Wandiu Diu 1

Friday, 3 February 2012 0 komentar

Ini kisah Wandiu Diu yang mengalur membawa ajaran. Ajaran agar tak mengkasari wanita dalam hal apapun juga. Ajaran betapa sangat besar cinta kasih seorang ibu pada anak darahnya sendiri. Meskipun kadang-kadang anak tak tahu berterima kasih, lupa berkasih membahagiakan ibunya setelah besar. Sang Ibu terus sabar. Kasihnya tak berbatas biarpun tak berbalas. Hanya memberi tak meminta kembali. Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah.


Ini kisah Wandiu-Diu. Perempuan malang yang rela menerima siksa dari lelaki suaminya sendiri karena sayang kasihnya yang besar pada anak-anaknya. Ia yang tak tega melihat badan anak-anaknya menjadi sasaran pukul tangan lelaki suaminya sendiri yang adalah ayah anak-anaknya itu. Ia yang mendorongkan badanya dan menyimpan masuk anak-anaknya dalam rengkuh dekapan nya melindungi mereka dari pukulan tangan kasar ayah mereka sendiri. Dia yang berdiri menyodorkan badannya saja untuk dipukuli asal jangan badan anak-anaknya disentuh tangan kasar ayah mereka sendiri. Wandiu-Diu perempuan sabar bernasib samar yang diikat takdir dalam kemiskinan yang memiriskan.


Wandiu-diu wanita bernasib malang itu, pergi membawa diri ke laut. Lari menghindari suaminya yang kasar tak pengasih. Ia pergi meninggalkan dua anak terkasihnya yang masih dalam ingusan dan menyusu. Ia berlari sekuatnya dan membuang diri dalam gulungan ombak laut musim barat. Berpuluh tahun kemudian wanita malang ini muncul di pantai itu, tangan badanya bersisik, kaki kiri-kanannya bersatu menjadi ekor. Dia yang kini kita kenal sebagai—Puteri Duyung.


* * *


Wandiu Diu beranak dua. Lelaki kelamin kedua anaknya itu. Si Sulung dinamainya Lacurungkoleo dan si Bungsu diberinya nama Lambata-mbata. Wandiu-Diu sangat menyayangi dua buah hatinya itu lebih-lebih pada si Bungsu Lambata-Mbata yang baru merangkak berjalan dan masih menyusu. Karena sayang yang besar itulah sehingga ia selalu meluluskan ingin kemauan kedua anaknya itu, bahkan sekalipun harus memberi nyawa. Sekalipun harus melanggar perintah larangan suami yang tidak mencintainya.


Rumah tinggal mereka tepat dibibir pantai sehingga mereka telah terbiasa dengan bunyi gelumbang yang bergulungan membanting diri ke pantai setiap kali musim barat. Ketika itu kemarau diambang pergi, musim barat berhujan menjelang tiba. Ayah mereka berhenti melaut karena takut pada besarnya gulungan ombak itu. Tetapi beberapa ikan tangkapan nya selama musim timur yang teduh telah dikeringkan sebagai persiapan selama musim dalam barat.


Suatu hari, suami Wandiu-Diu berpamit pergi ke kebun mencari makan untuk mereka. Beberapa kali suaminya itu mengingatkan Wandiu-Diu sebelum meninggalkan rumah agar ikan tengiri kesukaannya yang telah dikeringkan tak boleh disentuh-sentuh. “Ambilkan saja anak-anak kaoleono wawokia, tengiri kering (kawoleno tongohi) itu jatah bagian saya, jangan berani disentuh, jangan berani diambil-ambil!” tandasnya sembari memasukan parang dalam sarung yang ia sandang dipinggulnya. Dan selalu seperti biasa, tak ada jawaban keluar dari mulut Wandiu-Diu selain kata “iya” saja.


Wandiu Diu melepas suaminya pergi di pintu depan rumah mereka, diikutinya dengan pandangan gerak langkah suaminya itu, sampai jauh, sampai jarak mengambilnya dari pandangannya. Ia terus berdiri, mematung terpaku di situ, tak dirasai matanya tersebak kemudian sembab dan berair. Ia seperti menyesali telah memilih dan mengambil lelaki itu sebagai suaminya, sebagai ayah dari anak-anaknya. Lelaki yang mula-mulanya datang menghadap mengiba-iba kasih cintanya, memohon-mohon begitu lembut penuh kasih tetapi kemudian sontak kejam dan tak berbelas kasih bahkan pada anak darah dagingnya sendiri. Telah beberapa kali Si Sulung Lacurungkoleo merasai tampar kasar tangan ayahnya. Apalagi Wandiu Diu telah tak terhitung kali dikasari. Maka ia mengutuk nasibnya sendiri, nasib yang membawanya diketerpurukan dan kemiskinan. Nasib yang membawanya pada lelaki kasar pilihan hatinya sendiri. Lama ia mematung itu, berpikir menghayal-hayal, mengingat masa gadisnya dulu yang periang. Ia direbutkan banyak lelaki karena kulitnya yang langsat, karena ayu wajahnya yang rupawan. Telah banyak lelaki bawaan orang tuanya mentah-mentah ia tolak. Ia kukuh pada pilihan nya sendiri, naik menikah dengan pacar kekasihnya sendiri. Pacar kekasih yang kini jadi suami dan telah memberinya dua buah hati itu dulu baik sekali. Tak samasekali memperlihat kasar kerasnya. Rupanya kini ia sadari bahwa ia telah kena tipu lelaki, lelaki yang hanya menginginkan molek badan raganya, tak pernah sesungguhnya mencintainya. Ia merasa berdosa telah menolak lelaki yang dibawakan orang tuanya. Adakah orang tua yang mau anaknya berkalut susah derita? Adakah orang tua membawakan seorang yang salah untuk anak darahnya sendiri? Tentu tak ada. Menyadari salah kelirunya, mata Wandiu-Diu yang sembab berair kini berbulir jatuh bergulungan menyeberangi pipinya. Ia menangis.


Tangis rengek minta susu Lambata-mbata menyadarkan Wandiu-Diu dari hayal lamunannya. Dan ia bergegas ke suo (ruang tengah) tempat datang suara rengekan itu. ia mengangkat Lambata-mbata, dinaikannya ke pangkuannya. Ia sapih anak terkasihnya itu, penuh sayang, penuh cinta. Dihiburnya anak itu dengan nyanyian kabanti dan kafoedho tapi Lambata-Mbata tak bisa tenang, gelisah dalam gendongan ibundanya itu.


Hati Wandiu-Diu gundah teriris seperti dikenai sembilu, si bungsu Lambata-mbata merengek-rengek minta tengiri kering dibakarkan untuknya. Berbagai-bagai upaya dilakukan Wandiu-Diu untuk mendiamkan rengekan Lambata-mbata itu. Ia emongi lambata-mbata dalam gendongan nya. Ia ayun dan dinyanyikannya lagu kabanti, ia dorongkan susunya ke mulut Lambata-mbata. Tapi tak mempan, tak bisa mendiamkan tangis Lambata-Mbata. Lambata-Mbata masih terus terus merengek menendang-nendang, bahkan kemudian rengekan itu menaik menjadi tangis menjerit-jerit. Telunjuk mungilnya menunjuk-nunjuk ikan tengiri kering yang bergantung di bawah ambin tempat menggantung periuk dan alat memasak lainnya di dapur mereka. Wandiu-Diu bingung bukan kepalang. Diingatan kepalanya terngiang-ngiang pesan suaminya yang tegas mengancam agar tengiri itu tak boleh disentuh-sentuh. Tapi Ia tak pula sampai hati melihat dan membiarkan anak yang disayanginya itu terus menangis. Maka sayang pada anaknya mengalahkan takut pada suaminya. Ia memanggil Lacurungkoleo dan menyuruhnya memotongkan sedikit tengiri kering itu. Usai memakan tengiri kering itu Lambata-Mbata terlelap tidur di pangkuan bunda terkasihnya, tak lagi menangis, tak lagi merengek.


Sore hari, matahari pulang ke peraduan. Suami Wandiu-Diu pulang pula ke rumah kediamannya. Di muka pintu, Wandiu Diu berdiri menyambut. Membantu mengangkati beberapa ikat jagung dan ubi dari kebun. Tiba-tiba saja suaminya berteriak lantang memanggilnya keras sekali: “Diu……!!!”. Wandiu-Diu tersentak kaget, bergegas ia menujui muasal datang suara itu, di dapur. “Siapa yang berani mengambil ikan tengiri kering saya, bukankah sudah kuingatkan jangan sekali-kali menyentuhnya?!!” teriak suaminya dalam amarah. “Anu Pak..,Lambata-Mbata tak mau memakan apapun, hanya meminta sedikit itu saja. Ia terus menangis, saya kasihan dan tak sampai hati melihatnya terus menangis” jawab Wandiu-Diu dalam tunduk, takut menantang mata suaminya. “Jadi kau tak patuh pada saya? Berani kau melawan saya sekarang?!!” Amarah suaminya membuncah meluap-lupa. “Tidak, tidak semasekali. Bagaimana saya tidak patuh pada suami sendiri, bagaimana mau saya melawan pada suami sendiri? Wanita, sekuat-kuat bagaimanapun tetap saja tak bisa menandingi kuat perkasanya lelaki”. Wandiu-Diu memelas. Ia jatuh terduduk, nyalinya meriut seperti keong. Ia membayangkan tangan kasar suaminya itu akan kembali datang menubruk mukanya. Dan benar saja sebuah tamparan melayang mengenai mukanya. Ia disepak, ditendang didorong-dorong. Merasa telah diperlakukan kasar berlebihan, bangkit keberanian Wandiu-Diu. Ia berdiri dari duduknya, melawan pandang suaminya yang memelototinya. Tapi pukulan terus datang mengenai badan tubuhnya. Sebilah dayung dari kayu yang keras patah berantakan di punggungnya. Ia kemudian melompat turun dari rumahnya. Lari ke laut membuang diri, menenggelamkan badan di gulungan ombak laut musim barat.


Berlanjut…,

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB