Belajar Sederhana Dari Gandhi

Friday, 19 August 2011 0 komentar


MOHANDAS Karamchand Gandhi atau populer sebagai Mahatma Gandhi adalah sebenar-benarnya tokoh pejuang yang konsisten meluruskan jalan juangnya dalam pantang kekerasan. Ia yang sangat sederhana, berperawakan kurus badannya, tidak terlalu tinggi tubuhnya, dan hanya memakai selalu kain putih yang dibalutkan sekeliling badannya. Gaya berbicaranya sungguh lemah lembut, tenang dan tidak berapi-api, tetapi amat memukau. Dialah yang menginspirasi dan meniup roh berjuang tanpa senjata, tanpa kekerasan melalui yang ia sebut ahimsa pada berjuta rakyat India. Dialah yang berdiri memimpin rakyat India menentang kekuasaan kerajaan Inggris, yang ketika itu merupakan kekuasaan terbesar di dunia.

Ia juga memimpin demontrasi damai ribuan rakyat India ke pantai laut untuk menentang peraturan orang Inggris yang melarang rakyat India menghasilkan garam dari lautan tanah air mereka sendiri, meskipun karena perbuatannya itu ia kemudian ditangkap dan dibuikan. Tapi penjara yang pengap dan lembab tak membuatnya ciut nyali dan memudarkan semangat juangnya. Dari balik jeruji selnya ia melakukan protes melawan dengan berpuasa. Protes melawannya itu selalu saja akhirnya berhasil secara moral menekan orang Inggris untuk mundur selangkah demi selangkah. Penjajah negerinya itu akhirnya kehabisan akal dan frustrasi menghadapi cara melawan yang menurut mereka aneh itu




Gandhi adalah sedikit sosok manusia mulia sederhana yang pernah ada di muka bumi ini. Sangat susah dicarikan sama sandingannya, ia ulet dan kuat sabar memintal sendiri benang untuk kainnya. Mencintai sepenuh hati kedua orang tuanya. Suatu ketika ia amat menyesal dan terpukul sekali, ia merasa bersalah dan amat berdosa sebab tidak dapat hadir pada saat ayahnya wafat karena sedang “berada” dengan istrinya. Karena sebab itu, ia kemudian memutuskan untuk menghentikan hubungan kelamin dengan istrinya selama ia hidup.

Putusan mahaberat itu ia ambil dengan sepenuhnya sadar dan diusia yang masih sangat muda, hanya amat sedikit lelaki dan suami yang akan dapat mengambil putusan demikian dan mempertahankannya sepanjang hayatnya. Gandhi berhenti berhubungan kelamin dengan istrinya, dan tetap tidak melakukannya dengan wanita lain. Yang menambah keharuan adalah betapa sang istri dengan penuh pasrah telah pula menerima putusan sang suami ini.



Ia dengan lugu mengurai agama dan konsep Tuhan dari berai yang sungsang dan interpretasi yang pelik kaku dogmatis menjadi gamblang dan begitu sangat sederhana. Meskipun ia penganut yang taat agama Hindu, ia tak serta merta egois menyebut Hindu sebagai paling benar. Penghormatannya pada agama selain Hindu sama besarnya dengan penghargaanya pada agama Hindu anutannya. Di matanya agama ibarat jalan yang berbeda-beda namun menuju ke titik yang sama, menurutnya selama kita sampai ditempat yang sama, tentu tidak menjadi masalah, pada kenyataannya, mungkin banyaknya agama sama dengan banyaknya individu.

Tuhan telah menciptakan berbagai keyakinan yang berbeda-beda, sebagaimana Ia telah menyiapkan penganutnya masing-masing. Sikap toleran dan keyakinan kuatnya pada Tuhan itu sebagaimana terlihat jelas dalam kata-kata teguh di autobiografinya “Saya belum pernah melihat-Nya, begitu juga saya tidak mengenal-Nya, saya telah ikut menerima keyakinan dunia akan Tuhan. Ada suatu kekuatan misterius yang tidak terlukiskan mengenai segala sesuatu. Saya merasakannya, walaupun saya tidak dapat melihatnya.

Kekuatan yang tidak tampak ini membuat dirinya dirasakan, tetapi tidak dapat dibuktikan. Secara samar-samar saya merasakan bahwa jika segalanya disekitar saya selalu berubah-ubah, selalu menglami kematian, yang mendasari perubahan itu adalah suatu kekuatan hidup yang tidak berubah-ubah, yang menyatukan semua itu, yang menciptakan, memusnahkan dan menciptakan kembali segala sesuatu. Kekuatan atau jiwa itu adalah Tuhan. Dan karena tak ada barang lain yang saya lihat melalui pancaindera dapat atau bahkan bertahan, maka Dia-lah yang tetap abadi”



Di mata Gandhi Tuhan adalah kekuatan penuh kebaikan dan kebajikan karena dalam kesaksiannya ia melihat di tengah-tengah kematian kehidupan tetap bertahan, di tengah-tengah kebohongan kebenaran bertahan, dan di tengah-tengah kegelapan cahaya pun bertahan, oleh karena itu beliau sampai pada simpulan bahwa Tuhan itu adalah kehidupan, kebenaran dan terang. Dia adalah Kasih yang mengasihi, Kuasa yang melindungi. Tuhan adalah Kebenaran dan Kasih. Tuhan adalah etika dan moralitas. Tuhan adalah tidak menakutkan. Tuhan adalah sumber cahaya dan kehidupan. Tuhan adalah hati nurani, bahkan Dia adalah ateismenya seorang ateis. Secara keseluruhan Tuhan Maha Pengampun karena Dia senantiasa memberi kesempatan kepada manusia untuk menunjukan penyesalan.


0 komentar:

 

©Copyright 2011 La Yusrie | TNB