Meriahnya Jogja Java Carnival 2011 dan Muramnya Even Budaya Kampung Saya

Saturday, 22 October 2011 0 komentar


Lagi–lagi Jogja membuktikan diri sebagai Kota Budaya yang hidup. Dalam rangkaian peringatan hari jadi kota ini yang ke 255, sebuah event karnaval budaya dihelat; Jogja Java Carnival (JJC) 2011. Jogja Java Carnival ini mengangkat tagline Celebration of Cultural Unity dan mengambil tema Magnificence World atau Magniworld. Memulai start di Jalan Abu Bakar Ali, Melalui badan Jalan Malioboro dan finis di Alun Alun Utara Kraton Jogjakarta. Arak-arakan peserta karnaval berjalan lambat menampilkan atraksi seni budaya masing-masing. Di Sepanjang jalan Malioboro hingga di Alun-Alun Utara Kraton Jogjakarta telah seperti panggung tempat berunjuk kreasi budaya, masing-masing peserta karnaval melombakan kreasi untuk tampil paling baik. Sungguh memukaukan mata.


Karnaval ini diramaikan beberapa sanggar budaya yang telah mapan terkenal seperti Sanggar Dewata Indonesia yang dalam arakan nya menghadirkan patung Sphinx dan Piramida yang mengacu pada era runtuhnya Firaun Ramses II dengan visual Sphinx penjaga makam suci piramida. Semua sketsa visual itu dibuat dalam bentuk robotik yang bisa digerakan serupa asli. Sanggar ternama lain nya yang turut mengambil andil adalah Teater Garasi Enterprise. Kelompok teater ini menampilkan Liberty di Jalan Kebudayaan Yogyakarta” menariknya liberty yang simbol Negara Amerika itu diusung menggunakan andong dan dibuat dari alat-alat rumah tangga seperti panci, ember, kain pel, sendok, loyang, dan lain-lain. Karnaval diramaikan pula oleh parade sketsa beberapa keajaiban dunia yang muncul di Kraton Yogyakarta seperti serigala Babilonia, taman gantung Babilonia, kuda Troya yang menjadi legenda ketika Yunani menginvasi Troya dalam kronik perang Yunani-Troya, juga sebarisan pasukan Gladiator dengan pakaian lengkap bertameng menyandang tombak parang berjalan tegak sepenuh wibawa


Dan saya harus berdesakan, sesekali mendongakan kepala pula sehingga bisa melihat dengan jelas arakan karnaval itu. Ada banyak sekali orang, banyak sekali muka berbaur dalam gembira, bersuka cita. Saya melihat pula ada banyak sekali bule (orang asing). Mereka terlihat paling antusias, ikut pula berdesakan bahkan diselingi menari-nari ketika musik khas Jawa yang syahdu mengalun lamban lembut. Melihat ini saya teringat kampung saya yang bermil laut jauhnya dari sini. Sesungguhnya di sana, di kampung saya tercinta itu lebih kaya adat budaya nya, lebih beragam unik khas tradisi nya. tak ada di tempat lain bahasa begitu banyak macamnya di sana, budaya adat tradisi begitu banyak ragam nya. hanya saja di sana miskin even, miskin berkegiatan budaya serupa ini. Sepertinya di sana politik telah memberantakan semuanya. masing-masing orang sibuk berkegiatan politik. Mereka lupa, hanyalah budaya yang mengadabkan politik. Budayalah yang meluhurkan politik, menyucinya dari biadab yang sesat menjadi beradab yang membaikan. vulgar norak nya anomali tampilan politik kita karena keabaian kita pada adat budaya sendiri yang di sana ada saling mengasihi, menghormati, menghargai dan semua kebaikan lain nya.


Ya Jogjakarta begitu memesona saya. Kota ini telah membuat saya terkesima luarbiasa. Pada keteguhan mereka memegang adat budaya. Pada kekuatan dan ketangguhan mereka menghadapi akulturasi dan intervensi budaya luar. Di jaman yang telah terbuka modern ini mereka masih terus kukuh bergelut menggauli budaya nya sendiri. Pada beberapa bulan yang lalu saya begitu kaget ketika mereka yang lemah gemulai ini tiba-tiba sontak marah. Saat Sri Sultan yang adalah simbol tertinggi keagungan adat budaya mereka akan nanti tak otomatis sebagai penjabat Gubernur. Mereka yang kalem bersahaja ini tiba-tiba bangkit amarahnya, tersulut murka dan kemudian terlihat kasar. Tanpa pengerahan, mereka datang sendiri-sendiri berkumpul di Alun-Alun Kraton dan memadati lapangan itu menunjukan kesetiaan. Tanpa komando kemudian mereka berkoor dalam seruan satu suara menolak itu wacana pemerintah pusat dan mereka bersikukuh setuju penetapan dan menolak pemilihan. Saya kemudian membayangkan jika saja di Buton kesultanan tak mati, mungkin hal serupa akan terjadi, bupati ditetapkan saja dan tak perlu melalui pemilihan yang memantik intrik dan perilaku anomali jahat lain nya. Sehingga kemudian kita tak perlu pula malu bahwa kejahatan segelintir orang kita itu menjadi kita tanggungi pula bersama karena aib itu kemudian di buka dan ditelanjangkan di muka umum (sidang MK) sehingga orang-orang senasional mengetahui. Jika pada soal melahirkan pemimpin saja kita telah tak jujur maka bagaimana mau melahirkan pemimpin yang jujur? Benar-benar ini politik telah memberantakan, membenamkan budaya ke sedalam-dalam nya jurang kelam kemerosotan.



Ah, jika saja Buton masih dalam kesultanan. pastilah adat budaya akan pula ikut lestari dan terjaga, nilainya akan terus melanggeng dalam laku perbuatan kita sehari-hari. Semoga saja nanti janji para leluhur benar terbukti adanya bahwa muasal kebangkitan akan di mulai di tanah Butuuni..,


0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB