BBM Naik dan Aparat yang Sigap

Saturday, 17 March 2012 0 komentar

Sangat sulit bagi kita yang awam ini untuk memahami reaksi dan perilaku sigap aparat yang bertindak brutal berlebihan terhadap rakyat/sipil tak bersenjata pada setiap kali menangani unjuk rasa damai. Seperti teletubies penindasan pada rakyat sendiri itu norak telanjang sekali terjadinya dan bersambungan tak henti dari Aceh di Utara Sumatera hingga Papua di Timur Nusantara. Yang kini hangat dibincangkan media mulai dari Mesuji di Selatan Sumatera dan Lampung hingga yang baru beberapa bulan kemarin terjadi di Sape Bima Nusa Tenggara Barat. Dan di depan nanti, pada 1 April 2012 mendatang ketika BBM dinaikan, tanda-tanda anomali mulai nampak kelihatan, demonstrasi penolakan telah digolakan mulai merata oleh kaum muda diseluruh daerah di negeri ini. Gelagat ini disambut aparat dengan bersiap dan siaga. Maka hampir dapat dipastikan kita nanti masih akan melihat lagi perilaku paling purba dari serakah tamaknya manusia; penzaliman dan kesewenangan yang diumbar dipamer-pamer sebagai seakan-akan biasa saja. Keras kasar pada rakyat bangsa sendiri, melempem lembek ciut nyali pada bangsa lain yang terang-terangan menyobek harga diri dan menginjak kedaulatan bangsa sendiri ini


Berkaca dari Mesuji dan Sape
Sungguh benar-benar memiriskan melihat rakyat tak berdaya dikasari sebegitu sewenang-wenangnya. Dipukuli memakai pantat senjata yang keras itu, ditendangi seluruh badan tubuh mereka memakai pangkal laras yang kuat, keras dan kasar itu. ini Negara macam apa? Seperti lalai dari tugas kewajiban tanggung jawabnya menjaga dan melindungi rakyatnya sendiri. Ironisnya ulah seronok itu justru dilakukan oleh alat Negara yang berslogan begitu manis indahnya, Melindungi, Melayani, dan Mengayomi.

Ini Negara centeng kata Professor Tomagola (Sosiolog UI), Negara yang membudak pada pemodal. Negara yang tanpa daya tunduk patuh menurut pada mau kaum borjuasi pemodal berduit, sekalipun harus membunuhi rakyatnya sendiri. Lihat bagaimana mereka begitu sigap mengokang senapan otomatis untuk kemudian memuntahkan isi pelurunya di perut rakyat sendiri yang sebenarnya dari uang rakyat senapan yang mengangkuhkan aparat itu dibeli. Lihat bagaimana mereka begitu buas merangsek teratur dalam barisan seperti hendak tak mau membiarkan seorangpun para warga awam pemblokade itu lolos dari gerebekan serbuan mereka. Bukan main tangguh tangkas lincahnya pada rakyat sendiri. Pada bangsa tetangga yang berulah menginjak kedaulatan, Negara ini meriut seperti keong nyalinya, ciut tak berkutik. Hmmmm…

Sebuah blokade ala kampung di pelabuhan Sape Bima Nusa Tenggara Barat tanpa organisasi dan pengaturan yang baik diserbu aparat dalam pakaian tameng lengkap bersandang senapan serbu otomatis seperti sedang dalam perang saja. Maka yang diduga terjadilah, senapan serbu otomatis itu menyalak bersahutan diluar kendali komando dan melayangkan paling tidak dua nyawa warga pemblokade yang tak berdosa itu(versi aparat), belakangan Walhi melansir lima orang meninggal dunia. Rakyat pendemo yang lainnya panik, berlarian menyelamatkan diri. Sebagiannya lompat menceburkan diri ke laut, mencari selamat. Yang tak kuat lari ditangkap lalu kemudian diseret digarukkan pada tanah badan tubuhnya. Selama dalam seretan itu badan tubuh yang telah lemah lunglai itu diinjak ditendang-tendang pula. Perlakuan yang disebut Johnson Panjaitan sebagai primitif, atau Profesor Tomagola sebagai katanya lebih rendah dari ulah Polisi Pamong Praja.

Polisi yang berslogan melindungi, melayani, dan mengayomi itu harus benar-benar mengimplementasi slogan tulis itu dalam perilaku mengemban tugas mereka. Jangan sampai slogan yang aduhai manis itu berkontras dan malah mereka tampil sangar pada setiap kali operasi pendamaian. Maka jika begitu akan selalu tujuan tak menemui akhir yang baik, maksud beroperasi mendamaikan yang tejadi justru malah menambah kacau. Berhentilah menzalimi rakyat bangsa sendiri, negara harus berdiri membela dan melindungi rakyatnya sendiri. Negara harus maju tak gentar membela yang benar, bukan maju tak gentar membela yang bayar.

Penaikan BBM dan Konspirasi Barat-Zionis
Ulah Barat dan Zionis yang berlaku pongah menebar ancaman dan kekacauan sehingga menyebabkan ketidakstabilkan di kawasan Timur Tengah yang adalah lumbung minyak terbesar di dunia menjadikan harga minyak bermain-main melambung di luar kendali. Setelah mereka sukses menumbangkan rezim Mubarrak di Mesir, Ben Ali di Tunisia, Kaddafi di Libya, dan kini dalam ancaman penyerangan, Bassar Al Assad di Suriah, Ahmadinejjad di Iran, Ali Abdullah Saleh di Yaman. Ketiga Negara Timur Tengah tersisa ini selalu gagal diinvasi karena tak mendapat mandate setuju dari PBB setelah dua Negara sekutu mereka, Rusia dan China memveto setiap putusan yang mengambil opsi aksi militer. Veto dan dukungan Russia-China bagi ketiga Negara Timur Tengah itu dapat dimaklumi sebagai balas jasa atas suplay minyak mentah yang melimpah. China telah mengapalkan minyak mentah dalam jumlah berbarel barel dari Teheran dan Damaskus untuk keperluan ekonomi dan industry mereka. Russia begitu pula, berjuta barel minyak mentah dialirkan melalui pipa bawah tanah dari kota-kota pusat minyak di Iran dan Suriah. Minyak mentah yang disuplay itu dibeli di bawah harga standar jual internasional, dijual sebagai harga sahabat. Industri dan ekonomi Russia dan China terus menaik dan bergerak hidup oleh pasokan minyak mentah yang mengalir lancar dari dua negara sekutunya di Timur Tengah itu. belakangan India mengikut pula Russia dan China, membandel tak mengikut mau Amerika. Di tengah boikot Barat (Amerika) dan sekutunya atas larangan membeli minyak Iran sebagai sanksi ‘kebandelan’ Iran dalam proyek nuklirnya yang dicurigai barat sebagai proyek pengembangan senjata pemusnah massal (bom atom). India tak bergeming, negeri Hindustan itu mengabaikan boikot yang diserukan barat (Amerika) itu dan terus mengimpor minyak dari Iran. Kapal-kapal tangker mereka berseliweran di selat Hormuz di muka Teluk Persia mengangkut minyak Iran. Fenomena ini adalah tamparan telak yang menohok bagi Washington yang menunjukan kegagalan diplomasi luarnegeri mereka.
 
Bagaimana dengan Indonesia?
Pemerintah negeri ini yang terkesan mengikut tunduk kapitalisme yang tampuk komandonya dikontrol dari Washington (Amerika) kemudian kelimpungan dan seperti tak berdaya selain mengambil satu opsi saja: terpaksa menaikan harga BBM. Meskipun negara ini tergabung dalam OPEC (organisasi negara-negara penghasil minyak dunia)  dan memiliki beberapa kilang pengeboran minyak seperti blok Cepu di Cilacap Jawa Tengah, kilang minyak Plaju dan Sungai Gerong di Palembang, kilang minyak Balikpapan di Kalimantan Selatan dan beberapa lainnya  tetapi negeri ini sebenarnya bukanlah produsen atau penghasil minyak karena jumlah konsumsi minyak jauh lebih besar dari jumlah produksi atau yang dihasilkan semua kilang minyak itu tak mencukupi seluruh kebutuhan energi nasional sehingga mau tidak mau, suka tidak suka tak ada jalan lain selain mengimpor juga.

Masih dalam rencana dan belum lagi dinaikan, keputusan penaikan itu telah memantik reaksi penolakan dari rakyat yang besar. Di beberapa kota, bahkan reaksi penolakan telah mewujud aksi. Mereka (kaum muda/mahasiswa) turun di jalan-jalan kota berunjuk rasa menolak putusan pemerintah yang belum terlaksana itu karena dinilai menzalimi dan memberatkan rakyat yang memang telah berat dan susah hidupnya. 

Dalam soal ekonomi, penaikan harga BBM memang amatlah riskan dan sensitive karena kebijakan tak populis itu akan memaksa kebutuhan pokok yang lain akan merangkak pula ikut naik. Rumusnya sangat sederhana, harga jual produksi akan sangat ditentukan oleh biaya proses memproduksinya. Maka dapat dibayangkan dampak pengaruhnya luarbiasa fatal sekali, semua kebutuhan pokok yang saat ini dirasai warga telah tak terjangkau karena harganya yang mahal akan semakin tak bisa dijangkau masyarakat karena harga yang akan terus menaik makin mahal. Alih-alih berharap lebih baik dari sebelumnya, kita justru terjerembab makin tersuruk, terpuruk dalam kemiskinan yang memiriskan. Meskipun pemerintah mengiming-imingi BLT (bantuan langsung tunai) sebagai kompensasi kenaikan BBM itu tetaplah saja itu tak menolong, tak memberi solusi jangka panjang, hanya menghibur sesaat saja.

Dampaknya akan Terasa Sampai di Kampung Saya
Di kampung saya nun jauh di sana, di pesisir Buton, di ujung selatan pulau Muna, Gu-Lakudo namanya, arus penaikan harga minyak ini akan sangat terasa.  Kampung saya adalah kampung pantai, kampung nelayan. Hampir seluruh warganya adalah nelayan, sebagian kecilnya pekebun, sisa lainnya pegawai negeri sipil. Para nelayan itu memakai mesin pada perahu sampan mereka dan tentu saja mesin tak bisa hidup jika tak ‘meminum’ minyak. Maka tak dinyana lagi, harga ikan hasil tangkapan akan melambung mengikut naiknya BBM. Biaya transportasi naik ke kotapun akan makin mahal, menyeberangi selat yang hanya sejengkal di antara Wamengkoli dan Bau-bau pun akan makin mahal pula, apalagi yang berjarak jauh seperti Bau-Bau—kendari—Makassar—Jawa tentu ongkos kapal akan makin memberatkan, saya yakin teman-teman mahasiswa dan pelajar yang menimba ilmu dirantau akan berpikir-pikir untuk pulang, menghitung ongkos yang makin besar dan memberatkan. 
Perahu motor nelayan kampung saya

Maka untuk alasan kemanusiaan dan sebagai bentuk melawan penzaliman dan  kesewenangan penguasa, saya rakyat biasa yang papa ini, tegas menolak penaikan harga BBM!

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB