Sedikit Catatan dari Benteng Kota Umbunowulu

Sunday, 25 September 2011 2 komentar

Gambar Lawa Lakudo di Benteng Kota Umbunowulu

Saya tersentak kaget luarbiasa, Benteng Kota Umbunowulu ternyata jauh lebih sangar dan seram dari benteng di Liwu Lakudo. Mungkin karena di sana ritual upacara adat dan semua tradisi leluhur masih terus terjaga dan intens dilakukan. Saya pernah mendengar pada beberapa waktu lalu begitu sangat meriahnya ritual ‘Bongka’a Ta U’ di sana, juga prosesi sakral ‘Memberi makan’ pada sesembahan dan roh-roh leluhur mereka di sana. Ritual dan prosesi adat itu masih rutin mereka lakukan bahkan hingga kini. Ritual-ritual adat itu tak dapat kita temui di Liwu Lakudo, bahkan jangankan ritual adat, di Liwu Lakudo ada banyak sekali situs yang telah rusak/sengaja dirusak, tampak tidak terawat, miris nya lagi kita seperti bercuek saja, tak mau ambil pusing, tak ada kepedulian.


Saya memang tak pernah mendatangi benteng kota Umbunowulu sebelumnya, meskipun keinginan mendatanginya telah lama sekali terpatri. Saya penasaran sekali dan ingin mendalami dengan mendatangi situs nya langsung ke lokasinya karena Umbunowulu sangat sedikit dan bahkan tak pernah disebut-sebut dalam naskah-naskah Buton/Wolio kecuali bahwa daerah itu adalah pembangkang yang melawan dan menolak tunduk pada kesultanan Buton/Wolio. Sampai ketika Wolio memakai tangan Lakudo untuk menekuk dan memaksa mereka takluk tunduk, itupun memakai muslihat karena tak ada selain jalan itu. Siapa yang menaklukkan Umbunowulu jika memakai jalan perang dan kekerasan? Tak ada, mereka adalah orang-orang sakti dan keras yang terkenal ampuh berbisa mantera berperang mereka. Mereka dapat melayangkan berpuluh batang kayu dan memerintahnya melontar sejauh keinginan mereka. Kita tentu tak lupa bagaimana kapal-kapal penakluk kiriman kesultanan karam tenggelam di muka selat Baruta atau di muka teluk Lasongko karena hantaman batang-batang kayu kiriman mereka itu.


Maka Alhamdulillah kesempatan itu datang juga, keinginan itu terpenuhi pula. Jumat sore 23 September 2011, kira-kira pukul 16.00, saya ditemani dinda Sahlan Kokasinta bergegas dalam niat baik mengunjungi benteng Umbunowulu untuk keperluan lacak situs dan mengenali beberapa peninggalan moyang leluhur Umbunowulu. Hemat saya amat penting mengunjungi benteng kota Umbunowulu untuk melacak relasi nya dengan benteng Liwu di Lakudo serta mencari data perihal banyak hal terutama silang sengkarut dan hubungan tak harmonis mereka dengan pusat kesultanan Buton/Wolio. Memang waktu teramat singkat untuk menyibak labir yang menggulita begitu banyak di sana. Tak melebihi dua jam kami berkeliling benteng, tentu ada banyak tempat tak dapat kami jangkau terutama di lawa sisi timur dan selatan. Maka itulah ini hanya catatan singkat pendahuluan saja. Kami mengambil jalan di sisi barat dan memasuki benteng itu melalui Lawano Lakudo.


Ketika memasuki gapura Lawa Lakudo, di sebelah barat benteng itu nuansa mistis dan seram telah mulai terasa. Saya telah mengunjungi banyak benteng tapi tak merasai mistis sebegini kuat. Telah berkeliling mengunjungi Benteng Takimpo di Pasar Wajo, Sorawolio, Baadia, makam Sangia Wambulu di Baruta hingga ke Liya Togo di Wanci tapi tak sebegini menyiut nyali saya. Ucapan salam kami disambuti suara-suara aneh yang merindingkan kulit dari burung-burung yang beterbangan seperti hendak menyambut kami. Ketika kami memasuki ke dalam lagi tampak kera banyak sekali bergelantungan pada dahan pohon beringin yang tumbuh rimbun menjulang tinggi besar sekali. Pada kaki pohon beringin itu, tampak kuburan besar dipagari keliling batu gunung, ada banyak nisan di dalam nya. Saya tak sempat mengambil gambar makam itu karena seperti ada sesuatu yang membuat mata saya ciut tak mampu berlama-lama melihatnya. Dari kontur dan bentuk makamnya nampak bahwa pastilah di situ tempat berkubur orang besar dan klan keluarganya, mungkin penguasa Umbunowulu pada masa lalu. Tak jauh dari beringin itu, kira-kira lima puluh meter ke barat terdapat masjid, dinding atap nya telah dipugar diremajakan. Hanya fondasi dan lantai nya saja yang masih serupa dulu, mungkin dibiarkan tak disentuh sehingga kelihatan asli sebagaimana bentuk nya dahulu. Ukuran besarnya tak berbeda dengan masjid di Liwu Lakudo, pun bentuk nya nyaris sama pula. Tak ada sumber baik lisan maupun tulisan yang menyebutkan perihal kapan masjid ini dibangun.



Gambar Masjid di Benteng Kota Umbunowulu



Di samping masjid, dekat sekali pada sebelah kanan nya berdiri baruga tempat saha/sara perangkat adat duduk berkumpul untuk bersidang. Fondasinya adalah susunan batu yang kokoh alot sekali kira-kira setinggi tiga meter. Baruga itu memakai dua tangga pada depan nya. Tangga sebelah kiri khusus buat perempuan dan tangga sebelah kanan untuk laki-laki. Jadi ketika menaiki baruga itu perempuan dan laki-laki tak berbaur. Masing-masing dipisah oleh tangga sendiri-sendiri. Semua tiang pancang penopang bangunan baruga diikati melilit kain putih, entahlah itu untuk tujuan apa. Pada belakang baruga itu ada pendopo/rumah kecil yang tertutup rapat dan terkunci. Konon tempat itu adalah tempat memuja dan menemui roh leluhur, biasa pula disebut sebagai tempat semedi. Tak boleh sembarang orang masuk disitu, harus ada Bhisa yang menemani. Si Bhisa inilah yang berkomunikasi secara ghaib dan menjadi perantara meyampaikan maksud tujuan kedatangan. Biasanya setiap yang memasuki pendopo itu akan diwajibkan membawa makanan sebagai sesembahan seperti lapa-lapa, telur, dan kue-kue khas lokal tradisional lain nya. Sesaji itu kemudian disimpan dan dibiarkan bermalam. Jika keesokan harinya telah tak ada itu artinya sesuatu yang baik akan terjadi karena sesaji itu telah di ‘makan’, tapi jika tidak hal sebalik nya dapat terjadi yaitu sesuatu yang buruk. Ritual ini sangat diyakini orang-orang Umbunowulu sebagai benar adanya sehingga itulah mereka tak pernah bermain-main dengan itu





Gambar Baruga Benteng Kota Umbunowulu


Tak jauh dari Lawa Lakudo, kira-kira hanya 20 meter saja masuk ke dalam, terdapat satu situs yang sangat disakralkan oleh orang-orang Umbunowulu. Sebongkah batu yang jika baik-baik dilihat mirip kura-kura, pada tengah nya terdapat lubang yang di dalam nya ada banyak sekali uang koin receh. Uang-uang koin receh itu dimasukan sebagai bagian ritual minta selamat dan beroleh rejeki. Sumber kami menyebutkan bahwa oleh orang-orang Umbunowulu batu itu disebut sebagai ‘Koncu Pasi’. Koncu Pasi adalah sebuah batu yang diyakini orang-orang Umbunowulu dapat memberi mereka selamat jika berdoa di situ. Biasa nya yang melakukan ritual doa di Koncu Pasi itu adalah mereka-mereka yang akan pergi melaut dan berlayar mencari nafkah.


Gambar Koncu Pasi.


Kisah paling heroik dari relasi Umbunowulu-Lakudo adalah mengenai muslihat penaklukan Lakudo pada Umbunowulu. Penaklukan itu adalah puncak kulminasi dan menjadi klimaks seteru Wolio-Umbunowulu. Cerita kemudian berlanjut dramatis sekali, yakni ketika orang-orang Umbunowulu yang tak mampu membawa diri untuk lari (orang-orang kempang dan cacat) memilih membuang diri ke jurang sesudah penaklukan itu. Jurang itu terdapat disebelah timur benteng kota Umbunowulu yang kemudian disebut sebagai Lawa Kae Woli-Wolio’a. Di bawah jurang itu ditanami buluh bambu yang telah diruncingkan ujung atasnya. Mereka lebih memilih membunuh diri dengan membuang badan mereka ke jurang curam yang dalam itu dari pada menerima diperintah dan harus tunduk mengabdi pada Wolio. Sebuah sikap konsistensi yang kuat sekali. Ini sesuai dengan prinsip hidup mereka yang tertulis pada batu besar dekat baruga tempat sara/saha perangkat adat mereka berkumpul rapat. Kata-kata pada batu itu kira-kira berarti begini “Kami Tak Pernah Mau Bertunduk Sembah Pada yang Nama nya Manusia”. Sebuah prinsip yang alot kuat sekali dan mereka konsisten menjalankan nya. Tak mau menghambur sujud sembah dan tunduk pada yang nama nya manusia, karena di mata mereka sujud sembah dan ketundukan itu mutlak hanya ditujukan pada Tuhan yang Maha Kuasa saja….


Berlanjut….,

2 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB