Wandiu Diu 2

Friday, 3 February 2012 0 komentar

Telah sehari semalam Wandiu Diu tak di rumah. Tak pulang-pulang sejak gulungan ombak laut mengambil dirinya. Si Bungsu Lambata mbata terlelap tidur di pangkuan kakaknya Lacurungkoleo. Malam telah larut ketika Lambata-Mbata terkulai lemas karena capek menangis meminta susu yang tak kunjung datang. Ia menangis karena telah seharian tak merasai rengkuh kasih gendong ibunya sebagaimana biasanya. Sejak ibunya pergi Lacurungkoleo mengambil tugas-tugas ibundanya memberi makan dan menidurkan Lambata-mbata. Tapi Lambata-Mbata merasai kering lehernya tak minum susu, susu dari buah badan ibu nya sendiri. Maka ia menangis, terus-terus menangis di pangku gendongan tangan kakaknya yang keras kasar karena tak berdaging—Lacurungkoleo.


Berjalan terus waktu seperti itu, hingga sebulan lama berselangnya. Mata Lambata-Mbata meriut cekung serupa mata burung hantu karena terlalu banyak menangis dan jarang terlelap tidur, daging pada pipinya menjorok masuk, tulangnya tampak meruak keluar, perutnya buncit membengkak serupa nangka di puncak matang. Ia kurus dekil karena tak minum susu, tampak seperti kulit hanya membaluti tulang saja karena tak enak makan. Dalam sebulan ini tak cukup sepiring makanan telah masuk ke perut mungilnya. Tak ada mau ia makan, tak ada mau ia apapun kecuali hanya ingin ibunya pulang. Ia hanya ingin disusui ibunya, ditimang penuh kasih dalam nyanyi lirih kabanci dan kafoedho.


Sebagai kakak, Lacurungkoleo tak sampai hati melihat penderitaan adik sekandungannya itu terus-terus berlarut begitu. Meskipun ia sendiri merasai derita yang menyayat hati ditinggal pergi ibunda pelindung dan penjaga mereka dari amuk dan pukul tangan kasar ayah mereka. Tetapi ia tahu bahwa adik sedarahnya itu jauh lebih menanggung derita. Dia masih belum genap empat bulan usia umurnya nongol melihat bumi fana ini tetapi telah merasai derita yang teramat kelam mengiris hati. Dia masih butuh menetek disusu ibunya, tetapi nasib menggaris lain, takdir jatuh di luar yang dikehendaki. Karena ulah dan perlakuan kasar ayah mereka, dalam panik dipuncak amarah, tanpa berpikir panjang, ibu terkasih mereka pergi berlari mencebur diri ke laut, membiarkan diri dan badan tubuhnya diambil lalu digulung diambingkan gelumbang laut musim barat, diseret hingga membawanya ke laut lepas nan luas. Dan kini keduanya harus menghadapi kenyataan pahit, kehilangan orang terkasih yang penyayang diusia ketika masih dibutuhkan belai kasih nya. Diumur masih sejagung keduanya telah kehilangan tempat berkeluh menyandarkan hati, tempat menumpah semua-mua rasa yang menggalaukan hati. Diusia yang masih belia, mereka berdua telah kehilangan Ibu, dan menjadilah mereka Piatu.


* * *


Entahlah terbuat dari apa hati ayah kedua anak malang yang pergi ditinggal ibunya ini. Seperti tak ada belas kasih, tak ada perlakuan yang menunjukan menyayangi kedua buah dagingnya sendiri itu. Sekalipun lambata-mbata telah sekerasnya menangis, samasekali tak ada perhatian mendekati untuk mendiamkannya. Malah dengan kasar ia meneriaki Lacurungkoleo agar mendiamkan adiknya itu, jika tak diam, maka berondongan makian kata-kata kasar sebagai anak tak tahu diri, anak tak tahu mengabdi akan keluar meluncur dari mulut si ayah pongah itu. Bahkan jika itu dirasainya tak cukup memuaskan nafsu keinginannya sebuah tamparan akan ia layangkan, atau jika dengan itu masih tak puas pula, sebilah kaso dari potongan bambu akan ia hantamkan ke kaki betis Lacurungkoleo sehingga selalu setelah itu seperti ada bekas bergaris-garis biru lebam mendatar di betis kaki hingga belakang paha kecilnya.


Tapi Lacurungkoleo tabah dalam sabar. Ia telah tahu sifat sikap ayahnya. Ia tahu pula bahwa ayahnyalah yang menjadi sebab ibu mereka pergi . Ayahnyalah yang menjadi pemantik datang musibah yang kemudian memiatukan mereka. Menghilangkan ibu terkasih mereka dari rengkuh dekap tangan mungil yang melindungi mereka dari dingin udara malam, dekap peluk yang melindungi mereka dari panas menyengat udara laut siang hari. Karena itulah dari dalam hatinya menyeruak sikap tak senang pada ayahnya. Benih kebencian pelan-pelan tumbuh membiak dalam hati Lacurungkoleo. Tapi benci yang tak pernah membuah aksi itu hanya disimpannya saja, dipendam di tempat terjauh paling dalam hatinya. Perasaan takutnya mengalahkan kebencian itu tampil terlihat. Ia tak pernah berani melawan tatap pandang menantang ayah nya yang memelototinya. Ia tak pernah berani membangkang kata-kata ayahnya. Seperti kerbau yang dicocok hidung mulutnya mengikut kemana mau tuannya yang ayahnya sendiri itu



* * *


Malam turun dari langit, menggandeng gulita pada datangnya, seketika sekeliling menjadi gelap. Di kejauhan tampak lampu-lampu perahu nelayan berkedap kedip diayun turun naik gelumbang. Lacurungkelo memangku Lambata-Mbata dalam gendongannya, tapi Lambata-Mbata berontak dalam rengkuh gendongan kakak nya itu karena yang dimintanya tak kunjung datang, yang dirindukannya tak kunjung pulang. Ia telah menangis lama panjang sekali, bahkan hampir seluruh harinya ia jalani hanya dengan menangis saja. Ia rindu emak nya pulang, ia rindu susu emak nya.


Malam-malam dilewati Lambata-Mbata dengan menangis saja. Tak mau ia makan, tak mau ia apapun. Ia hanya ingin menyusu pada puting buah dada emak nya. Telah banyak emak-emak tetangga yang menaruh iba dan kasihan datang menyodorkan susu dadanya ke mulut Laambata-Mbata tapi Lambata-Mbata enggan membukakan mulut bibirnya yang ia katup rapat-rapat. Ia bergeming bahkan tak sedikitpun menolehi susu itu. ia hanya ingin susu emak nya, yang ia ingini hanyalah diri emaknya kembali pulang.



* * *



Musim barat yang berhujan berganti kemarau yang panas. Langit yang biasanya gelap berawan kini cerah, laut yang biasanya bergemuruh oleh gelumbang, kini tenang, teduh seperti air di talang saja. Musim kemarau di kampung pantai adalah musim keceriaan dan bergembira. Anak-anak seumur Lacurungkoleo bermain girang di bawah matahari yang cerah. Mereka berlarian di pinggir pantai mengejari kepiting pantai yang bersembunyi di dalam lubang tanah atau bermain kapal-kapalan yang dibuat ayah mereka dari sabuk cangkang kelapa. Ah, ini masa indah, masa langit cerah, laut teduh—Kemarau, tapi Lacurungkelo dan Lambata mbata tetap saja larut dalam bersedih. diantara nyanyi riang anak sebaya nya, mereka larut dalam murung bersedih yang memerihkan.


Berlanjut..,

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB