusui ibunya, ditimang penuh kasih dalam nyanyi lirih Kabanti. Ia hanya ingin tidur dipangku gendong Ina nya.

          Sebagai kakak, Lacurungkoleo tak sampai hati melihat penderitaan adik sekandungannya itu terus-terus berlarut begitu. Meskipun ia sendiri merasai derita yang menyayat hati ditinggal pergi ibunda pelindung dan penjaga mereka dari amuk dan pukul tangan kasar ayah mereka. Tetapi ia tahu bahwa adik sedarahnya itu jauh lebih menanggung derita. Dia masih belum genap empat bulan usia umurnya nongol melihat bumi fana ini tetapi telah merasai derita yang teramat dalam, kelam pilu mengiris hati. Dia masih butuh menetek disusu ibunya, tetapi nasib menggaris lain, takdir jatuh di luar yang dikehendaki. Karena ulah dan perlakuan kasar Ayah mereka, dalam panik dipuncak amarah, tanpa berpikir panjang, ibu terkasih mereka pergi berlari ke tepi pantai di ujung kampung mencebur diri ke laut, membiarkan diri dan badan tubuhnya diambil lalu digulung diambingkan gelumbang laut musim barat yang lidah buihnya menjulur-julur setinggi gunung. Ia diseret oleh gulungan ombak itu hingga membawanya ke laut lepas jauh nan luas. Dan kini keduanya harus menghadapi kenyataan pahit, kehilangan orang terkasih yang penyayang diusia ketika mereka masih membutuhkan belai kasih nya. Diumur masih sejagung keduanya telah kehilangan tempat berkeluh menyandarkan hati, tempat menumpah semua-mua rasa yang menggalaukan hati. Diusia yang masih belia, mereka berdua telah menjadi piatu-kehilangan Ibu terkasih.

* * *

Entahlah terbuat dari apa hati ayah kedua anak malang yang pergi ditinggal ibunya ini. Seperti tak ada belas kasih, tak ada perlakuan yang menunjukan menyayangi kedua buah dagingnya sendiri itu. Sekalipun Lambata-mbata telah sekerasnya menangis, samasekali tak ada perhatian mendekati membelai untuk mendiamkannya. Malah dengan kasar ia meneriaki Lacurungkoleo agar mendiamkan adiknya itu. Jika tak diam, maka berondongan makian kata-kata kasar sebagai anak tak tahu diri, anak tak tahu mengabdi pada orang tua akan keluar meluncur dari mulut si ayah pongah itu. Bahkan jika itu dirasainya tak cukup memuaskan nafsu keinginannya sebuah tamparan akan ia layangkan, atau jika dengan itu masih tak puas pula, sebilah kayu dari potongan papan yang keras akan ia hantamkan ke kaki betis Lacurungkoleo sehingga selalu setelah itu seperti ada bekas bergaris-garis biru lebam mendatar di betis kaki hingga belakang paha kecil anak malang itu.

Tapi Lacurungkoleo tabah dalam sabar. Ia telah tahu sifat sikap ayahnya. Ia tahu pula bahwa ayahnyalah yang menjadi sebab ibu mereka pergi . Ayahnyalah yang menjadi pemantik datang musibah yang kemudian memiatukan mereka. Menghilangkan ibu terkasih mereka dari rengkuh dekap tangan mungil yang melindungi mereka dari dingin udara malam, dekap peluk yang melindungi mereka dari panas menyengat udara laut siang hari. Karena itulah dari dalam hatinya menyeruak sikap tak senang pada ayahnya. Benih kebencian pelan-pelan tumbuh membiak dalam hati Lacurungkoleo. Tapi benci yang tak pernah membuah tampak dipermukaan itu hanya disimpannya saja, dipendam di tempat terjauh paling dalam di hatinya. Perasaan takutnya mengalahkan kebencian itu tampil terlihat. Ia tak pernah berani melawan tatap pandang menantang ayahnya yang memelototinya. Ia tak pernah berani membangkang kata-kata ayahnya. Seperti kerbau yang dicocok hidung mulutnya mengikut kemana mau tuannya. Tuannya itu sebenarnya adalah Ayahnya sendiri

* * *

Malam turun dari langit, menggandeng gulita pada datangnya. Seketika sekeliling menjadi gelap. Di langit tampak Kelelawar dalam jumlah ribuan bergerak segerombol menujui hutan di pulau seberang. Di laut nun jauh tampak lampu-lampu perahu nelayan berkedap kedip diayun turun naik gelumbang. Di serambi belakang rumah mereka duduk menghadap ke laut lepas. Lacurungkelo memangku Lambata-Mbata dalam gendongannya, tapi Lambata-Mbata berontak dalam rengkuh gendongan kakak nya itu karena yang dimintanya tak kunjung datang, yang dirindukannya tak kunjung pulang. Ia telah menangis lama panjang sekali, bahkan hampir seluruh harinya ia jalani hanya dengan menangis saja, pun malam-malamnya juga begitu. Ia rindu Ina nya pulang, ia rindu menyusu pada dada Ina nya.

Malam-malam dilewati Lambata-Mbata dengan menangis saja. Tak mau ia makan, tak mau ia apapun. Ia hanya ingin menyusu pada buah dada Ina nya. Telah banyak Ina-Ina tetangga yang menaruh iba dan kasihan datang menyodorkan susu dadanya ke mulut Lambata-Mbata tapi Lambata-Mbata enggan membukakan mulut bibirnya. Ia katup rapat-rapat mulut bibirnya itu menolak semua susu, selain hanya susu ibunya saja. Ia bergeming bahkan tak sedikitpun menolehi susu itu. ia hanya ingin susu emak nya, yang ia ingini hanyalah diri emaknya kembali pulang. Ina-Ina itu pulang membawa iba mereka, mengasihani nasib gelap kedua anak malang itu.

* * *

Musim barat yang berhujan berganti kemarau yang panas. Langit yang biasanya gelap berawan kini cerah. Laut yang biasanya bergemuruh oleh gulungan gelumbang yang berdentum membanting diri ke pantai, kini tenang, teduh seperti air di danau saja. Musim kemarau di kampung pantai adalah musim keceriaan dan bergembira. Anak-anak seumur Lacurungkoleo bermain girang di bawah matahari yang cerah. Mereka berlarian di pinggir pantai mengejari kepiting pantai yang bersembunyi di dalam lubang tanah atau bermain kapal-kapalan yang dibuat ayah mereka dari sabuk cangkang kelapa. Ah, ini masa indah, masa langit cerah, laut teduh di mana semua kemauan bermain-main diluapkan, ini masa yang dirindukan semua anak pantai-Kemarau yang panas dan cerah.

Di kemarau begini ini jika malam hari pada bulan yang purnama bukan main indah permainya. Rembulan tersenyum tanpa segumpal awanpun menghalanginya. Di bawah sinar rembulan itu anak-anak riang berlarian saling mengejari. Anak-anak di kampung pantai menyebut permainan begini ini sebagai permainan kera-kera. Atau jika capek saling mengejari, sebuah lingkaran penuh akan dibentuk anak-anak itu memakai tangan saling berpegangan. Di tengah lingkaran telah ada dua orang yang mata mereka ditutupi kain. Dua orang yang matanya ditutupi kain itu kemudian masing-masing akan diberi tugas, seorang mencari dan seorang lainnya dicari. Jadilah kemudian yang mencari dan dicari itu tontonan yang mengakakkan. Ini di kampung pantai main seperti ini dinamai Kucing-kucingan. 

* * *

Matahari baru sejengkal naik merangkaki bukit di ujung kampung pantai. Langit cerah, angin dari laut bertiup sepoi sepagi itu melambaikan nyiur yang batangnya menjulang tinggi-tinggi tumbuh mendereti bibir pantai kampung pantai. Laut surut hingga jauh. Tampak burung bangau berjalan pelan mencari mangsa. Di udara elang berseliweran mengintai mangsa pula. Sesekali ia turun menyambar cepat sekali lalu kemudian naik terbang lagi dengan kaki menggenggam mangsa incarannya. Ikan kecil atau kepiting meliuk berontak pada cakarnya. Tapi genggam cakar elang terlalu kokoh, tak ada bisa lepas jika telah dalam genggam cakarnya. Perahu-perahu nelayan datang dan pergi, yang datang melipat turun layarnya, yang pergi mengibar menaikan layarnya. Suasana pagi di kampung pantai dihiruk oleh hilir mudiknya perahu, gesitnya bangau mengapit kepiting pada mulut panjangnya, awasnya elang dari udara yang bersiap menggenggam dengan cakarnya, juga angin yang bertiup sepoi yang melambaikan daun pohon kelapa yang berjulang tinggi-tinggi tumbuh berbaris memenuhi bibir pantai di kampung pantai.

Tak mencapai terik siang hari, laut telah pasang. Airnya meruah naik menjilati sepenuh bibir pantai. Tak lagi ada bangau yang berseliweran terbang mencari mangsa, hanya elang saja yang masih berputar-putar awas mengincar anak ayam yang ditinggal terlepas dari induknya. Angin bertiup tak lagi sepoi, menaik berhembus sedikit kencang menimbulkan gelombang-gelombang kecil yang meriak di permukaan laut. Diam-diam ketika ayah mereka sedang di kebun, Lacurungkoleo menggendong Lambata mbata membawanya ke tepi pantai di ujung kampung tempat Ibunya dahulu lari mencebur diri dalam gulungan ombak laut musim barat. Di sepanjang jalan menuju tepi pantai ujung kampung, rambut kedua anak malang itu berkibar-kibar ditiup angin laut. Lacurungkoleo memakai tanganya melindungi kepala adiknya itu dari panas matahari yang terik dan udara laut yang panas. Seakan tahu hendak ke tempat ibunya mula-mula pergi, Lambata-mbata tenang dalam gendongan. Biasanya jika ia digendong Lacurungkoleo rewel ngambeknya minta ampun. Ia berontak dan merengek-merengek menangis, tapi kali ini tidak, ia menurut dan diam tenang-tenang saja.

Di pinggir pantai ujung kampung itu mereka hanya berdua saja, berdiri disitu, tak ada orang lain. Semilir angin datang menyapui muka mereka. Di bawah rimbun daun pohon Bucu/Butu (Baringtonia asiatica) yang rindang mereka berdiri meneduhkan diri, berlindung menghindari panas yang makin terik. Tampak air laut silau berkilau dikenai matahari yang bersinar cerah. Juga layar-layar yang tadi tampak hanya sedaun kelor, kini telah seperti kain sarung besarnya. Tampak makin dekat datang menujui kampung mereka. Nelayan-nelayan itu telah pulang dari melaut, kembali membawa ikan dan segala hasil laut untuk makan kebutuhan keluarga mereka.

“Malang nian nasib kami ini. Jika saja ayah ku sebaik seperti mereka tentu akan sangat membahagiakan sekali hidup ini. Ibu tak perlu harus pergi meninggalkan kami, tak perlu harus membuang diri ke laut ini” Batin Lacurungkoleo. Matanya memerhatikan nelayan-nelayan yang baru bersandar mencapai bibir pantai, sibuk disambuti dengan riang oleh anak istri mereka.

Ketika laut dan pantai kembali sepi, ia berdiri menghadap samudera luas nun jauh. Pandangannya menerawangi ke tempat terjauh di ujung lautan itu sembari berkhayal-khayal menduga di sanakah kini ibunya berdiam tinggal? Ia berharap Ibunya datang di tempat ia berdiri itu. Tempat ketika mula-mula ia pergi dulu. Di situ itu ia berdiri lama sekali. Dalam lirih nyanyi ia lantunkan syair dengan sedih berharap ibunya datang, biarlah hanya sesaat saja, asalkan ia datang, datang menyusui Lambata-mbata, adiknya yang malang, yang kurus dekil tak berdaging, kulit hanya membaluti tulang saja karena lama tak merasai nikmatnya susu dari dada ibu sendiri sebagaimana anak-anak lainnya.

Bermusik bunyi daun pohonan pinggir pantai dan nyiur melambai yang digesek angin, berulang-ulang Lacurungkoleo melantunkan nyanyi sedih sepenuh penghayatan, berharap-harap keajaiban dari Tuhan turun membawakan ibu mereka kembali pulang. Begini syair lagunya;

Aule wandiu-diu maipasusu andiku
Andiku lambata-mbata
Akaaku Lacurungkelo

Duhai wandiu-diu, datang susui adikku
Adik ku Lambata-mbata
Akulah ini kakaknya-Lacurungkoleo

Telah berulang syair itu dinyanyikannya, telah tak terhitung kali, tak ada sesuatupun terjadi di situ. Rahmat tak turun, Tuhan tak mengabulkan doa dalam nyanyi pilu itu. Tak ada keajaiban yang turun. Ibu mereka tak datang.

Matahari diambang terbenam ketika mereka akhirnya bergegas pulang meninggalkan tepi pantai di ujung kampung mereka. Lambata-mbata berontak dalam gendongan, seperti hendak tak mau pulang. Dalam tangis dan berontak Lambata-mbata digendongannya, Lacurungkoleo terus berjalan pulang dengan langkah cepat setengah berlari. Mereka sudah harus ada di rumah sebelum ayah mereka mendahului tiba, pulang dari kebun. Sesuatu yang buruk telah pasti akan mereka alami jika ayah mereka ternyata telah ada di rumah sebelum mereka tiba. Apalagi pelindung dan penjaga yang adalah Ibu mereka sendiri telah tiada. Maka pastilah semua hukuman akan mulus jatuh mengenai mereka. Maka Lacurungkoleo menguatkan peluk gendongnya, mengayun langkahnya cepat-cepat. Berjalan setengah berlari pulang ke peraduan mereka.

Yang ditakutkan Lacurungkoleo pada akhirnya menjadilah kenyataan. Ayah mereka telah di rumah. Tiba duluan hanya sesaat sebelum mereka. Dari balik semak Lacurungkoleo mengintip, berjalan merayap-rayap menyembunyikan badan dan kepala di balik dedaunan yang tumbuh liar berjalaran di samping rumah mereka. Sesekali ia mendongak memastikan ayah mereka masih belum naik di rumah. Ketika melihat ayahnya masih dikolong rumah sibuk membereskan bawaannya, gesit ia mendekati tangga belakang. Mengendap-endap ia berjalan dan naik pelan serupa kucing mengintai mangsa. Berjalan setengah tiarap, menginjak lantai memakai ujung kaki. Rupanya remang jelang malam ikut pula membantu. Ia tiba dan naik di rumah tanpa kelihatan dan diketahui ayahnya. Aman selamatlah mereka berdua hari itu. Mereka bisa melalui malam tanpa penghukuman dan amarah.

* * *

Kokok ayam bersahut-sahut, menyambut datangnya pagi. Langit di timur tampak kesumba, pertanda sebentar lagi matahari akan naik. Lacurungkoleo bangkit, bangun dari tidurnya. Sebelum bergegas ke dapur, ia duduk kembali melihat lekat-lekat pada wajah adiknya Lambata-mbata yang tergolek dibuai tidur di sampingnya. Ia senang karena tidak biasanya Lambata-mbata begini lelap tidurnya, biasanya sebelum ayam berkokok ia telah mendahului bangun. Jarang benar mendapatkan lelap, ia selalu gelisah dalam tidurnya. Sarung yang tercecer ke kaki ia tarik kembali. Ia naikkan, menutupkannya ke badan adik yang dikasihinya itu. Terdengar suara ngorok dari ruang depan kamar mereka. Berderum seperti suara napas sapi usai disembelih. Ayahnya masih pula tidur rupanya. Telah memang kebiasaan, ayah mereka itu tak bangun-bangun sampai matahari telah menaik tinggi. Tak ada berani membangunkan, dirinyalah sendiri yang membangunkannya.

Suara lesung yang ditumbuk malu-malu terdengar lemah nyaris tak bersuara. Lacurungkoleo menumbuk ubi dengan pelan takut mengganggu dan membangunkan tidur ayahnya. Ia memang saban pagi menyiapkan bubur dari bubuk ubi yang telah ditumbuknya hingga halus. Bubur dari bubuk ubi yang dihaluskan inilah makanan pokok Lambata-mbata setiap hari. Atau jika tak berselera pada ubi halus yang ditumbuk itu, jagung yang digiling halus akan menggantikannya. Dua jenis inilah yang digilir makan sehari-hari disesuaikan mau selera Lambata-mbata.

Matahari telah menaik tinggi, nyaris tepat di ubun-ubun, ayah mereka bangunlah pula. Bergegas ia ke serambi tempat biasa dua anaknya itu duduk melihat lautan, membayang-bayangkan disanalah mungkin tempat kini ibu mereka berdiam tinggal. “Sudah kau beri makan adikmu?” suara serak tegas meluncur. Lacurungkoleo terhenyak kaget. Ia mengenali suara itu. suara ayahnya. Cepat-cepat ia membalikkan badan, menghadap ke muasal datang suara itu, berkata. “Sudah Ama” Jawab Lacurungkoleo patuh dalam tunduk. “Bagus, kau jagai adikmu baik-baik. Saya mau ke kebun. Jangan keluar tinggalkan rumah. Ubi masih ada, kugantung di ambin sana, ambil dan tumbukkan untuk makan siang adikmu”. “Iya Ama” sambut Lacurungkoleo masih dalam tunduk. Nampaknya lantai masih lebih menarik daripada muka mata ayahnya. Setiap kali berbicara dengan ayahnya ia lebih memilih menunduk saja, memelototi lantai daripada mendongak melihat muka mata ayahnya.

* * *

Lacurungkoleo menggendong Lambata-mbata membawanya ke tepi pantai di ujung kampung mereka tempat dulu ibu mereka pergi. Kembali di sana ia lantunkan nyanyi pilu itu. Tiba-tiba saja nun jauh di sana lautan tampak berbuih. Buih yang datang menujui mereka. Lacurungkoleo menghentikan nyanyiannya karena kaget dan takut dengan buih yang datang makin mendekati mereka itu. Hendak ia berlari, tetapi suara dari seseorang menghentikannya. “Jangan takut anakku. Ini aku ibumu, ibu kalian!!”. Langkah Lacurungkoleo surut terhenti. Di gendongannya Lambata-mbata meliuk-liuk seperti cacing kena injak. Ia sepertinya tahu bahwa ibunya memang telah datang. “Jangan takut, kemarilah mendekat. Ini aku, ibumu, ibu kalian”. Sesosok kepala menyeruak muncul di permukaan, menyembunyikan badan kakinya di dalam air. Lacurungkoleo memerhatikan lekat-lekat kepala itu. melihat pada mukanya. Tak berkata-kata, ia hanya menangis saja. Memang Ibunyalah yang datang itu. Maka bertangisanlah mereka berdua di situ itu di tengah liuk gerak merengek lambata-mbata yang gesit melahap susu di dada ibundanya itu.

Selalu setelah itu, di pantai itu, Lacurungkoleo dan Lambata-mbata datang melarung rindu di situ. Diam-diam tanpa diketahui ayah mereka. Selalu di siang terik, mereka berdua berjalan menyusur pantai menujui ujung kampung menyambut datang ibu mereka, melepas segala-gala rindu, melepas segala-gala duka.

Selesai.

Catatan.
-Wandiu-Diu = Si Puteri Duyung
-Ina = Ibu, Emak
-Ama = Ayah
-Kabanti = Nyanyian rakyat tradisional di Buton
-Bucu/Butu = Jenis pohon yang khas, biasa tumbuh di tepi pantai pulau Buton

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB