Jangan Main-Main dengan Sarung mu

Tuesday, 22 November 2011 0 komentar

pada pamanda: prof. dr. manan sailan, m.hum


“Jangan main-main dengan sarung mu!” Kata Nenek sembari melipatkan kain sarung itu masuk ke dalam kopor saya. “Ingat, jangan main-main dengan sarungmu!” Ulang nya setelah kain sarung itu telah dalam kopor saya, sekali ini sedikit lebih tegas, terasa itu sebagai perintah. Itu memang pesan nenek ketika memberikan sarung khas Buton ke saya ketika saya sowan menghadap minta diberi restu untuk keperluan merantau; menimba dan melarungi rimba ilmu pengetahuan di tanah Jawa. Tak ada sesuatu beliau berikan, karena memang beliau tak berpunya. Hanya doa untuk selamat dan sarung itu saja. Sarung bermotif biru dengan hitam menggaris-garis datar pada antara nya, orang-orang Buton menyebut sarung itu sebagai Katamba Gawu.




Sarung Katamba Gawu adalah sarung lelaki. Dalam banyak jenis sarung di Buton sarung ini biasa digunakan dan memang dikhususkan untuk kaum lelaki. Memang saya rasai betul lembut dingin kain nya. Itulah saya pula keranjingan memakainya. Jika udara malam terasa dingin nya menusuk tulang, sarung itulah yang menyelamatkan saya. jika telah terkenakan, dingin menggigil terusir pergi dari badan berganti hangat nyaman yang mengademkan.


Saya menyimpan sarung itu dalam lemari saja, membiarkannya teronggok dalam lipatan. Saya baru nanti akan mengambilnya sekali seminggu, setiap kali Jumatan atau dihari-hari besar Islam. Ada memang perasaan bangga tersendiri setiap kali sarung itu kukenakan. Perasaan bangga sebagai orang Buton yang berbudaya dan berpengetahuan bisa menenun dan menghasilkan kain sendiri. Kata orang-orang pintar, dahulu sebuah negeri maju dicirikan oleh kemampuan mereka membuat dan menghasilkan kain sendiri, jika telah mampu membuat kain sendiri mereka akan pula mampu menghasilkan makanan sendiri.


Dan setiap Jumat sarung itu kukenakan, dan selalu saja seperti semua mata datang tertuju ke saya, ke sarung saya itu. Mula-mula saya tak peduli dan menganggap nya biasa saja, tetapi ketika setiap jumat terus begitu, saya kemudian menjadi risih terganggu juga. Saya rasai telah ada yang aneh pada diri tampilan saya. Maka saya kemudian coba mencari-cari apa yang salah dari tampilan saya, tapi tak kutemui muasal sebab nya. Sampai suatu ketika di jalan pulang usai jumatan, saya menghardik seorang Jawa yang terang-terangan memelototi sarung saya itu: “Lihat opo mas?” sergahku. Si Jawa itu menarik mundur langkahnya meriut serupa keong, sedikit membungkuk berkata “Ga mas, sarungya bagus mas, unik” ucapnya dalam malu-malu. Saya tersenyum tapi menahannya di hati saja, tak sampai di bibir sehingga tak ia ketahui sesungguhnya jawaban nya itu menyenangkan hati saya. Setelah hardikan itu, tahulah saya bahwa musabab pelototan dan lihatan orang-orang selama ini adalah pada sarung saya, sarung berian nenek yang saya kenakan saban Jumat., sarung khas buton- Katamba Gawu.


Sarung itu adalah sarung tenunan khas Buton, halus kainnya, lembut terasa membaluti kulit, itulah paling disenangi kakek. Sebelum beliau dipanggil Tuhan ke pangkuan-Nya, sarung itulah yang selalu ia kenakan menghadap-Nya. Atau pada kali lain ketika beliau tampil menghibur orang-orang menari Ngibi, atau menari Mangaru, sarung itulah pula yang selalu ia kenakan. Maka itulah, ketika nenek memberikan nya padaku pesan tegasnya berulang beliau sampaikan “Jangan main-main dengan sarung mu!”. Melanjutkan “Kakek mu itu orang besar, dia tokoh di kampung ini, beliau menjadi tokoh bukan karena memiliki harta materi yang melimpah banyak tetapi karena laku mulia tabiatnya, karena empati dan sifat menolongnya pada sesama. Pakai kenakanlah sarungnya, moga-moga kelak kau bisa seperti kakekmu, menjadi orang besar rendah hati yang dipanuti”.


Saya memang tak sempat melihat kakek dalam hidupnya. Beliau pergi terlampau dini. Tuhan lebih mencintainya, itulah dipanggilnya cepat. Ketika beliau naik ke langit, saya belum pula nongol memasuki bumi fana ini, masih tinggal berdiam di bawah ulu hati ibu, di rahim dalam kandungan nya. Dari nenek berita jalan hidup beliau kudengar. Dulu ketika masih kecil, nenek biasa berdongeng tentang seorang tua yang baik hati. Dia pelayar ulung, tangguh melawan angin dan gelumbang laut samudera, hanya dengan perahu berlayar tak bermesin ia melayari laut utara Jawa dan menyinggahi pelabuhan kota kota di pesisir utara Jawa bahkan hingga ke Sangkapura (Singapura) dan Malaya. Di sana ia memenuhi lambung kapalnya dengan segala barang khas Jawa dan Singapura untuk dibawa pulang sebagai ole-ole di kampung. Belakangan tahulah saya bahwa seorang tua baik hati dan pelayar ulung tangguh yang selalu didongengkan nenek itu adalah kakek saya sendiri, kakek yang mencintainya sebagaimana ia mencintainya, mencintai tulus sepenuh hati.


Saya memang sangat dekat dengan nenek, telah dari kecil saya diambil tinggal bersamanya. Ketika kedua orang tua saya naik ke langit dipanggil Tuhan kepangkuan-Nya. Neneklah yang kemudian mengganti mengambil tugas tanggung jawab kewajiban mereka. Beliau menyapih dan menyusu saya, mengunyah makanan dimulutnya sebelum kemudian diberikan ke mulut saya. karena kasih besar yang melimpah itu, jauh di hati saya kemudian membiak kasih yang membuncah luarbiasa pula pada beliau. Dulu ketika masih kecil saya samasekali tak bisa dijauhkan dari nenek, tak bisa dipisah dari nenek. Nenek adalah oase pelepas dahaga di tengah gurun, adalah cahaya pengusir gelap di tengah gulita. Saya tak henti mengucap syukur kepada Tuhan Maha Pengasih yang telah memberi beliau umur yang panjang sehingga bisa merasai sayang kasihnya. Saya menyimpan nasehat-nasehat nenek dalam akal ingatan saya. sehingga itulah kini, lima puluh tahun usia umurku, kata-kata nasehat itu masih terkenang-kenang tinggal dalam ingatan, menjadi spirit yang membangunkan, menjadi cambuk yang memotivasi. Awalnya saya memaki Tuhan karena Ia terlampau dini memanggil ayah ibuku, terlalu dini menjadikan saya yatim piatu. Tapi rupanya benar, selalu ada baik yang tersembunyi di balik buruk rupa musibah. Yang tidak kita ketahui diketahui Tuhan. Dia mengambil ayah ibuku tapi memberi saya nenek, nenek yang pengasih penyayang dan baik hati. Dalam hati saya kemudian sungguh-sungguh mengucap janji tak nanti kubuat beliau kecewa. Akan saya sekolah tinggi-tinggi sebagaimana ingin maunya agar kelak beliau bangga. Dulu ketika di SD, beliau sendiri selalu datang ke sekolah mengambilkan rapor saya. dan ia begitu sumringah, air mukanya ceria cerah melihat nilai berderet-deret Sembilan dan delapan berganti-gantian. Dalam duduk ia menggamit tangan saya, menarik saya masuk dalam pelukannya, dan membisiki: “Kau akan jadi orang besar Nak, rangkingmu 1 di kelas, otak mu cerdas serupa kakek mu, akal mengingat mu kuat serupa bapak mu”. Melanjutkan: “Kau harus sekolah Nak, harus terus sekolah. Ada sedikit emas sangkapura tinggalan kakek ambil dan jual itu untuk bekal mu kelak, tak usah memikirkan nenek, diumur setua ini saya telah terbiasa dalam kemiskinan, telah terbiasa berkekurangan. Kita boleh miskin harta, janganlah pula miskin ilmu. Tuhan ini tak tidur, hamba-Nya dalam amatan-Nya terus-terus. Ia selalu adil, melebihkan sesuatu sekaligus pula mengikutkan kekurangan pada sesuatu itu, pun sebaliknya mengurangkan sesuatu sekaligus mengikutkan pula kelebihan pada sesuatu itu. Kau lihat, ada banyak orang kaya berlimpah materi di sana tapi tak satu anak nya pun bersekolah karena kurang kuat daya ingatnya, kurang cerdas otak akalnya? Kau jangan berkecil hati Nak, teruslah kuat berusaha.


*****


Dan kini, dalam lima puluh tahun usia umurku, saya pulang dari pengembaraan melarungi tanah Jawa, lalu kemudian menetap tinggal di selatan Sulawesi, mengabdikan diri sebagai pendidik berbagi ilmu pengetahuan di sana. Semangat dan doa nenek menjadikan saya dimudahkan terus sekolah sehingga sampai di puncak titel, meraih gelar Doktor. Tak lama berselang gelar sebagai Guru Besar datang menyusul pula berderet di namaku. Maka ketika lebaran kemarin saya pulang dalam sematan Guru Besar di muka nama saya, sebagai Profesor, gelar kehormatan mulia tertinggi akademik. Saya gelisah disepanjang jalan, membayangkan bagaimana nanti nenek menyambut saya, bagaimana nanti saudara-saudara saya menyambut kakak yang lama tak berkabar meninggalkan mereka. Benar saja, ketika mobil yang saya tumpangi berhenti di muka rumah, di teras telah berdiri nenek, pada kiri kanan nya berderet adik-adik saya mendampinginya, juga beberapa tetangga dan sahabat masa kecil ikut berdiri menyambuti. Tetapi saya tak langsung turun, dari balik kaca mobil yang gelap saya mengamati muka nenek lekat-lekat, melihat wajah saudara-saudara saya, menyaksikan para tetangga dan sahabat-sahabat masa kecil dalam ceria yang sumringah. Saya tak kuat, air mata saya membulir lantas jatuh bergulungan menyeberangi pipi saya. segera saya menyekanya, mengatur muka agar kelihatan sumringah dalam senyum.


Nenek berdiri menyambut di muka pintu tempat dulu saya dia lepas pergi. Tampak dia telah renta, mengeriput kulit muka wajah dan seluruh badan nya. Rambut yang dulu mengilap hitam, kini berganti putih, masih panjang menjuntai seperti dulu. Ia sanggul kebelakang rambut nya itu agar tak sehelai pun menghalangi pandangan nya ke padaku. Ia tampak lemah, usia telah mengambil tenaga kekuatannya. Tetapi karena girang, ia memaksakan terus tegak berdiri menyambut datangku. Tak ada memang kegirangan bagi seorang ibu, selain kegirangan mendapatkan anaknya kembali pulang. Melihat saya turun dari mobil dia menangis hingga bergetar kaki badan nya, terisak sebelum sampai saya memeluknya. Saya menyepatkan langkah sehingga bisa segera dapat memeluknya. Dalam berpeluk itu ia tak berhenti terisak, tangisnya malah menaik menjadi sesenggukan. Ia menangis seperti anak kecil, seperti tangis saya dulu dipeluknya. Kubiarkan pundak saya disandari dagunya, kurasai kerak kain di pundak kemeja saya basah oleh air matanya, disitu itu saya tak kuat, mata saya sebak karena air yang membulir. saya ikut pula terisak-isak. Kami bertangisan di tengah mata adik-adik saya, para tetangga dan sahabat-sahabat kecil saya yang juga sebak menangis karena haru. Bukan tangis sedih berduka, tetapi tangis senang berbahagia..


Setelah puas menumpah tangis, nenek terkasih itu melonggarkan pelukan, ia menarik dagu dari pundak saya, mendongakkan mata kepala ke wajah saya. dan seperti menyelidik ia berkata: “kau seperti kakek mu tinggi kurus semampai, telah dua puluh tahun lebih kau tak kulihat dah telah sebegini gagah berwibawa kamu. Persis kau tak berbeda kakek mu. Jidat alis nya ada kulihat pula pada kau, mata kau itu mata kakekmu, tajam tapi penuh lembut. Hidung mu saja yang hidungku kau ambil, pesek tak mancung membundar serupa tomat, juga lesung pada pipi mu itu punya saya. Mana sarung kakek mu berian saya dulu, kau baik-baik menjaga nya kan? Kau tak bermain-main dengan sarung itu kan? Kau ikut membawanya pulang kan?”. Duh nenek terkasih ini selalu saja sarung diingatnya. Dulu ketika pergi sarung inipula berulang-ulang beliau ingatkan ke saya. saya pergi berangkat di pintu yang sama, pulang disambut di pintu yang sama dengan berondongan tanya yang sama pula, soal sarung…

****

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB