Tari Yang Menarik Hati, Tari Yang Menarik Nyali

Tuesday, 25 October 2011 0 komentar


Pada seminggu yang lalu, tepatnya 18 Oktober 2011 atau 20 Dulkaidah 1944 Be dalam hitungan kalender Jawa, Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwono X dan GKR Hemas menikahkan putri bungsu mereka. Gusti Raden Ajeng (GRAj) Nurastuti Wijareni atau dalam gelar bangsawan nya dipanggil sebagai Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara dengan seorang lelaki bukan bangsawan. Seorang muda yang datang tidak dari trah aristokrasi elit yang kental kuat tradisi Jawa nya. Adalah Ahmad Ubaidilah lelaki beruntung itu, ia mendapatkan cinta dan hati gadis Kraton penguasa tanah Jawa yang kental kultur adat budaya nya. Maka merekapun naik ke pelaminan dalam prosesi nikah agung sangat meriah. Sepenuh badan jalan Malioboro disesaki manusia dalam sorak bersukacita memberi restu dan penghormatan pada iring-iringan kereta pengantin yang berjalan lambat dari Keben Kraton Jogjakarta ke Bangsal Kepatihan. Dengan menikah itu, ia telah ikut menderetkan dirinya dalam trah keluarga Kesultanan Ndalem Mangkubumen pelindung dan pelestari tradisi adat budaya tanah Jawa, dan ia pun kemudian mendapati dirinya dalam gelar sangat mulia sebagai Ngarsa Dalem Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Yudanegara.



Di Buton yang dahulu adalah juga kesultanan akan sangat fatal sekali jika ada seorang perempuan bangsawan menaruh hati apalagi sampai menikahi seorang lelaki yang bukan bangsawan. Nampak sekali aturan mengenai ini diberlakukan sangat ketat sekali. Jika ada seorang wanita bangsawan kaomu jatuh hati dan kemudian menikahi seorang lelaki bangsawan yang bukan dari klan mereka atau bukan bangsawan maka ia akan disingkirkan dari klan kekaomuannya itu. Seseorang itu akan mendapati dirinya terasing sendiri dan kemudian pada nya disemati gelar sebagai Amandawu atau biasa pula disebut sebagai Analalaki—seseorang yang diturunkan derajat kebangsawanan nya. Meskipun sekarang tidak lagi sangat ketat sebagaimana dahulu itu tetapi tetaplah saja garis turunan menjadi masih sangat diperhatikan. Seorang lelaki yang bukan bangsawan harus membayar mahar dalam istilah lokal boka yang jauh lebih besar pada perempuan bangsawan calon pengantin yang disuntinginya. Pun sebaliknya begitu lelaki bangsawan (laode) tak akan mendapati dirinya ‘disusahkan’ jika yang ia nikahi adalah seorang perempuan bukan bangsawan. Tema mengenai ini akan nanti saya tulis khusus dalam satu catatan sendiri, sekali ini yang akan kutulis dahulu adalah perihal tari, tari yang menarik hati, tari yang menarik nyali..


******


Ketika para abdi dalem Kraton Jogjakarta tengah sibuk dalam persiapan menyambut nikah agung ngarsa dalam pada seminggu lalu, saya berkesempatan mengunjungi keraton untuk melihat-lihat persiapan itu. Empat hari sebelum hari H pelaksanaan nikah agung itu seluruh sisi dalam keraton masih dibuka dan boleh dikunjungi umum. Maka saya yang terkategori umum ini bisa masuk leluasa melihat-lihat sisi keraton hingga ke dalam-dalam termasuk menyaksikan persiapan gladi dan latihan tari Bedhoyo Manten, tari yang dipilih menjadi salah satu yang akan dipanggungkan.



Tari Bedhoyo Manten adalah tari persembahan yang hanya ditarikan khusus pada pernikahan putera puteri raja/sultan penguasa tanah Jawa. Tari ini ditarikan oleh para gadis yang masih harus perawan, busananya seperti busana pengantin perempuan. Tari ini mengisahkan perjalanan sepasang manusia dari kecil sampai memasuki gerbang rumah tangga. Di bangsal kepatihan, tari ini hanya akan ditarikan selama 30 menit dari durasi yang seharusnya sekitar satu jam karena pertimbangan efisiensi waktu


Mula-mula saya tak begitu tertarik dengan tari-tarian, tetapi sejak melihat tari di pendopo kraton itu entahlah seperti hati saya ditarik-tarik ikut menari. Saya kemudian jadi menikmati setiap dentum gamelan, setiap bunyi gong yang dipukul bertalu. Dentum gamelan dan bunyi gong yang dipukul teratur itu melahirkan irama harmonis sekali. Sesuatu yang dulu tak saya minati ini tiba-tiba saja berganti menjadi saya gandrungi, maka segera saja ketagihan menjadi sesuatu yang saya rasai setiap kali pertunjukan tari itu usai. Tari yang menarik ini benar-benar telah menarik hatiku dan menempatkan nya dalam bingkai kuasa nya untuk terus menyukainya. Saya seperti terpaku tak mau bergegas, semua perhatian saya tumpah tertuju di tari yang sedang dilatihkan itu. Ini masih dalam latihan dan telah begini menarik luarbiasa, bagaimana jika telah sesungguhnya tampil dipanggungkan ya? Pastilah akan sangat luarbiasa.



Dan saya hanya bisa menyaksikan di tivi lokal saja ketika tari itu dipanggungkan. Saya bukan abdi dalem, bukan pula ngarsa dalem pun tidak kerabat kraton, sehingga tak boleh masuk mendekat. Tiga hari sebelum pelaksanaan nikah agung, kraton telah steril dari kunjungan orang luar. Ia ditutup untuk umum. Selain abdi dalem dan ngarsa dalem serta kerabat keraton seorangpun tak boleh mendekati apalagi memasuki gedung agung itu.


Melihat tari dipanggungkan di televisi, sensivitas emosional nya ternyata jauh berbeda dibanding ketika saya melihatnya langsung di pendopo kraton. Ada rasa yang tak sekuat ketika saya melihat secara langsung tari itu ditarikan. Tapi sakralitas mistis setiap gerak gemulai badan tangan penari masih cukup terasa. Dalam kelembutan dan kehalusan setiap gerak ada kekuatan, dalam gemulai lentur yang lincah ada kealotan yang tegas, kuat.


Di Buton sebenarnya juga kaya beragam tari nya. Dulu ketika masih kecil, saya masih melihat kakek saya menari Ngibi, atau pada kali lain beliau turun pula menari Mangaru. Tari Ngibi dan Mangaru ini dua jenis tari paling saya ingat selain Linda, Balumpa, Wande-Wande, Kalegoa, Batanda, Alionda, Honari dan lain nya. Tari Ngibi terakhir kali saya lihat pada setahun yang lalu ketika prosesi Bongka a Tau di Benteng Kota Umbunowulu. Tari itu ditarikan oleh kaum muda Umbunowulu dalam berpasangan laki-perempuan. Sungguh memukau gerak langkah kaki mereka, sungguh gemulai gerak tangan mereka. Tari yang ditarikan para gadis gemulai memang menjadi tontonan menarik. Sayang sekali jika kemudian tinggalan budaya seperti ini harus punah oleh sikap abai kita sendiri, oleh sikap tak peduli kita pada kebudayaan sendiri. Tari Ngibi adalah tari tradisional yang ditarikan dua orang berpasangan tua maupun muda dengan gerakan-gerakan indah dan berirama refleks. gerakan -gerakan dalam tari Ngibi melihatkan kelincahan seorang perempuan untuk menghindari sentuhan lelaki secara lembut, penuh waspada namun sangat sopan.


Selain tari yang menarik hati, terdapat juga tari yang menarik nyali di Buton yakni tari Mangaru. Tari Mangaru adalah tari perang dan unjuk kesaktian. Tari ini ditarikan tidak sembarang orang, hanya mereka-mereka ‘berilmu’ saja berani ikut masuk menari. Tiga kali saya menyaksikan tari mistis ini usai lebaran idul fitri kemarin. Di desa Nepa Mekar Lakudo ini adalah tari yang mentradisi di sana dan pada umum nya di banyak daerah Buton. Dulu tari ini rutin sekali setahun dilaksanakan yaitu setiap usai lebaran atau setiap usai musim panen sebagai tanda bersyukur, tetapi sejak ada penari yang terburai usus perutnya karena tikaman menusuk lawan tarinya, tradisi ini dihentikan. Baru di tahun ini, usai lebaran kemarin kaum muda mahasiswa di desa itu memelopori pelahiran dan penerusan tradisi ini kembali. Maka tiga hari usai lebaran kemarin gendang tari Mangaru bertalu lagi setelah tak terdengar lebih sepuluh tahun lamanya. Bondongan orang kemudian datang bergerombol mengerumuni sumber suara gendang bertalu itu. Orang-orang telah banyak berkerumun di situ tapi penari satu pun tak ada kelihatan. Saya kemudian menanyai seorang tua pemukul gendang kelihatan ia bersemangat sekali, dengan santai beliau menjawab “Mereka nanti akan datang jika telah selesai Makanu”. Makanu adalah semacam samadi 'mengisi diri' dan meminta lindungan Tuhan maha kuasa. Dan benar saja, tak lama berselang datanglah beberapa orang tua, menyandang pisau parang pada tangan nya. Mengikut irama gendang mereka masuk arena dan berputar menari-nari mengundang lawan bertanding sakti. Seperti sedang kerasukan mereka menusuk nusukan pisau keris yang terhunus telanjang di badan mereka sendiri, tak ada luka tak tersobek kulit. Badan kulit mereka kebal menembaga pertanda makanu mereka sukses berhasil, berkat lindungan Tuhan beserta mereka. Maka berlanjutlah itu tari unjuk sakti dalam gerak jingkrak saling tikam menusuk. Meskipun tak sekasar dan sekeras dulu, tari ini masih kuat menguji nyali. Kawan nonton di samping saya sampai harus menarik diri dan pergi meninggalkan arena tempat bertari Mangaru karena tak kuat nyali melihat pisau keris dan parang dihunus telanjang tanpa sarung lalu kemudian dipakai saling tikam menusuk. Sayang sekali kesibukan mengambil gambar dalam video membuat saya lupa mengabadikan momen itu dalam bentuk gambar foto. Tapi sebagai ilustrasi saya mengambilkan gambar tari Mangaru dari blog saudara Yusran Darmawan, moga-moga beliau tak berkeberatan.




Berlanjut…,

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB