Kemenangan Malaysia, Kebesaran Indonesia dan Sahabat Asrif Wakatobi

Monday, 21 November 2011 0 komentar


Mula-mula kita bersorak girang bukan kepalang ketika Gunawan Dwi Cahyono menanduk masuk bola ke dalam gawang Malaysia. Tapi keriuhan itu tak berlangsung lama, karena setelahnya harimau Malaya seperti kesetanan bangkit menguasai. Bola seperti tak pernah menyentuh kaki-kaki pemain Indonesia. Bola berseliweran di sesama kaki pemain Malaysia saja. Kalaupun meleset lari ke kaki pemain garuda malah disambut salah tingkah sehingga disalah sepak, tertendang keluar lapangan. Harimau Muda Malaya begitu ngotot dan mendominasi, akhirnya bisa kemudian ditebak, karena dominasi yang massif itu mereka membalas membikin gol. Gol menanduk dibalas dengan gol menanduk pula. Gol yang sekejap menghentak, menghentikan sejenak keriuhan di GBK, dan saya tahu, malam tadi di sana itu ada seorang sahabat saya yang pasti sedang tertunduk pula, terkulai lesu karena gol menanduk balasan itu. Saya tahu dia begitu sangat terpukul karena biasanya usai pertandingan ia akan mengirim status sanjung puji dan foto-foto mengangkat tangan sebagai tanda mendukung timnas Garuda Muda, tetapi sampai malam beranjak larut, dini hari, bahkan pagi hari dinding facebooknya melompong kosong, tak ada status baru, tak ada gambar baru.


Dia adalah Asrif Wakatobi, saya biasa memanggilnya La Asrifu. Dari nama sandangan di belakangnya dengan mudah asal beliau kita ketahui-Wakatobi. Dia memang seorang Tomia, pulau kecil di gugusan kepulauan tukang besi itu. Meskipun lahir dan besar di pulau kecil mungil itu, si anak laut ini telah berkeliling merambahi Eropa. Dia telah mengunjungi negeri yang 350 tahun lamanya mengkoloni bangsa ini-Belanda. Ia sangat beruntung bisa marasai bangku sekolah di Leiden Unversity dalam program Sandwich Dikti sesuatu yang oleh orang Buton lain nya sangat langka ini dirasai. Karena sepak prestasinya itu saya sebagai sahabat dan sesama orang Buton ikut pula tersanjung berbangga diri.


Dia ini begitu sangat mencintai timnas, sehingga dia tak pernah melewatkan pertandingan tim kesayangan nya itu. Setiap kali satu jam sebelum pertandingan, ia akan mengirim gambar-gambar dirinya dalam busana timnas merah yang pada dada kirinya tergambar garuda emas kekuningan. Ia rela karena begitu cinta, menempeli pipi kiri kanan nya dengan bendera mini merah putih. Juga syal bertulis Indonesia ia lilit mengait di lehernya dan sigap itu ia bentangkan ketika Titus Bonai atau Patrich Wanggai berhasil membikin gol. Terlalu sering kami berbeda melihat timnas, bahkan kadang-kadang beradu debat yang alot berpanjang lebar. Dia melihat memakai mata fanatik yang tak menemukan celah kekurangan di sana sedangkan saya lebih realistis, jika bermain baik saya salut dan mengatakan baik tetapi jika main nya jelek saya tak segan mengatakan nya jelek. Itulah terlalu sering kemudian ia menyebut saya sebagai tidak nasionalis, tidak cinta dan peduli pada bangsa sendiri. Hehehehe..,


*****


Sangat beralasan ketika ribuan orang tertunduk lesu saat Gunawan Dwi Cahyono salah menyepak bola sehingga meluncur mengenai tiang kiri gawang saja lalu terpental keluar menjauhi mulut gawang. Meskipun kemudian kepala-kepala itu kembali mendongak tegak saat salah seorang penyepak Malaysia sial salah menyepak bola pula. Sepakan nya dibaca kipper Indonesia Kurnia Mega sehingga kemudian begitu mudah dimentalkan nya keluar menjauhi mulut gawang. Tetapi tetaplah bahwa nasib baik serupa bola yang mental itu, menjauh tak mendekati Indonesia. Ia lebih memilih Malaysia.


Sepakan lemah ke kiri gawang dari Ferdinan Sinaga yang gagal menjadi gol seperti godam yang turun menubruk kepala. Kepala yang sebelumnya mendongak tegak kembali terkulai menunduk lemah, bahkan sekali ini diikuti beberapa orang di dekat nonton saya telah ada yang sesenggukan terisak-isak menangis. Ini di muka tv telah begini sangat emosional, bagaimana sahabat saya Asrif Wakatobi yang bergumul dengan puluhan ribu orang di GBK, atmosfir suasananya pasti akan sangat berbeda, di sana itu akan jauh lebih emosional karena seluruh view tak terbatas layar kaca, mata dapat melihat sepenuh lapangan GBK, dan mungkin yang paling menaikan tensi adalah di sana itu adapula pendukung Malaysia yang juga bersorak meskipun sorakan mereka kalah besar, tenggelam oleh gemuruh sorak sorai pendukung timnas garuda muda. Tapi biarpun sorak sorai mereka bisa kalah ditenggelamkan, gerak jingkrak bersuka cita mereka tampak jelas kelihatan di muka mata, dan gerak jingkrak begitu itu tentu jauh lebih menjengkelkan daripada hanya besar suara yang menggelegar.


Tapi apapun semuanya kemudian menjadi gamblang di mata kita semua bahwa kemenangan hanya selalu menjadi milik yang persiapan nya matang dan mantap, keberuntungan hanya selalu ada pada mereka-mereka yang bersungguh sungguh mempersipkan diri. Sehingga itu kedepan ini harus diambil sebagai pelajaran, berhenti politisisasi sepakbola.


Telah dua tahun Harimau Muda Malaya itu menyiapkan diri dan melatih bersungguh sungguh para pemain nya. Mereka tak hanya digembleng fisik tetapi juga penguatan mental. Para punggawa sepak bola negeri jiran itu rupanya memahami bahwa tak cukup hanya kuat fisik saja untuk menjadi juara mereka harus pula memiliki mental yang baja sehingga bisa naik panggung menjadi pemenang. Dan kita hanya tiga bulan saja mempersiapkan segalanya, politik telah menyita sebagian besar waktu kita. Ketika Malaysia telah di puncak siap tanding, kita baru memulai berlatih, bagaimana bisa menandingi mereka? Itulah para penyepak pinalti mereka tampak dingin bercuek saja ketika menyepak bola. Lihat bandingkan dengan muka-muka eksekutor kita, tampak tegang menanggung beban sampai harus berkomat kamit. Tempaan dua tahun dengan yang hanya tiga bulan tentu berbeda, yang satu mental sikapnya telah membaja kuat, yang satunya lagi tak kuat se alot itu. Dan tuhan pun berlaku adil, memberi menang pada yang bersungguh-sungguh mempersiapkan diri. Kesungguhan mempersiapkan diri itu ukuran kadarnya adalah seberapa lama ia telah bersiap dan melatih diri. Dan raihan emas Malaysia tadi malam adalah buah dari kerja keras yang sudah mereka lakukan dalam dua tahun ini, kita yang baru memulainya tiga bulan ini telah diukur Tuhan untuk pantas diberi perak saja, setiap apa yang didapat adalah buah dari apa yang telah dikerja.


Indonesia adalah bangsa yang besar, mari menerima kekalahan dengan bijak dan jiwa besar pula untuk selanjutnya memperbaiki kesalahannya, untuk selanjut nya serius bersungguh-sungguh mempersiapkan diri sehingga kemudian tidak terus-terus bangsa ini takluk dipermalukan di muka mata pendukung sendiri. Bangkit jayalah Garuda Muda, bangkit jayalah Indonesiaku..

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB