Benteng Liwu Lakudo

Sunday, 30 October 2011 0 komentar

Pintu Utama Benteng Liwu Lakudo


Sangat susah mencari rujukan tertulis untuk melihat sejauh mana peran dan kontribusi kadie (wilayah bawahan kesultanan setingkat desa) selama dalam masa kerajaan dan kesultanan kecuali hanya dalam beberapa sumber lisan saja. Hanya ada sangat sedikit informasi lisan maupun tertulis mengenai Benteng Liwu Lakudo yang bersumber dari luar. Itulah kemudian catatan ini sebagian besar informasinya dipasok dan kemudian jalan kisahnya dibangun dari perspekstif lokal orang-orang Lakudo sendiri. Terlepas dari mungkin unsur subjektifitas yang kental, pun dengan rentang kejadian yang terpaut ratusan tahun setelah kejadian yang sesungguhnya, suatu jarak waktu yang nisbiah lama dan terlalu berlebihan, sehingga melahirkan cerita-cerita lisan dengan berbagai macam versi, versi Wolio dan versi Lakudo, versi istana dan versi desa/kadie. Maka waktu kejadian itu diceritakan sudah tak dapat ditemukan kembali pelukisan kejadian yang sebenarnya. Selain itu ditambah dengan tradisi pada umum nya orang Buton yang terlalu hati-hati dalam menuliskan raja-raja atau dinastinya yang masih berkuasa, para perawi dan pengisah terpaksa menempuh jalan berkias yang metaforis. Sehingga pembaca atau pendengar berabad kemudian juga terpaksa harus dapat membuka kunci-kunci bahasa kias yang metaforis itu untuk dapat memahami maksud-maksud sebenarnya mereka.

Kerasnya feodalisme Buton masa lalu, bahkan mungkin hingga kini telah melahirkan kehati-hatian para perawi/pengisah/juru tulis. Suatu kehati-hatian yang keras berlebih-lebihan untuk tidak menggunakan kata kelemahan watak pada penguasa. Untuk tidak menceritakan kurang dan keburukan jalan pemerintahan, sehingga itulah kini kemudian kita disuguhi cerita kisah kehebatan penuh heroik dan keagungan berlebihan negeri ini selama dalam masa kerajaan hingga kesultanan. Hampir tak kita temui dan memang sangat sedikit diceritakan seterangnya kisah-kisah kelam memilukan negeri ini, itulah kemudian kita seperti tergagap-gagap tak mampu mencari jalan keluar pada setiap persoalan yang membelit karena kita tak diajari bagaimana berhadapan dengan persoalan yang dari itu mencari jalan keluar. Berhadapan dengan bahasa kias yang metaforis adalah berhadapan dengan teka teki dua muka: historis dan daya imajinasi pengisah/pencerita. Setiap tafsiran atau uraian padanya bisa keliru. Biarpun begitu tak ada jalan lain bisa ditempuh selain melalui tafsir itu saja. Penerimaan mentah-mentah oleh pendengar/pembaca, bukan hanya tidak bisa dibenarkan, tapi juga sudah tidak bisa ditenggang lagi, terlalu kedongeng-dongengan dan sungguh tidak mendidik, dan catatan mengenai Benteng Liwu Lakudo membawa kita pada sesuatu yang baru, sesuatu itu yang selama ini berdiam tinggal di luar pengetahuan kita.

Melihat kampung Gu dari sisi Utara Benteng liwu Lakudo


Atap pintu masuk utama teronggok jatuh ke tanah.
Butuh perhatian masyarakat yang peduli pada budaya peninggalan leluhur



Sisi Utara Benteng Liwu Lakudo

Lakudo adalah sebuah kadie yang dikepalai Lakina di masa kesultanan dahulu. Kini ia adalah bagian kabupaten Buton meskipun secara geografis berada di daratan Pulau Muna bagian selatan. Secara linguistis Lakudo memang memiliki relasi sangat dekat dengan Muna. Bahasa yang dituturkan di sana adalah merupakan varian bahasa Muna. Sesungguhnya varian Muna juga menyebar di hampir sebagian besar wilayah pulau Buton terutama pada bagian Timur di wilayah Kapontori, Kamaru, Barangka. Liabuku, Lowu-Lowu dan Lipu di Kota Bau-Bau. Utara pulau Buton di Kakenauwe dan sekitarnya, dan Pulau Buton Selatan di Batauga, Masiri, hingga perbatasan Sampolawa. Daerah-daerah varian Muna di pulau Buton itu kemudian mengidentifikasi diri mereka sebagai Pancana

Tak ada sumber lisan lokal yang menyebut secara pasti waktu tepat didirikan nya benteng Liwu Lakudo. Sumber lisan lokal hanya dengan fasih mengisahkan bahwa ketika Lakilaponto masih muda remaja ia biasa bersabung ayam di Liwu Lakudo. Di mata Lakilaponto, Lakudo adalah kampung yang indah tempat ia menghabiskan sebagian masa muda remajanya. Itulah ketika ayahanda nya Raja Muna keempat Sugi Manuru murka dan mengusirnya dari Muna karena perilaku tak senonohnya bersama adik sekandungan nya sendiri Wa Ode Pogo (Wakaramaguna), di Lakudo lah ia bertinggal sementara sebelum kemudian pergi ke Wamengkoli dan membawa Wa Ode Pogo menyeberangi laut di muka teluk Bau Bau untuk tinggal menetap di Kadatua. Jauh setelah itu, turunan Lakilaponto ini kemudian menjadi bakal kaomu Tanailandu, klan bangsawan paling lama berkuasa selama Buton dalam masa kesultanan. Ketika Lakilaponto naik mengganti Raja Mulae sebagai Raja Buton keenam, beliau meninggalkan Muna dan menurunkan kuasa kepada adiknya Laposasu Kobangkuduna. Pada adik nya itu beliau meminta agar Lakudo biarlah mengikut dia masuk wilayah kuasanya di Buton dan sebagai gantinya Muna akan diberi Kulinsusu daerah di Utara Pulau Buton.

*******

Goa Liangkobori d Muna

Benteng Liwu Lakudo adalah sebuah kampung tua. Jika merujuk ke sumber lisan lokal cerita Lakilaponto itu maka paling tidak Benteng Liwu Lakudo telah eksis disekitar tahun 1500-an bahkan bisa jadi jauh sebelum itu. Jika merujuk ke temuan Mudjur yang mengatakan bahwa jauh sebelum Mia Patamiana datang, pulau Buton telah berpenghuni manusia maka tesis itu menjadi ada kemungkinan benarnya. Menurut Mudjur, penghuni mula-mula Pulau Buton itu adalah orang asli tertua yang pernah hidup di dalam gua-gua purba di daratan Pulau Muna 4000 SM. Mereka ini menyebut diri sebagai suku Pancana atau oleh Belanda disebut Pansiano. Suku Pancana atau Pansiano ini kemudian menurunkan dan menjadi induk muasal suku Wakaokili, suku Kalende, suku Lambusango, suku Kolagana, suku Lowu-Lowu, suku Wapancana, dan suku Todhanga di Pulau Buton. Jika kemudian kita bentangkan jalur migrasi diaspora orang-orang Pancana itu maka tentulah mereka tak mungkin tidak melalui Liwu Lakudo karena letak Liwu Lakudo yang merupakan jalur jalan utama ke Pulau Buton. Bukti lain yang menguatkan itu adalah temuan analisis linguistik tadi yang mengidentifikasi bahwa daerah selatan pulau Muna seperti Gu, Lakudo, dan Mawasangka berkerabat sangat dekat dengan bahasa-bahasa di suku Wakaokili, Kalende, Lambusango, Kolagana, Lowu-Lowu, Wapancana, dan Todhanga. Temuan ini paling tidak telah cukup meyakinkan untuk menarik simpulan bahwa daerah dan suku-suku itu muasal moyang leluhur mereka berkerabat seturunan.

Gambar-gambar di dinding dalam Goa Liangkobori

Ketika Sultan Laelangi atau Dayanu Ikhsanuddin yang adalah cucu Lakilaponto alias Murhum naik memerintah kesultanan Buton sebagai sultan ke empat di tahun 1578 , beliau kemudian mengundangkan Murtabat tujuh. Hanya saja sorot sigian catatan ini tidak pada prestasi agung nya yang luarbiasa itu tetapi pada perilaku nakal anak darah nya sendiri. Adalah La Cila, anak darah dagingnya dari ibu bernama Dharmastahi Putri Sangia Makengkuna yang mengikuti garis nasib takdirnya. Ia bersyahwat besar dan amat sering sekali mengganggui gadis-gadis. Sebagai Sultan, Laelangi tentu marah dan tak senang melihat anomali perilaku putra yang kelak menjadi pelanjutnya itu. Maka sebelum semuanya menjadi besar dan dipakai lawan politik menyerang nya, beliau bertindak sigap. Ia mengasingkan La Cila ke tanah kakek leluhur nya sendiri; Lakudo.

Di Lakudo, La Cila berganti nama sebagai La Ode Gumpa. Ia menjadi penguasa di Liwu Lakudo dan mengambil tempat bertinggal di Kabawo. Kabawo adalah wilayat elit di ketinggian tempat raja dan turunannya berdiam tinggal, itulah turunan mereka-mereka ini kemudian digelari sebagai Kokabawono. Di kabawo inilah berdiri masjid (kini tinggal fondasinya saja), sumber-sumber lisan lokal menyebut bahwa masjid itu didirikan oleh seorang alim ulama bernama gelar Haji Pada. Haji Pada sendiri ini menurut orang-orang Lakudo sebenarnya adalah Syeh Abdul Wahid, seorang ulama penyiar Islam yang kemudian mengislamkan kerajaan Buton. Syeh Abdul Wahid digelari Haji Pada karena karomah beliau yang bersembahyang di ilalang tanpa merebahkan daun-daun ilalang itu. (kisah mengenai La Cila dapat dibaca di catatan saya yang lain berjudul La Cila dan Orang Lakudo).

******

Jalan ke Benteng Liwu Lakudo menaik dan menanjak cukup terjal. Jalanan nya dalam setapak karena belukar menyempitkan nya. Tumbuhan liar itu berbiak menjalar dan tak beraturan sehingga menutupi sebagaian besar badan jalan. Sesekali kami harus mengerait dan meminggirkan dedaunan liar itu dengan menebasnya karena menutupi seluruh badan jalan. Nampak situs ini tak mendapat perhatian, ia teronggok saja. Ketika jalan makin menaik nampak batu gunung bersusun rapi. Dulu kata beberapa orang tua batu-batu itu sampai mengilap bercahaya silau jika dikenai matahari karena seringnya diinjak dilalui sebagai jalan utama. Saya kemudian membayangkan begitu kuat-kuatnya orang dahulu sehingga mampu menyusun batu-batu besar dan menyusunya serapi dan sealot kuat begini.

di Masjid(tampak tinggal fondasi saja) Benteng Liwu Lakudo

Memasuki benteng Liwu Lakudo, kita akan disambuti beberapa makam tua yang berpetak di kiri kanan, lagi-lagi makam-makam itu nampak tak terawat, belukar merimbuni dinding makam. Bekas-bekas rumah hanya tertinggal fondasi dari batu gunung, pun bangunan lain nya setalitigauang bernasib sama, dijilati belukar yang menjalar merayap. Sangat sedikit orang yang mengetahui bahwa di Liwu Lakudo ada satu makam keramat tanpa nisan. Beberapa orang meyakini bahwa disitulah makam La Cila, alias Lakodo, alias La Ode Gumpa alias Kokabawono. Makam keramat itu memang tak terlihat seperti makam pada umumnya yang diberi tanda bernisan. Makam di sana itu tak bertanda, tak bernisan. Ia merata sedatar rata tanah yang membatu. Pada samping kiri kanan nya pohon cempaka tumbuh rindang lebat sekali. Diwaktu-waktu tak tentu banyak orang yang diam-diam datang berziarah di situ, melakukan semedi dan bermeditasi. Makam itu dinamai Kasaka terletak dalam Benteng Liwu Lakudo, di Utara, kira-kira lima puluhan meter dari mihrab tempat imam bersujud di Masjid Liwu Lakudo, dan sekali lagi orang-orang Lakudo meyakini makam keramat itu sebagai tempat berkubur La Cila, alias La Ode Gumpa, alias Kokabawono, alias sultan Mardhan Ali.

Gu, dilihat dari Benteng Liwu Lakudo

0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB