Perginya Si Dear Leader—Kim Jong-il

Friday, 3 February 2012 0 komentar

Apa yang pergi diambil maut, tak pernah bisa kembali pulang. Ia pergi mengikut kemana maut itu membawanya, Sesuatu yang oleh orang-orang beragama disebut sebagai menuju kehidupan kekal yang abadi. Begitulah yang terjadi pada perjalanan dalam sebuah kereta yang di dalamnya duduk menumpang seorang yang paling memiliki kuasa dan berpengaruh di Korea Utara, seorang yang oleh barat disebut sebagai si pendek idiot yang bejat, pemimpin pendiam berbahaya haus darah tetapi oleh orang-orang di Utara Korea ia dipanggil sebagai Dear Leader. Pemimpin terkasih, pemimpin tersayang. Rasanya-rasanya tak ada di bumi fana ini seorang pemimpin yang diagungkan rakyatnya begitu besar sebagaimana pengagungan rakyat Korea Utara pada beliau itu, dan yang diambil maut itu adalah seorang yang diagungkan itu, manusia paling berkuasa di Korea Utara yang ditakuti tidak hanya oleh barat tetapi juga oleh negara-negara Asia di tetangganya. Dia yang pendiam tak banyak ulah, tak banyak tingkah—Kim Jong-il.



Kim Jong-il naik berkuasa di Korea Utara menggantikan ayahnya Kim Il-sung yang mangkat di tahun 1994. Tidak main-main sebelum naik berkuasa itu kelihatan benar ia telah dipersiapkan. Mula-mula ia ditugasi sebagai diplomat dan atase di beberapa negara Eropa. Ketika naik pangkat, ia diangkat sebagai direktur propaganda dan agitasi, lalu naik menjabat ketua Komisi Pertahanan Nasional Korea Utara sebelum kemudian sepenuhnya memegang dan menyimpan korut dalam genggam kuasanya setelah ayahnya mangkat. Sekolahnyapun tak main-main. Ia pergi berguru ke negara pusat dan muasal komunis sosialis ideologi yang mereka anuti di negeri kaukasus Rusia (dulu Uni Soviet), lalu ke negeri tirai bambu yang pula seideologinya—China, bahkan kemudian ke University of Malta khusus untuk belajar dan mendalami bahasa Inggris, bahasa yang mengkoloni dunia hingga kini.


Dan kemarin itu, dalam perjalanan kereta usai kerja kunjungan kenegaraan, Si Dear Leader takluk kalah dalam pergelutannya dengan maut. Meskipun telah beberapa kali maut datang mendekati, ia masih bisa kuat melawannya. Beberapa kali diserang stroke ia berhasil selamat meskipun tidak sepenuhnya ikut pula menyelamatkan kesehatannya. Ia tampak kurus kehilangan daging diambil penyakit mematikan itu, kulitnya melumer karena daging yang hilang itu sehingga tampak lebih tua dari usiannya, dan kemarin itu menjadi puncak melawannya. Ia kalah dan tandas takluk bertekuk di kaki maut.


***


Salju turun di Pyongyang, deras lebat sekali, seperti ikut menangisi kepergian pemimpin besar itu. Jalan-jalan kota tertimbuni salju hingga 5 cm tebalnya. Dalam gerak tanpa perintah rakyat Pyongyang sontak turun ke jalan-jalan menyapu meminggirkan salju yang menutupi badan jalan sepanjang 40 km untuk dilalui arak-arakan menuju Kumsusan Memorial Palace tempat Kim Jong-il dimakamkan. Dalam kerja yang mengharukan itu mereka tampak terisak-isak saling bertangisan. Tangis bersungguh-sungguh karena duka kehilangan. Dan tentulah saja yang ditangisi kepergiannya hanyalah mereka yang menyimpankan kebaikan di hati, seseorang yang seperti itu selalu saja akan terasa terlalu cepat dipanggil yang maha memanggil sekalipun umur usianya telah panjang berpuluh tahun.



Selamat jalan Kim. Selamat jalan Dear Leader. Kau pasti pergi dengan tersenyum, mencibiri Barat dan Amerika yang sampai hayatmu diambil kau tak menunjukan ketundukan pada mereka, kau tak melihatkan sikap pengecut sebagaimana dilakukan pada umumnya pemimpin negara lain di dunia ini jika berhadapan dengan negara adikuasa itu. Kau berani, kukuh kuat berprinsip bahwa jika ditindas dan diperlakukan tidak adil maka melawan adalah jalan dipilih satu-satunya sekalipun kemudian mendapatkan diri dikucilkan, dimarginalkan. Dan sampai maut mengambilmu tak berhenti kau melawan. Kau pelawan tangguh yang konsisten, kau pejuang yang sejati. Terhina rendah di mata barat dan dunia luar tetapi terhormat mulia di mata rakyatmu sendiri.


Selamat jalan Kim.,

Selamat jalan Dear Leader

Saya rindu bangsa saya

di pimpin orang seperti kau

setegas seberani kau

Berdiri membela rakyatnya sendiri

Menjaga kehormatan bangsanya sendiri

Sekalipun harus diejek dikucilkan dunia

Karena tak menurutkan ingin mau mereka


Saya rindu di bangsa saya lahir pemimpin seperti kau

Yang pendiam tak perlu banyak berkata-kata

Kata-kata retoris dan kamuflase yang menipu

Kerja dan berbuat dengan perlakuan

Itulah sebenarnya disebut berbakti

Jika masih hanya berkata-kata

Bahkan beopun bisa melakukan itu


Di bangsa saya, para pemimpin dicemooh dihujat-hujat

Oleh rakyat sebangsanya sendiri

Karena ulah laku mereka yang tak amanah

Berkhianat, ingkar lalai dari kewajiban tanggungjawab mereka sendiri

Mereka menjadi centeng dari cukong-cukong pemodal

Tunduk mengikut semau-mau yang diingini borjuasi itu

Sekalipun harus mengusir dan membunuhi rakyat sendiri


Bangsa kami tidak ateis seperti bangsa kau

Beragama taat luar biasa bangsa kami ini

Tetapi tak seperti di bangsa kau

Bangsa kami di sini ini membalik-balik fakta

Bahkan berlaku menghina tuhan

Mempermain-mainkan hukum

Hukum hanya tajam ke bawah

Pada rakyat kecil bisanya luarbiasa ampuh

tetapi majal tak berlaku di atas

hukum mampus di tangan kaum atas

koruptor mencuri uang rakyat dalam jumlah besar sekali

hanya ditimpali dua bulan dihukum penjara

dipotong-potong hukumannya lagi itu

sisalah sebulan saja ia jalani hukuman itu

dalam sel yang disulap bak kamar hotel bintang lima pula

rakyat kecil mencuri sandal

sandalnya bekas pula

telah diancam lima tahun penjara

bahkan sampai belur

muka badannya dipukuli

dijeblos nanti dalam sel yang lembab, pengap.


bangsa kalian tak bertuhan

bangsa kami mengaku bertuhan

tetapi di bangsa kami yang bertuhan ini

tuhan malah diejek dihina-hina luarbiasa

saya jadi mengerti, inilah sebab

nietszche mengatai tuhan telah mati

sebab kejahatan telah dilakukan sendiri

oleh mereka-mereka yang tahu batas baik buruk

oleh mereka-mereka yang mengaku bertuhan

memakai jubah agama sebagai topeng saja


Ditengah siar berita dunia

Perihal banyak pemimpin dunia

dimaki dan diingini turun perginya

Kau tampil memberi warna berbeda

Begitu kuat rakyatmu mencintaimu

Tak mengingini turun pergimu

Mereka berdiri di pinggir-pinggir jalan

Tempat arakan mobil yang membawa mayatmu berjalan

Dalam dingin, dalam salju yang turun membadai

Puluhan ribu rakyatmu tak bergeming terus berdiri di situ

Hanya untuk memberi penghormatan terakhir pada kau

Mereka bersedih memukul-mukul badan sendiri

Berisak bertangis-tangisan

Sebagai bersedih kehilanganmu


Selamat jalan Kim

Selamat jalan Dear Leader


-jogja-solo-surabaya-kendari, 28 Desember 2011-

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB